Proyek Pembangunan Avia Avian Industri Pipa PVC Ditutup Masyarakat

oleh -
banner 120x600

RakyatJabarNews.com, Cirebon – Proyek Pembangunan PT Avia Avian yang berdiri di bilangan jalan Cirebon-Tegal Desa Astana Mukti Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon didemo puluhan masyarakat desa setempat, Sabtu (13/1). Mereka merasa kecewa karena selama lebih dari tiga bulan proyek pembangunan berjalan, belum pernah sekali pun pihak direksi PT Avia Avian Industri Pipa PVC menemui Warga setempat.

Menurut koordinator aksi Sugiarto mengatakan, sebagai masyarakat setempat, dirinya ingin bertemu dengan pihak direksi PT Avia Avian. Karena dari awal proyek pembangunan PT Avia Avian belum menampakan batang hidungnya menemui warga Astana Mukti.

“Kami hanya ingin ketemu sama pihak direksi dari PT Avia Avian karena dari mulai Pembangunan belum pernah menemui warga setempat. Terpaksa proyek kami tutup hingga ada orang dari direksi yang menemui kami,” jelasnya saat ditemui awak media, Sabtu (13/1).

Sedangkan pada saat mengkonfirmasi kepada pihak PT Avia Avian di tempat aksi demo, Kontraktor pelaksana PT. Hek (main kontraktor) Hanjoyo mengatakan, proyek pengurugan seluas 10 hektar merupakan program yang legal dan sudah memenuhi perizinan dari dinas terkait. Bahkan sebelumnya sudah berkoordinasi dengan pihak Muspika dan desa setempat.

“Kami hanya kontraktor pelaksana, tidak bisa menjawab terkait aksi penutupan. Adapun proyek pengurugan ini sudah legal. Kami juga telah mengadakan kordinasi dengan berbagai pihak,” jelasnya.

Masih menurut Hanjoyo, proyek pengurugan sudah berjalan 3 bulan. Dan area yang telah diurug seluas 6 hektar dengan target selesai sampai bulan Februari 2018 jika tidak ada hambatan.

“Pengurugan lokasi sudah 6 hektar dan sisa 4 hektar lagi karena izin baru keluar 10 hektar. Jika tidak ada halangan, pengurugan selesai bulan Februari depan,” tuturnya.

Ditambahkan Hanjoyo, pihak kontraktor merasa sudah berkoordinasi dengan pihak setempat mulai dari Camat, Kuwu, dan Karang Taruna. Bahkan sudah koordinasi dengan warga sekitar melalui uang debu sebesar Rp 5 juta tiap bulan melalui RT dan RW di Desa Astan Mukti.

“Kami merasa aneh karena segala kewajiban sudah dilaksanakan, baik memberdayakan masyarakat maupun memberi uang debu tiap bulannya. Bahkan yang bekerja di sini dari warga setempat untuk menjaga keluar masuk kendaraan Proyek,” pungkasnya.(Ymd/RJN)

Comment