Cirebon – Tragedi memilukan mengguncang kawasan tambang pasir di Gunung Kuda, Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Jumat pagi (30/5/2025). Sebuah longsor dahsyat menimbun belasan pekerja tambang dan sejumlah alat berat ketika aktivitas penambangan sedang berlangsung. Sebanyak 14 orang tewas mengenaskan, terkubur dalam material batu dan tanah yang meluncur dari lereng curam!
Insiden maut itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu, belasan pekerja tengah sibuk memuat pasir dan batu ke dalam truk-truk besar. Tanpa peringatan, lereng gunung runtuh! Tujuh dump truk dan tiga alat berat jenis eskavator raib ditelan longsoran. Jeritan minta tolong sempat terdengar sebelum akhirnya sunyi menguasai lokasi yang berubah menjadi lautan material longsor.
Yang lebih mengerikan, lokasi tambang itu ternyata masuk dalam zona merah rawan longsor! Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, mengungkapkan fakta mencengangkan dari Bandung, Kamis malam (30/5/2025):
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Wilayah itu mempunyai proporsi probabilitas kejadian gerakan tanah lebih dari 50 persen dari total populasi kejadian. Zona kerentanan gerakan tanah tinggi merupakan wilayah yang sering mengalami kejadian gerakan tanah,” tegasnya.
Menurut Wafid, kondisi lereng di kawasan tambang tergolong ekstrem, dengan kemiringan mencapai lebih dari 36 derajat. Kombinasi dari hujan deras dalam beberapa hari terakhir dan aktivitas seismik di wilayah itu membuat tanah di kawasan tersebut masih aktif bergerak.
“Gerakan tanah lama dan baru masih aktif. Longsor ini hanya menunggu waktu,” tambahnya.
Saat ini, proses evakuasi berlangsung dramatis. Lima unit ekskavator dikerahkan untuk mengeruk timbunan material, dalam upaya menemukan korban lainnya yang kemungkinan masih tertimbun. Harapan keluarga pun mulai menipis, seiring waktu yang terus berjalan dan hujan yang kembali mengguyur lokasi bencana.
Tragedi ini menyisakan duka mendalam. Namun lebih dari itu, ini adalah peringatan keras terhadap aktivitas tambang yang dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi geologi dan risiko bencana. Berapa nyawa lagi yang harus hilang sebelum pemerintah dan pelaku tambang benar-benar membuka mata? (*)









