Kadinas Pertanian Cirebon: Kemarau Lebih Cepat 2 Bulan, Suplai Air Pertanian Berkurang lebih Cepat

- Redaksi

Rabu, 26 Juni 2019 - 06:41 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🎯 Promosikan Bisnis Anda di rakyatjabarnews.com
Hubungi Kami !

RJN, Cirebon – Musim kemarau tidak hanya menyebabkan lahan pertanian mengalami kekeringan. Beberapa daerah di Tanah Air sudah mulai merasakan krisis air bersih. Ratusan warga Sigentong, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten

Tefal, Jawa Tengah, terpaksa memanfaatkan air Sungai Sigentong. Warga memanfaatkan air Sungai Sigentong selain untuk keperluan sehari- hari, seperti mandi, memasak, juga memanfaatkan untuk dikonsumi atau diminum.

Seorang warga Desa Sigentong, Walim, menuturkan Sungai Sigentong tersebut merupakan satu-satunya sumber air yang bisa dimanfaatkan warga. Itu pun bergilir tiga hari sekali menunggu air di sungai cukup untuk diambil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tadinya tiap hari bisa diambil airnya, sekarang tidak bisa lagi,” ujar Walim, kemarin. Dia menuturkan, meski airnya keruh, warga tetap memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan rumah tangga, seperti mandi dan memasak termasuk untuk diminum.

Baca Juga :  Cibarusah Kekeringan, Bupati Bekasi Beri Solusi Jangka Panjang

Menurut Walim, warga terpaksa mengambil air sungai karena jika membeli harus merogoh kocek. “Padahal, kebanyakan orang di sini kurang mampu,” jelasnya. Untuk itu, warga berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tegal membantu memasok air bersih secara rutin selama mengalami krisis air bersih.

Memasuki awal musim kemarau ini, dua desa di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, juga sudah mengalami krisis air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro menyatakan pihaknya mulai mewaspadai bencana kekeringan yang mulai terjadi di beberapa wilayahnya.

Krisis air bersih di kawasan ini berpotensi terjadi di 114 dusun dari 71 desa yang tersebar pada 17 kecamatan di kabupaten setempat. “Iya, kita mulai mewaspadai bencana kekeringan dan krisis air bersih,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bojonegoro, MZ Budi Mulyono, Selasa (25/6).

Baca Juga :  Ngopi Santai Bersama BATIQA Hotel Jababeka

Dari Kabupaten Subang, Jawa Barat, warga di Kecamatan Pabuaran juga mengalami krisis air bersih. Untuk mendapatkan air bersih warga harus mencari ke lokasi yang cukup jauh dari desa mereka. Sumur-sumur milik warga mulai mengering.

Dalam keadaan terdesak warga terpaksa membeli air dari depot air isi ulang dengan ukuran 1 galon dihargai Rp10 ribu. “Air bersih sudah susah didapat. Untuk minum bisa beli dari depot isi ulang meski harganya naik dua kali lipat,” kata Asep Uban, salah seorang warga Desa Kedawung.

Sedot air telaga
Kekeringan yang melanda ribuan hektare areal pertanian di sekitar Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, disiasati petani di sana dengan menyedot air Telaga Merdada untuk menyelamatkan tanaman kentang mereka. Air dari telaga dialirkan hingga sejauh 1 hingga 5 kilometer.

Baca Juga :  Pabrikan Otomotif Tiongkok Resmi Kenalkan BYD di Indonesia, Tawarkan Tiga Model

Faisal, 54, seorang petani asal Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, mengatakan ada ratusan petani yang mengambil air dari Telaga Merdada. Air tersebut untuk menyelamatkan tanaman kentang mereka karena saat ini sudah tidak ada hujan.

Hal yang sama dilakukan petani di Cirebon, Jawa Barat, yang mulai menggunakan pompa air untuk membasahi sawah mereka. “Air di saluran irigasi sudah tidak bisa lagi masuk ke sawah,” ungkap Casma salah seorang petani.

Kadinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Ali Efendi, membenarkan kondisi tersebut. Menurut dia, kemarau tahun ini lebih cepat dua bulan sehingga suplai air untuk areal pertanian berkurang lebih cepat.

(red/rjn)

Follow WhatsApp Channel rakyatjabarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

APINDO Cirebon Ingatkan Polemik PT Yihong Novatex Jangan Digiring Jadi Opini
HUT ke-105, RSD Gunung Jati Perkuat Layanan Rujukan
OTT Rektor Jadi Alarm, Prof Sugianto Soroti Integritas dan Tata Kelola Kampus
Pesan Menyentuh Gus Imam Hafash di Maulid Nabi PNI Cibitung: Bayangkan Rasulullah Ada di Depan Kita
Firefighter Skill Competition 2026 di Bekasi Diikuti Puluhan Tim Pemadam Industri
Jiovanno: Tujuan Revisi Tutup Celah Hukum
KPU Kabupaten Cirebon Tetapkan 1,84 Juta Pemilih, Partisipasi Masyarakat Jadi Kunci Akurasi Data
JTT Tanam 300 Pohon di Tol Trans Jawa, Dorong Infrastruktur Hijau dan Berkelanjutan

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 12:25 WIB

APINDO Cirebon Ingatkan Polemik PT Yihong Novatex Jangan Digiring Jadi Opini

Selasa, 1 September 2026 - 06:44 WIB

HUT ke-105, RSD Gunung Jati Perkuat Layanan Rujukan

Selasa, 1 September 2026 - 06:34 WIB

OTT Rektor Jadi Alarm, Prof Sugianto Soroti Integritas dan Tata Kelola Kampus

Selasa, 25 Agustus 2026 - 11:10 WIB

Pesan Menyentuh Gus Imam Hafash di Maulid Nabi PNI Cibitung: Bayangkan Rasulullah Ada di Depan Kita

Senin, 13 Juli 2026 - 12:31 WIB

Firefighter Skill Competition 2026 di Bekasi Diikuti Puluhan Tim Pemadam Industri

Berita Terbaru

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto memberikan keterangan kepada awak media didampingi jajaran Pemerintah Kota Bekasi terkait capaian Kota Bekasi dalam Indeks Inovasi Daerah (IID) 2025, Senin (7/9/2026). Kota Bekasi menempati peringkat keenam nasional dengan skor 94,43.

Pemerintahan

Kota Bekasi Peringkat 6 Wilayah Terinovatif Indonesia

Senin, 7 Sep 2026 - 16:35 WIB