Peran Penting Menejemen Resiko Diri dan Kecerdasan Adversity Dalam Kehidupan New Normal

  • Whatsapp

RJN, Nasional – Kurang lebih sudah empat bulan sejak bulan Maret 2020 kita menjalani kehidupan dengan kebiasaan baru yang selama ini tak pernah kita alami sebelumnya. Masa pandemi covid-19 ini benar-benar memberi banyak pelajaran hidup pada kita semua, masyarakat dunia.

Segala yang kita lakukan mulai dari belajar, bekerja, beribadah, berolah raga hingga kegiatan berjualan atau yang lainnya kita lakukan dari rumah. Semua sektor kehidupan juga terasa terseok-seok akibat wabah corona ini.

Aktifitas harus tetap kita lakukan, karena tak mungkin kita akan berpangku tangan sambil menunggu virus corona akan pergi begitu saja. Pastinya kita harus tetap terus melakukan kegiatan sesuai peran masing-masing. Yang pendidik juga harus tetap mengajar walau dengan daring, yang pedagang harus tetap menjual produknya, yang pengusaha harus tetap mengoperasionalkan perusahaan atau usahanya walaupun dari rumah, yang seniman juga harus tetap produktif dengan karya-karyanya dan dipamerkan atau divisualisasikan secara virtual.

Intinya adalah keluarga harus tetap kita pikirkan, agar tetap terpenuhi kebutuhannya. Karena waktu terus berjalan dan kebutuhan harus tetap kita penuhi. Daya juang kita diuji, seberapa kuat kita melawan kondisi ini. Tetapi jangan lupa untuk terus mengantisipasi dan menerapkan manajemen resiko diri sebagai langkah preventif, meniminalisir resiko yang tidak kita kehendaki dalam setiap aktifitas kita.

Berbiacara manajemen resiko, menurut Darmawi (2014) manajemen risiko adalah suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi.

Sedang menurut Fahmi (2020) manajemen risiko adalah satu disiplin ilmu yang mempelajari tentang tindakan-tindakan organisasi dalam mengatasi masalah berbasis manajemen yang sistematis dan menyeluruh.

Tetapi yang kita terapkan adalah memanajemen resiko diri bukan dalam ruang lingkup perusahaan namun sebagai personal/individu.

Kita terkadang tidak menyadari bahwa apa yang kita lakukan sebenarnya sudah menerapkan manajemen risiko diri dengan tujuan meminimalisir resiko yang akan terjadi, di mana resiko tersebut sebenarnya tidak kita inginkan. Maka kita akan melakukan tindakan-tindakan pencegahan sebalum hal buruk terjadi.

Sebarapa gigih kita menghadapi tantangan di new normal ini selain menerapkan manajemen resiko diri, sangat penting kita untuk menggandengkan dengan kecerdasan adversity.

Apa itu kecerdasan adversity ? atau seberapa besar daya juang kita ? seberapa kuat daya ketahanmalangan kita ? Seperti kita ketahui masa pandemic covid-19 ini semua sektor terkena dampaknya. Bagaimana sikap kita ? apakah kita menyerah, panik, berputus asa, tidak bersemangat ataukah kita bangkit dengan segenap kekuatan kita agar tetap dapat eksis dan beraktifitas sehingga dapat berperan maksimal dalam mengatasi masalah ini ? Lalu apa itu kecerdasan Adversity ? Mengapa penting kita sandingkan dengan memanajemen resiko diri dalam mengatasi masa pandemic ini ?
Mari kita ulas sedikit, di sini. Menurut Paul G. Stoltz, PHd( dalam bukunya Adversity Quotient, Mengubah Hambatan Menjadi Peluang, 2005 ).,ketahanmalangan merupakan terjemahan dari Adversity Quotient ( AQ ) adalah bagaimana seseorang mampu menghadapi tantangan dengan kondisi-kondisi lain. Bagaimana seseorang memiliki daya tahan tinggi atau daya juang dalam menghadapi kesulitan, hambatan, dan segala masalah yang dihadapi. Masih menurut Paul G. Stoltz, PHd mengatakan dalam bukunya ada 4 aspek dalam AQ yang biasa disingkat CO2RE, yaitu : Control ( kenali diri ), Origin-Owenership (asal usul dan pengakuan ), Reach (jangkauan), Endurance ( daya tahan ).

