Petani Sawah Keluhkan Hasil Panen yang Menurun

- Redaksi

Kamis, 12 Oktober 2017 - 21:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🎯 Promosikan Bisnis Anda di rakyatjabarnews.com
Hubungi Kami !

RakyatJabarNews.com, Cirebon – Dengan harga gabah kering Rp 580.000/Kwintal, membuat kalangan petani pangan dan komoditas agrobisnis berharap pemerintah responsif terhadap nasib petani saat harga panen jatuh.

Mereka juga berharap pemerintah diminta tidak hanya bereaksi ketika terjadi lonjakan harga pangan saja, tetapi juga berempati saat petani terancam bangkrut akibat harga panen jatuh. Komitmen pemerintah pusat dan daerah ditagih untuk membeli hasil panen mereka sesuai dengan harga acuan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

Baca Juga :  Program Kartu Bekasi Sehat akan Disuntik dari ABT Sebesar 10 Miliar

Saat ditemui di areal sawah Desa Cipejeuh Kulon, Warna, seorang petani setempat mengeluhkan hasil panen yang menurun drastis. Dari lahan sawah seluas 1 Hektar, hanya mendapatkan 4 Kwintal saja. Padahal jika sedang bagus bisa mencapai 2 Ton tiap kali panen karena lahan sawah yang digarap bisa 3 kali tanam.

“Nasib petani penggarap untuk sewa lahan sawah sudah mahal. Saya harus mengeluarkan uang 10 juta untuk sewa selama 3 tahun dengan luas lahan sawah 4500 meter (red. 300 bata dalam bahasa Sunda) milik Haji Nur. Sedangkan sewa untuk luas yang sama milik Haji Mudali dibayar oleh Gabah 7 Kwintal pertahun, padahal hasil panen hanya mendapat 4 Kwintal saja,” ungkapnya hari Kamis (12/10).

Baca Juga :  Rahmat Effendi Saksikan Penandatanganan Deklarasi dan Penyerahan LKPD

Dia menambahkan, dalam setahun selalu ada saja gagal panen dan selama ini tidak ada penyuluhan dari Dinas pertanian terjun ke para Petani penggarap, saya tidak ikut asuransi pertanian karena setiap panen diharuskan membayar Rp 60 ribu.

“Kami petani kecil berharap ada perhatian yang lebih dari Dinas Pertanian karena petani penggarap tidak punya lahan sendiri. Jika gagal panen Keluarga makan apa,” keluhnya.(Juf/RJN)

Follow WhatsApp Channel rakyatjabarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

APINDO Cirebon Ingatkan Polemik PT Yihong Novatex Jangan Digiring Jadi Opini
HUT ke-105, RSD Gunung Jati Perkuat Layanan Rujukan
OTT Rektor Jadi Alarm, Prof Sugianto Soroti Integritas dan Tata Kelola Kampus
34 OPD Adu Gaya di Panggung Bekasi
KPU Kabupaten Cirebon Tetapkan 1,84 Juta Pemilih, Partisipasi Masyarakat Jadi Kunci Akurasi Data
JTT Tanam 300 Pohon di Tol Trans Jawa, Dorong Infrastruktur Hijau dan Berkelanjutan
Jakarta Fair Kemayoran 2026 Resmi Dibuka, Hari Pertama Langsung Diserbu Pengunjung
Siqom Tancap Gas Bentuk DPRt NasDem di 187 Desa dan Kelurahan Kabupaten Bekasi
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 12:25 WIB

APINDO Cirebon Ingatkan Polemik PT Yihong Novatex Jangan Digiring Jadi Opini

Selasa, 1 September 2026 - 06:44 WIB

HUT ke-105, RSD Gunung Jati Perkuat Layanan Rujukan

Selasa, 1 September 2026 - 06:34 WIB

OTT Rektor Jadi Alarm, Prof Sugianto Soroti Integritas dan Tata Kelola Kampus

Jumat, 7 Agustus 2026 - 12:46 WIB

34 OPD Adu Gaya di Panggung Bekasi

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:55 WIB

KPU Kabupaten Cirebon Tetapkan 1,84 Juta Pemilih, Partisipasi Masyarakat Jadi Kunci Akurasi Data

Berita Terbaru

Pengunjung melihat produk dan teknologi industri yang dipamerkan dalam GIFA Indonesia dan METEC Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Pameran ini diikuti lebih dari 260 eksibitor dari 19 negara dan menampilkan berbagai solusi teknologi untuk industri logam dan manufaktur.

Jakarta

GIFA Indonesia dan METEC Indonesia 2026 Resmi Dibuka

Rabu, 9 Sep 2026 - 12:23 WIB