Kabupaten Bekasi – Puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tampak antusias mengikuti workshop hidroponik yang digelar di Kebun Besan, Kecamatan Cibitung, pada Sabtu (16/5/2026).
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ruang belajar bercocok tanam modern, tetapi juga membuka wawasan pelaku usaha terhadap peluang baru di sektor agribisnis.
Workshop tersebut menghadirkan Zulkarnaen, praktisi sekaligus pengusaha hidroponik, sebagai narasumber.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kesempatan itu, ia mengajak para pelaku UMKM untuk mulai melihat sektor pertanian modern sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
Menurut Zulkarnaen, sebagian besar pelaku UMKM saat ini masih didominasi usaha kuliner, minuman, hingga kerajinan.
Sementara sektor agribisnis masih belum banyak dilirik, padahal memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan.
“Tujuannya bukan hanya belajar, tetapi juga agar ilmu yang didapat bisa dipraktikkan. Mudah-mudahan ini bisa menjadi peluang baru, karena kebanyakan pelaku UMKM masih bergerak di makanan, minuman, atau kerajinan. Sementara agribisnis masih sangat jarang,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Zulkarnaen menjelaskan bahwa budidaya hidroponik cukup ramah bagi pemula.
Proses penyemaian bibit umumnya membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 10 hari sebelum dipindahkan ke media tanam.
Setelah memasuki masa pembesaran, tanaman rata-rata dapat dipanen dalam waktu sekitar satu bulan.
Namun beberapa jenis sayuran, seperti kangkung, memiliki masa panen yang lebih cepat.
“Kalau kangkung lebih cepat. Setelah semai sekitar tujuh hari lalu pindah tanam, biasanya 20 sampai 21 hari sudah bisa dipanen,” katanya.
Ia juga mengakui risiko kegagalan dalam proses budidaya tetap ada, terutama saat tanaman terserang hama. Meski demikian, risiko tersebut dapat diminimalkan apabila perawatan dilakukan secara rutin dan intensif.
“Kalau gagal pasti ada, itu hal biasa. Tapi kalau prosesnya diikuti dengan baik dan perawatannya rutin, biasanya jarang terjadi,” jelasnya.
Pada workshop tersebut, peserta juga dikenalkan dengan metode hidroponik sederhana menggunakan sistem wick atau sistem sumbu. Sistem ini dinilai cocok diterapkan pemula karena tidak memerlukan pompa maupun instalasi yang rumit.
“Sistem wick paling sederhana dan murah. Tidak pakai listrik, tidak perlu pompa. Jadi sangat cocok untuk yang baru mulai,” tutur Zulkarnaen.
Bahkan, untuk memulai hidroponik skala rumahan, masyarakat tidak perlu menyiapkan modal besar. Dengan biaya sekitar Rp100 ribu, pemula sudah dapat memulai menggunakan starter kit sederhana.
Selain itu, Zulkarnaen juga menjelaskan sistem hidroponik berbasis instalasi seperti NFT (Nutrient Film Technique) yang membutuhkan aliran air terus menerus.
Karena itu, pengguna perlu menyiapkan antisipasi ketika terjadi pemadaman listrik.Menutup sesi pelatihan, ia berpesan agar peserta tidak hanya fokus pada hasil akhir, tetapi juga menikmati proses belajar menanam.
Menurutnya, kesabaran menjadi kunci utama dalam budidaya hidroponik.
“Yang penting senang dulu menjalankannya. Karena biasanya tantangan terbesar pemula itu tidak sabar. Padahal menanam dari biji sampai panen itu ada proses yang harus dinikmati,” tutupnya. (*)





















