JAKARTA – Keselamatan berkendara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pengemudi mengendalikan kendaraan. Kondisi kendaraan, termasuk kebersihan kaca depan serta kinerja wiper dan sistem washer, turut menentukan kemampuan pengemudi dalam melihat situasi jalan dan merespons potensi bahaya.
Saat hujan turun, air yang menempel di kaca depan dapat mengurangi jarak pandang dalam hitungan detik. Kondisi tersebut membuat pengemudi lebih sulit membaca kendaraan di depan, marka jalan, pengguna jalan lain, maupun perubahan situasi di sekitar kendaraan.
Pentingnya visibilitas tersebut menjadi perhatian Bosch Mobility Aftermarket yang pada 2026 memperingati 100 tahun teknologi wiper Bosch. Momentum tersebut sekaligus digunakan untuk mendorong kesadaran masyarakat agar lebih memperhatikan kondisi wiper sebagai bagian dari kesiapan kendaraan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara global, keselamatan jalan masih menjadi tantangan besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,16 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas, sementara jutaan lainnya mengalami cedera.
Kondisi itu menunjukkan bahwa keselamatan di jalan tidak dapat hanya bergantung pada satu faktor. Kesiapan pengemudi, kondisi kendaraan, infrastruktur, dan lingkungan perjalanan harus berjalan secara bersamaan.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, Dr. Drs. Aan Suhanan, M.Si., menekankan bahwa budaya keselamatan tidak berhenti ketika kendaraan dinyatakan lulus uji tipe atau laik jalan.
Hal tersebut disampaikan melalui Kasubdit Uji Kendaraan Bermotor Kementerian Perhubungan RI, Heri Prabowo, dalam diskusi memperingati 100 tahun inovasi wiper Bosch di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, keselamatan harus dijaga sepanjang siklus hidup kendaraan, mulai dari desain, produksi, registrasi hingga masa operasional.
Ia menyebut keselamatan jalan bertumpu pada tiga unsur utama, yakni kendaraan yang laik, pengemudi yang kompeten, serta infrastruktur dan ekosistem yang mendukung.
Ketiga unsur tersebut, kata dia, harus berjalan bersama melalui sinergi pemerintah, industri, dan masyarakat sebagai pengguna jalan.
“Kegiatan seperti Bosch Safety Driving Campaign ini merupakan salah satu contoh konkret bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan industri dapat memperkuat edukasi keselamatan kepada masyarakat luas,” jelasnya.
Visibilitas Kerap Terabaikan
Di antara berbagai faktor keselamatan berkendara, visibilitas menjadi salah satu aspek yang kerap luput dari perhatian pengemudi.
Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan sebagian besar keputusan pengemudi sangat bergantung pada informasi visual yang diterima saat berkendara.
“Pengemudi mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Karena itu, visibilitas yang baik menjadi bagian penting dalam membantu pengemudi membaca situasi dan mengambil keputusan lebih awal,” ujar Yannes.
Menurut Yannes, kondisi hujan dapat meningkatkan risiko kecelakaan lebih dari 31 persen. Selain itu, kaca depan yang kotor juga dapat mengurangi efektivitas kontrol visual pengemudi.
Air, kabut, maupun sisa sapuan wiper yang membuat kontras pandangan menurun dapat menyebabkan objek di jalan terdeteksi lebih lambat. Akibatnya, waktu yang tersedia bagi pengemudi untuk mengenali risiko dan mengambil keputusan menjadi semakin terbatas.
Karena itu, kondisi kaca depan, wiper, dan sistem washer perlu menjadi bagian dari pemeriksaan kendaraan sebelum digunakan, terutama ketika kendaraan akan digunakan dalam kondisi cuaca yang kurang mendukung.
100 Tahun Inovasi Wiper Bosch
Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, mengatakan perkembangan teknologi harus tetap berorientasi pada kebutuhan manusia, termasuk dalam mendukung keselamatan mobilitas.
“Bagi Bosch, teknologi bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru. Melalui prinsip Invented for Life, kami ingin memastikan bahwa inovasi memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia. Dalam mobilitas, hal tersebut berarti menghadirkan teknologi yang membantu membuat perjalanan menjadi lebih aman, sekaligus dapat diandalkan dalam berbagai kondisi,” ujar Pirmin.
Tahun 2026 menjadi momentum khusus bagi Bosch karena menandai 100 tahun teknologi wiper Bosch. Selama satu abad, kebutuhan untuk menjaga pandangan pengemudi terus mendorong pengembangan teknologi wiper seiring perubahan kendaraan dan kondisi berkendara.
“Selama 100 tahun, kebutuhan pengemudi mungkin berkembang seiring perubahan kendaraan dan teknologi, tetapi satu hal tetap sama: manusia membutuhkan teknologi yang dapat diandalkan untuk membantu mereka berkendara dengan lebih aman. Karena itu, inovasi bagi kami bukan hanya tentang mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga tentang memahami bagaimana teknologi tersebut memberikan manfaat bagi penggunanya,” tambah Pirmin.
Wiper Perlu Diperiksa Secara Berkala
Dari sisi teknis, penurunan performa wiper sering terjadi secara bertahap sehingga tidak selalu langsung disadari pengemudi.
Beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain sapuan yang meninggalkan garis air, suara berdecit, gerakan wiper yang tidak mulus, hingga adanya bagian kaca yang tidak lagi dibersihkan secara merata.
Country Sales Director Bosch Mobility Aftermarket, Griselda Iwandi, mengatakan kondisi wiper perlu diperiksa secara berkala seperti komponen kendaraan lainnya.
“Idealnya, wiper diganti setiap enam bulan, tetapi kondisi penggunaan juga perlu diperhatikan. Pengemudi tidak perlu menunggu sampai wiper berhenti berfungsi. Ketika hasil sapuannya mulai menurun, itu sudah menjadi tanda untuk melakukan pemeriksaan dan penggantian,” ujar Griselda.
Ia menjelaskan, performa wiper tidak hanya ditentukan oleh kondisi karet. Kesesuaian produk dengan spesifikasi kendaraan, pemasangan yang tepat, serta keaslian produk juga menjadi faktor penting.
Karena itu, konsumen disarankan memperhatikan spesifikasi kendaraan dan memilih produk dari kanal penjualan yang terpercaya agar wiper dapat bekerja optimal ketika dibutuhkan.
President Director PT Berkat Otopart Indonesia, Yoke Pribadi, menambahkan bahwa distributor juga memiliki peran dalam memberikan edukasi kepada konsumen.
Menurutnya, informasi mengenai kesesuaian produk, keaslian, dan kanal pembelian yang terpercaya perlu disampaikan secara jelas agar konsumen dapat memilih produk yang tepat.
Care for Sight Dukung Kendaraan Ambulans
Perhatian terhadap visibilitas juga diterjemahkan Bosch melalui inisiatif Care for Sight. Dalam momentum 100 tahun teknologi wiper Bosch, Bosch bersama Yayasan Tunas Bakti Nusantara (YTBN) memberikan kontribusi berupa wiper untuk mendukung kendaraan ambulans.
Kontribusi tersebut ditujukan untuk membantu menjaga kesiapan kendaraan yang memiliki peran penting dalam situasi darurat.
Griselda mengatakan kontribusi tersebut bukan merupakan solusi tunggal terhadap seluruh kebutuhan kendaraan darurat, tetapi menjadi bagian dari komitmen Bosch dalam mendorong kesadaran bahwa kesiapan kendaraan merupakan bagian dari ekosistem keselamatan yang lebih luas.
Pada akhirnya, menjaga visibilitas bukan hanya persoalan mengganti komponen kendaraan. Kebiasaan sederhana seperti memastikan kaca depan bersih dan wiper bekerja optimal menjadi bagian dari kesiapan sebelum pengemudi memulai perjalanan.
Melalui peringatan 100 tahun teknologi wiper, Bosch kembali menegaskan pentingnya inovasi yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan aspek-aspek sederhana yang dapat mendukung keselamatan selama berkendara.
(*)






















Komentar
Silakan login untuk berkomentar.