Termasuk tentunya dalam masa pandemi covid ini. Bagaimana supaya tidak putus asa, tidak jenuh, tidak menyerah, tidak pasrah tetapi tetap bekerja dan produktif dan tetap menerapkan protocol dengan baik.
Dalam survey yang penulis lakukan dari 215 responden, menunjukkan bahwa Peran Manajemen Resiko dan Kecerdasan Adversity ( kecerdasan ketahanmalangan ) sangat penting dalam masa pandemi covid ini.
Responden dilihat dari pekerjaan, yang sebagian besar bekerja di sektor swasta 31,6% , ASN/PNS sebanyak 13%, mahasiswa/pelajar sebanyak 7,9%, Ibu rumah tangga 11,2 %, dosen/guru 6,1%, wiraswasta 5,7% , selebihnya 24,5% pekerjaan lainnya.

Hasil survey penulis, dalam memanajemen dirinya sendiri agar terhindar dari resiko wabah covid,dengan selalu menjaga kebersihan 85,1% , kemudian 13,5% sering menjaga kebersihan walaupun tidak selalu, berarti 1,4% selebihnya hanya terkadang, bila ingat, tidak selalu mereapkan hidup bersih.

Sedang tindakan preventif,dengan mengenakan masker setiap saat melakukan kegiatan di luar 85,1% , kemudian 13,5% sering mengenakan, walaupun tidak selalu, berarti 1,4% hanya terkadang mengenakan masker bila kegiatan di luar.

Tindakan pencegahan resiko dalam penyebaran wabah dengan tidak keluar rumah kecuali kerja dan aktifitas penting yang tak bisa ditunda dari 215 responden, sebesar 49,3 % selalu tidak keluar rumah selain bekerja,16,7% sering menahan tidak keluar rumah, 27,4% terkadang menahan untuk keluar rumah, sisanya 6,5% tidak menahan keluar rumah.

Tindakan meminimalisis resiko berikutnya untuk preventif dengan cara selalu menghindari kerumunan atau di tempat umum, sebanyak 47,4%, sering menghindari tempat umum sebanyak 26%, sisanya terkadang menghindari tempat umum atau kerumunan umum.

Kemudian untuk tindakan preventif berikutnya dalam masa covid menunjukkan angka yang sangat tinggi , dibuktikan dengan selalu mengatasi rasa bosan sekitar 76,3%, mencari kegiatan yang bermanfaat sekitar 78,5%, selalu bersyukur dengan kondisi tersebut agar imun baik, 99,2%.

Untuk kecerdasan adversity dalam daya ketahmalangan, daya juang yang sangat tinggi persentasenya ada pada bila tetap bekerja, keyakinan Tuhan akan selalu melindunginya sebesar 99,1%. Untuk kecerdasan adversity berkaitan dengan menjalani dengan ikhlas sehingga imun membaik sebesar kurang lebih 96,7% dan diperkuat lagi daya ketahan malangan yang bagus nanpak pada bermanfaat untuk orang banyak 83,7% sertakeyakinan masa sulit akan segera berakhir sebesar 97,2%.

Berdasarkan data di atas masyarakat kita cukup memahami tindakan preventif yang dilakukan walaupun harus bekerja di luar dikarenakan daya juang atas ketahamalangan yang merupakan aplikasi dari kecerdasan adversity amat tinggi. Karena prinsip masyarakat bahwa kalau kita tidak bekerja maka kita tidak dapat memenuhi kebutuhan begitu saja. Hal ini tampak pada tingkat pantang menyerah dari para pekerja yang terpaksa harus bekerja di luar guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Sebagian besar dari responden yang mengisi kuesioner menunjukan bahwa masa pandemi ini membuat masyarakat kita lebih survive dari sebelumnya dan mengatakan tidak kalah dengan wabah ini.

Demikian bisa dikatakan New Normal akan segera dapat dilaksanakan atau terpaksa dilaksanakan dikarenakan kondisi yang memaksa kita untuk terus melanjutkan hidup demi orang yang kita cintai dan kita perjuangkan.

Semakin besar kesadaran masyarakat dengan protocol dan melakukan tindakan preventif sebagai manajemen resiko diri dari pencegahan terpapar virus corona, membuat daya juang menjadi sangat tinggi dalam kehidupan New Normal karena harus melawan dengan cara tetap beraktifitas dengan melaksanakan protocol yang ketat.

Terakhir penulis ingin menyampaikan, apapun yang masyarakat lakukan adalah pilihan, tetap di rumah dan melakukan aktifitas dari rumah atau terpaksa bekerja di luar rumah untuk mempertahankan hidup keluarga semua ada resiko, dan kita tahu bagaimana meminimalisir resiko sebagai pencegahannya. Selamat berjuang. Selamat menjadi survivor.

Penulis :
Dr. Sarmini, S.Pd.,MM.Pd
Direktur Pendidikan Sekolah Islam Nabilah, Batam Dosen Universitas Batam
Dosen Universitas Ibnu Sina, Batam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *