Santri Keroyok Santri

- Redaksi

Kamis, 11 Juli 2019 - 19:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RJN, Nasional – MTJ (17), bocah di bawah umur yang bertempat tinggal di Dumai Selatan melaporkan peristiwa penganiayaan secara bersama yang dilakukan oleh teman satu pesantrennya ke Polres Kota Dumai.

Ironisnya, MTJ yang sedang mengenyam pendidikan di salah satu pesantren di Bukit Timah, Kota Dumai ini dianiaya oleh teman sebayanya secara bersama-sama lantaran MTJ menegur terduga pelaku berinisial A (16) yang merusak lemari pakaian miliknya.

Menurut ibu korban, kejadian terjadi pada 16 November 2018 silam dimana anaknya dikeroyok secara bersama-sama hingga luka lebam dan hidung yang mengeluarkan darah tidak henti-hentinya.

“Ketika anak saya pulang dari pesantren untuk mengunjungi rumah, saya mendapati muka anak saya lebam-lebam dan hidungnya mengeluarkan darah, akhirnya kami memutuskan untuk melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib November 2018 lalu, hingga sekarang kasusnya masih di meja kepolisian dan kami mengharapkan kejelasan status kasus yang menimpa anak kami tersebut,” ujar Rahmah Yanti, Rabu, (10/7/2019).

Baca Juga :  Forkopimda Kota Bekasi Kompak Hadiri Rakornas Sinergi Untuk Indonesia Maju

Kasat Reskrim Polres Kota Dumai, AKP Dani Andika menyatakan bahwa kasus penganiayaan tersebut masih dalam proses penyelidikan kepolisian.

“Masih on progress mas, beberapa saksi sudah kami periksa dan sesegera mungkin kasus ini akan kami selesaikan,” ungkapnya lewat pesan singkat.

Informasi senada dijelaskan oleh salah seorang penyidik yang ditugakan mengusut kasus ini, Ipda Yusnelly.

Dilansir dari Riau24, pihak kepolisian memang mengaku pihaknya belum berhasil menangkap para pelaku.

Baca Juga :  Gugatan Ditolak, Korban Penggusuran Lahan Tol Cipali Menangis di Depan Bupati

“Pelaku penganiayaan itu santri titipan Pak, jadi mereka menghilang setelah melakukan pengeroyokan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu, 10 Juli 2019.

Yusnelly juga mengaku, kesulitan dalam melacak keberadaan pelaku juga akibat tidak kooperatifnya pihak pengelola pesantren dalam memberikan informasi mengenai data-data santri yang diduga melakukan penganiayaan.

“Kita sudah coba hubungi pihak pengelola pesantren, tapi belum dapat informasi yang jelas,” ujarnya.

(red/rjn)

Follow WhatsApp Channel rakyatjabarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PHD Bekasi Dorong Pelayanan Jemaah Haji Mandiri Lebih Optimal dan Merata
Minta Uang Miras, Pria Mabuk Bunuh Tuan Rumah Pesta di Purwakarta
IEE Series 2026 Hadir di Surabaya, Perkuat Ekosistem Energi dan Manufaktur
Plt Bupati Bekasi Ajak Mahasiswa Kolaborasi Bangun Daerah, DPRD Siap Kawal Aspirasi
Pemkab Bekasi Terapkan WFH 50% untuk ASN
Wawalkot Bekasi Resmikan SPKLU Ultra Fast Charging di Summarecon Mall
One Way TransJawa
MBZ Naik 76%

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 10:40 WIB

PHD Bekasi Dorong Pelayanan Jemaah Haji Mandiri Lebih Optimal dan Merata

Selasa, 7 April 2026 - 10:31 WIB

Minta Uang Miras, Pria Mabuk Bunuh Tuan Rumah Pesta di Purwakarta

Selasa, 7 April 2026 - 08:33 WIB

IEE Series 2026 Hadir di Surabaya, Perkuat Ekosistem Energi dan Manufaktur

Senin, 6 April 2026 - 17:05 WIB

Plt Bupati Bekasi Ajak Mahasiswa Kolaborasi Bangun Daerah, DPRD Siap Kawal Aspirasi

Senin, 6 April 2026 - 10:10 WIB

Pemkab Bekasi Terapkan WFH 50% untuk ASN

Berita Terbaru

Rapat koordinasi rencana pembangunan PSEL di TPA Burangkeng yang diikuti jajaran Pemerintah Kabupaten Bekasi bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara secara daring di Command Center Diskominfosantik, Selasa (14/4/2026).

Pemerintahan

PSEL TPA Burangkeng Bekasi Siap Dilelang, Target Operasi 2028

Selasa, 14 Apr 2026 - 20:21 WIB

Anda Kurang Beruntung !