oleh

Temperatur di Gunung Ciremai Terasa Lebih ‘Menusuk’ Tulang

RJN, Kuningan – Cuaca ekstrem yang melanda dataran tinggi di sejumlah daerah, rupanya berdampak pula terhadap kondisi di wilayah pegunungan lain, termasuk Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan. Bahkan sepanjang kemarau ini, temperatur atau suhu di kawasan kaki Gunung Ciremai hingga di dataran tingginya lebih dingin dari biasanya.

Sekalipun suhu lebih dingin pada malam dan pagi hari, namun tumbuhan pertanian di sekitar kaki Gunung Ciremai tidak sampai diselimuti embun es atau bahkan membeku. Justru akibat kemarau berkepanjangan, membuat tumbuhan liar yang hidup di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) mulai mengering.

“Kalau kondisi di kawasan Gunung Ciremai, beberapa bulan terakhir memang sudah dikatakan mulai kering. Sebab hujan sudah lama ini belum turun, dan suhu di lapangan agak lebih dingin, mungkin karena pengaruh musim kemarau,” kata Kepala Balai TNGC Kabupaten Kuningan, Kuswandono, Kamis (27/6/2019).

Berdasarkan informasi yang diterima lanjutnya, suhu udara terendah sejauh ini di kawasan Gunung Ciremai mencapai 18 derajat celcius. Walau demikian, kawasan Gunung Ciremai masih dalam kondisi aman untuk pendakian.

“Alhamdulillah kalau untuk pendakian masih cukup aman. Sebetulnya kalau jalur pendakian itu kan disini ada empat ya, ada Linggarjati dan Linggasana itu di daerah tengah, dan dua lagi di daerah selatan yakni Palutungan dan Apuy, ini masih cenderung aman,” katanya.

Dia menyebut, sekalipun lebih dingin dari cuaca biasanya, namun tidak sampai membuat tumbuhan diselimuti embun es bahkan hingga membeku seperti di kawasan Gunung Dieng dan Bromo.

“Enggak sampai begitu, di sini enggak. Tapi memang dugaan dari BMKG katanya tahun ini ada Elnino juga, akan lebih kering dan lebih panjang kemarau ini,” ungkapnya.

Justru menurutnya, akibat kemarau panjang ini menyebabkan tumbuhan di sejumlah titik kawasan TNGC mengering. Hal itu dapat berpotensi terjadinya kebakaran lahan di kawasan TNGC, khususnya lahan yang banyak ditumbuhi semak belukar.

“Kita mencoba melakukan analisis data dari kejadian kebakaran sebelumnya, itu terjadi karena apa saja kan macam-macam. Kemudian terjadi kebakaran itu lokasinya dimana saja, kita identifikasi,” ungkapnya.

Kajian itu dilakukan lanjutnya, untuk mencari solusi tepat dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran lahan di kawasan TNGC. Langkah ini sebagai upaya agar tidak terjadi lagi kebakaran hutan di kawasan TNGC.

“Sebab terjadinya kebakaran itu lokasinya di titik itu-itu saja. Bisa jadi vegetasinya memang karena banyak semak belukar dan kering secara alami, atau bisa jadi lokasi sekitarnya memang daerah pertanian yang saat masyarakat membuka lahan itu dengan cara dibakar, misalnya tidak terkontrol dan dapat merambat ke kawasan taman nasional,” bebernya.

Akan tetapi masih kata Kuswandono, jika melihat daerah dengan vegetasi alamnya yang masih hijau, tidak sampai terjadi kebakaran lahan di tahun sebelumnya. Sedangkan titik rawan kebakaran itu terdapat di bagian utara kawasan taman nasional yakni Kecamatan Pasawahan, Kecamatan Mandirancan, dan Kecamatan Cilimus.

(dri/rjn)

Komentar

News Feed