Bekasi – Sore di Pekayon Jaya terasa berbeda pada Rabu (12/11/2025). Di sebuah gang kecil di wilayah RT 03 RW 02, ratusan warga sudah berkumpul, menunggu kedatangan Anggota DPRD Kota Bekasi, Syafei. Bukan untuk acara seremonial, melainkan untuk menyampaikan langsung keluhan dan harapan mereka pada sang wakil rakyat.
Suasana berlangsung hangat, penuh tawa, namun juga sarat dengan uneg-uneg. Dari persoalan jalan berlubang, banjir yang tak kunjung reda, sampai kebutuhan alat timbang Posyandu—semuanya mengalir tanpa basa-basi.
Keluhan Klasik: Jalan Rusak, Gorong-gorong, dan Lampu Mati
Warga dari RW 02 dan RW 022 silih berganti menyampaikan masalah di wilayah mereka.
“Kalau hujan sebentar saja, air langsung meluap karena gorong-gorongnya sempit,” ujar salah satu warga dengan nada cemas.
Masalah tak berhenti di situ. Beberapa ruas seperti Jalan Laskar Dalam, Gang Kong Rohmat, hingga Jalan Haji Tamud disebut masih penuh lubang dan jarang tersentuh perbaikan. Malam hari pun tak kalah suram—lampu jalan di Laskar Raya dan Laskar Dalam banyak yang padam.
“Gelap, apalagi kalau anak-anak pulang ngaji malam, jadi rawan,” keluh warga lainnya.
Dari Posyandu hingga Marawis, Aspirasi Warga Mengalir
Tak hanya infrastruktur, kebutuhan sosial dan kesehatan juga mencuat. Kader Posyandu meminta alat timbang, pengecek gula darah, dan kegiatan gizi rutin, sementara majelis taklim mengusulkan alat musik marawis untuk kegiatan keagamaan.
Ada pula keinginan agar wilayah mereka memiliki kantor sekretariat RW yang layak.
“Selama ini kami rapatnya di rumah warga bergantian, semoga nanti bisa punya sekretariat sendiri,” ujar Ketua RW 022 dengan nada penuh harap.
Syafei: “Uang 100 Juta per RW Itu Bukan Sekadar Angka”
Mendengar berbagai aspirasi, Syafei tak tinggal diam. Ia menegaskan bahwa program dana 100 juta per RW harus benar-benar digunakan untuk kebutuhan nyata warga, bukan sekadar formalitas.
“Dana itu milik masyarakat. Saya minta camat jangan mempersulit prosesnya, tapi administrasinya tetap harus rapi supaya tidak disalahgunakan,” tegasnya.
Politisi asal Bekasi Selatan ini juga menyoroti pentingnya keterbukaan informasi dan transparansi dalam setiap kegiatan pembangunan agar masyarakat tahu ke mana uang mereka digunakan.
Bangun Bekasi Lewat Kesadaran Pajak
Bagi Syafei, kemandirian pembangunan Bekasi tak bisa lepas dari partisipasi masyarakat. Ia mengingatkan bahwa peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sangat bergantung pada kesadaran warga dalam membayar pajak.
“Kalau masyarakat taat bayar pajak, pemerintah punya ruang fiskal yang lebih luas. Itu modal penting untuk memperbaiki jalan rusak, membangun drainase, dan memenuhi aspirasi warga,” ujar Kang Dewan Syafei, sapaan akrabnya.
Reses Bukan Seremonial
Menutup kegiatan, Syafei menyampaikan bahwa reses bukan sekadar kewajiban formal, melainkan ruang penting bagi wakil rakyat untuk mendengar langsung denyut kehidupan masyarakat.
“Bagi saya, reses adalah waktu untuk mendengar. Dari sinilah kita tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan warga, bukan hanya yang tertulis di atas kertas,” ucapnya sambil menyalami satu per satu warga yang hadir.
Dengan wajah sumringah, warga pun berharap aspirasi mereka tak berhenti di catatan notulen, melainkan benar-benar menjadi bagian dari pembangunan Kota Bekasi tahun depan. (Adv)










