oleh

Walau Sudah Paruh Baya, Janda Beranak 5 ini Tidak Mau Berpangku Tangan

RakyatJabarNews.com, Cirebon – Semilir angin sepoi-sepoi menembus dedauanan yang menghijau di jalur Cipeujeh-Kamarang, Lemahabang Kabupaten Cirebon, tepatnya di perbukitan Ciwado dan Gunung Beas. Di situ terdapat sebuah warung sederhana terbuat dari anyaman bambu yang menjajakan makanan khas kampung dan minuman es serta kopi panas milik seorang janda paruh baya yang ditinggal mati sang suami asal desa setempat.

Sambil mencicipi jajanan murah meriah serabi hangat dan secangkir kopi pahit, awak media disambut senyum mengembang pemilik warung, yang bernama Encun Turnasih (50). Sudah 2 tahun lebih dirinya berjualan serabi dan rujak kangkung lebih dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Sudah hampir 2 tahun jualan serabi, Alhamdulillah masih bisa ngasih makan dari hasil usaha di sini,” terangnya, Sabtu (16/6).

Adapun kebanyakan pembelinya merupakan pengendara motor ataupun mobil yang lewat dan berhenti untuk beristirahat sejenak, sambil melihat suasana alam lembah Ciwado dari atas perbukitan Gunung Beas, dan dengam mencicipi serabi dan segelas kopi panas ataupun segelas air es.

“Pada umumnya pembeli yang mampir itu pengendara yang lewat menuju arah obyek wisata kura-kura ataupun pengendara yang menuju arah Sindanglaut,” terangnya.

Dikatakan Encun, dirinya berjualan tidak sendiri, melainkan ditemani anak perempuannya yang dropout dari bangku kelas 2 SMP Negeri 1 Astana Japura. Hal tersebut dikarenakan tidak ada biaya untuk ongkos angkutan umum, sehingga anaknya inilah yang selama ini ikut membantunya berjualan serabi dan rujak soun.

“Selama ini ditemani anak dalam berjualan, untuk menyekolahkan ke jenjang lebih tinggi tidak ada biaya,” tuturnya.

Ditambahakan Encun, berjulan serabi ditempat toang yang jauh dari pemukiman bukanlah pilihan, karena untuk berjualan di tengah perkampungan haruslah menyewa tempat. Sedangkan berjualan di area Gunung Beas merupakan tanah desa yang kosong yang hanya perlu izin kepada pemerintah desa setempat untuk berjualan demi menyambung hidup.

“Rata-rata penghasilan di sini hanya untuk menyambung hidup. Kalau lagi sepi ya hanya dapat 30 ribu sehari. Namun jika ramai bisa mencapai 50 ribu, bisa untuk ngasih makan anak,” jelasnya.

Encun berharap nasib anak-anaknya bisa lebih baik lagi. Walaupun putus di tengah jalan, namun memiliki niat mengambil kejar paket B dan Paket C agar bisa bekerja sehingga kehidupan bisa lebih baik lagi.(Ymd/RJN)

Komentar

News Feed