Temperatur di Gunung Ciremai Terasa Lebih ‘Menusuk’ Tulang

- Redaksi

Jumat, 28 Juni 2019 - 16:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RJN, Kuningan – Cuaca ekstrem yang melanda dataran tinggi di sejumlah daerah, rupanya berdampak pula terhadap kondisi di wilayah pegunungan lain, termasuk Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan. Bahkan sepanjang kemarau ini, temperatur atau suhu di kawasan kaki Gunung Ciremai hingga di dataran tingginya lebih dingin dari biasanya.

Sekalipun suhu lebih dingin pada malam dan pagi hari, namun tumbuhan pertanian di sekitar kaki Gunung Ciremai tidak sampai diselimuti embun es atau bahkan membeku. Justru akibat kemarau berkepanjangan, membuat tumbuhan liar yang hidup di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) mulai mengering.

“Kalau kondisi di kawasan Gunung Ciremai, beberapa bulan terakhir memang sudah dikatakan mulai kering. Sebab hujan sudah lama ini belum turun, dan suhu di lapangan agak lebih dingin, mungkin karena pengaruh musim kemarau,” kata Kepala Balai TNGC Kabupaten Kuningan, Kuswandono, Kamis (27/6/2019).

Baca Juga :  Setelah Kemarin Bertopi Awan, Hari Ini Gunung Ciremai ‘Menghilang

Berdasarkan informasi yang diterima lanjutnya, suhu udara terendah sejauh ini di kawasan Gunung Ciremai mencapai 18 derajat celcius. Walau demikian, kawasan Gunung Ciremai masih dalam kondisi aman untuk pendakian.

“Alhamdulillah kalau untuk pendakian masih cukup aman. Sebetulnya kalau jalur pendakian itu kan disini ada empat ya, ada Linggarjati dan Linggasana itu di daerah tengah, dan dua lagi di daerah selatan yakni Palutungan dan Apuy, ini masih cenderung aman,” katanya.

Dia menyebut, sekalipun lebih dingin dari cuaca biasanya, namun tidak sampai membuat tumbuhan diselimuti embun es bahkan hingga membeku seperti di kawasan Gunung Dieng dan Bromo.

Baca Juga :  RDK Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan APD ke Pondok Pesantren Cipasung

“Enggak sampai begitu, di sini enggak. Tapi memang dugaan dari BMKG katanya tahun ini ada Elnino juga, akan lebih kering dan lebih panjang kemarau ini,” ungkapnya.

Justru menurutnya, akibat kemarau panjang ini menyebabkan tumbuhan di sejumlah titik kawasan TNGC mengering. Hal itu dapat berpotensi terjadinya kebakaran lahan di kawasan TNGC, khususnya lahan yang banyak ditumbuhi semak belukar.

“Kita mencoba melakukan analisis data dari kejadian kebakaran sebelumnya, itu terjadi karena apa saja kan macam-macam. Kemudian terjadi kebakaran itu lokasinya dimana saja, kita identifikasi,” ungkapnya.

Kajian itu dilakukan lanjutnya, untuk mencari solusi tepat dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran lahan di kawasan TNGC. Langkah ini sebagai upaya agar tidak terjadi lagi kebakaran hutan di kawasan TNGC.

Baca Juga :  6 Bulan Menjabat, Inilah Deretan Penghargaan Pj. Wali Kota Bekasi Gani Muhammad

“Sebab terjadinya kebakaran itu lokasinya di titik itu-itu saja. Bisa jadi vegetasinya memang karena banyak semak belukar dan kering secara alami, atau bisa jadi lokasi sekitarnya memang daerah pertanian yang saat masyarakat membuka lahan itu dengan cara dibakar, misalnya tidak terkontrol dan dapat merambat ke kawasan taman nasional,” bebernya.

Akan tetapi masih kata Kuswandono, jika melihat daerah dengan vegetasi alamnya yang masih hijau, tidak sampai terjadi kebakaran lahan di tahun sebelumnya. Sedangkan titik rawan kebakaran itu terdapat di bagian utara kawasan taman nasional yakni Kecamatan Pasawahan, Kecamatan Mandirancan, dan Kecamatan Cilimus.

(dri/rjn)

Follow WhatsApp Channel rakyatjabarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Firefighter Skill Competition 2026 di Bekasi Diikuti Puluhan Tim Pemadam Industri
Jiovanno: Tujuan Revisi Tutup Celah Hukum
Balita 2 Tahun Tewas di Bekasi, Paman Kandung Jadi Terduga Pelaku, Polisi Selidiki Dugaan Gangguan Jiwa
500 Personel Gabungan Amankan Eksekusi Rumah di Medan Satria Bekasi, Situasi Berjalan Kondusif
Masjid Baitul Makmur Cibitung Gelar Kurban 15 Hewan, Warga RW 016 Gotong Royong
Bapenda Kabupaten Bekasi Tegaskan Nilai Rp1 Juta per Meter Bukan Ketentuan Wajib dalam Perhitungan BPHTB
Revisi DPT BPD Muktiwari Disepakati, Ditarget Rampung 30 April
DPT Desa Muktiwari Diprotes Warga, Panitia BPD Buka Suara

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 12:31 WIB

Firefighter Skill Competition 2026 di Bekasi Diikuti Puluhan Tim Pemadam Industri

Kamis, 9 Juli 2026 - 14:47 WIB

Jiovanno: Tujuan Revisi Tutup Celah Hukum

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:53 WIB

Balita 2 Tahun Tewas di Bekasi, Paman Kandung Jadi Terduga Pelaku, Polisi Selidiki Dugaan Gangguan Jiwa

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:36 WIB

500 Personel Gabungan Amankan Eksekusi Rumah di Medan Satria Bekasi, Situasi Berjalan Kondusif

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:23 WIB

Masjid Baitul Makmur Cibitung Gelar Kurban 15 Hewan, Warga RW 016 Gotong Royong

Berita Terbaru

Jajaran manajemen Geely Auto Indonesia berfoto bersama Geely Coolray di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok. SUV bermesin bensin (ICE) pertama Geely di Indonesia ini resmi memasuki masa pre-book menjelang peluncuran harga pada GIIAS 2026.

Otomotif

Geely Buka Pre-Book Coolray, SUV ICE Pertama di Indonesia

Kamis, 23 Jul 2026 - 14:32 WIB