RJN, Cirebon- Situs Kubur Batu (Red. Spiti) sebagai hasil kebudayaan dari Nenek Moyang kita selayaknya dijaga kelestariannya, apalagi jika situs Kubur Batu yang ditemukan hanya satu satunya di Kabupaten Cirebon.
Situs yang pernah ditelati pada tahun 2014 oleh Drs. Luthfi Yondri, M.Hum tim Arkeolog dari Balai Arkelogi Bandung (BALAR Bandung) menyimpulkan jika situs Kubur Batu/Spiti yang terletak wilayah Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat merupakan hasil dari Kebudayaan Zaman Perunggu.
Ditemukannya lapukan logam perunggu setelah melakukan uji karbon di situs kubur batu, menjadi petunjuk Tim Arkeolog jika wilayah perbukitan tersebut pernah di huni oleh nenek moyang di pulau Jawa.
Perlu di ketahui jika perunggu adalah logam campuran dari timah dan tembaga. Perunggu ditemukan di Asia Barat, dimana tembaga mulai digunakan sejak 6000 SM, dan selama 3000-an SM percobaan mencampurkan timah dengan tembaga ternyata menghasilkan logam yang lebih kuat.
Kekayaan budaya terus berlanjut dimana tidak jauh dari situs kubur batu juga terdapat batu pasujudan dari era peradaban Islam yang masuk ke Nusantara, dimana menurut cerita rakyat setempat Batu pasujudan merupakan peninggalan dari penganut ajaran Islam yang mendiami wilayah perbukitan disisi selatan Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat.
Seperti yang dituturkan oleh salah seorang pelajar SMK Muhammdiyah Lemahabang, Azril sangat menyayangkan Situs purbakala yang bernilai sejarah di biarkan terlantar tanpa pagar pembatas atau di pelihara sebagai warisan budaya nenek moyang, Rabu (22/8/2018).
Azril menambahkan jika saja ada perhatian dari pemerintah maka situs ini dapat menambah pengetahuan bagi para pelajar yang ada khususnya di Kabupaten Cirebon.
“Jika saja di rawat maka peninggalan budaya nenek moyang ini bisa menjadi tempat belajar sejarah bagi para pelajar dari sekolah atau universitas lainnya,”.ungkapnya pada
rakyatjabarnews.com.
Ditambahkan Kari 50 Tahun, warga setempat mengatakan keberadaan situs kubur batu seingat dirinya sudah ada namun tidak mengetahui jelas apa isinya karena menurut cerita rakyat yang turun temurun.
“bukan sejarah yang bisa dirunut tahun pembuatannya karena waktu yang ribuan tahun dan tidak adanya pelaku sejarah yang menuliskan secara detail,” tandasnya. (ymd/RJN)
Follow WhatsApp Channel rakyatjabarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow