Maraknya E-KTP Palsu

  • Whatsapp

RakyatJabarNews.com – Jelang pilkada Bandung Barat, banyak ditemukan e-KTP asli tapi palsu atau aspal. Secara fisik e-KTP itu sama dengan e-KTP asli. Tetapi e-KTP palsu itu tak memuat data elektronik.

Oleh karena itu, masyarakat di Kabupaten Bandung Barat diimbau agar tidak menitipkan pengurusan KTP elektronik atau e-KTP kepada calo atau oknum pegawai pemerintah.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pendaftaran Penduduk Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcasip) KBB, Tri Agus Priyatno menuturkan, e-KTP aspal itu ia ketahui setelah beberapa warga mengadukannya. Menurutnya, tidak tertutup kemungkinan, masih banyak e-KTP aspal yang beredar tanpa sepengetahuan Disdukcasip.

“Sejak saya bertugas di sini mulai Februari kemarin, paling tidak ada 10 orang yang mengadu kesini,” katanya, Selasa (9/5).

Menurutnya, secara fisik e-KTP aspal mirip e-KTP asli. Namun, ketika pemiliknya mengurus ke bank, e-KTP itu tidak terbaca. Kemudian dites di Disdukcapil juga tidak terbaca. Kuat dugaan e-KTP tersebut palsu.

Dalam pengecekan Disdukcapil, dia menjelaskan, biometrik dan chip pada e-KTP aspal tidak berfungsi, karena telah memuat data elektronik milik orang lain.

“Di e-KTP itu kan ada chipnya. Nah, chipnya itu sudah terisi. Jadi, data yang tertulis di e-KTP (aspal) itu memang benar, tetapi data elektroniknya sudah ada yang punya,” terangnya.

Dia menyebutkan, e-KTP aspal selamanya tidak akan dapat digunakan. Kecuali untuk pengurusan administrasi yang tak membutuhkan pencocokan data elektronik di e-KTP.

Oleh karena itu, dia meminta kepada para pemilik e-KTP aspal supaya memproses ulang kepemilikan e-KTP melalui jalur yang resmi.

“Saya sudah minta kepada mereka untuk memberikan data yang baru, karena seumur-umur mereka berarti tidak akan punya e-KTP. Soalnya, e-KTP (yang aspal) itu kan enggak ada datanya. Pas ditanya dibuatnya di mana, mereka bilang buat e-KTP dengan menyuruh orang lain. Makanya, lebih baik bikin e-KTP sendiri, jadi tahu prosesnya,” katanya.

Agus menduga, e-KTP aspal dibuat dengan menggunakan blanko e-KTP yang gagal, mengingat ketika program e-KTP pertama kali digulirkan memang banyak kasus e-KTP yang salah cetak. Blanko e-KTP yang gagal itu kemungkinan dipakai lagi untuk membuat e-KTP aspal, dengan cara mengganti data yang tertulis.

“Kasus ini rata-rata ada di wilayah perkotaan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menyebutkan, hingga Mei 2017 tercatat ada 1.118.561 warga wajib e-KTP. Dari jumlah itu, sebanyak 898.069 warga telah memiliki e-KTP, ditambah 76.398 warga yang membuat e-KTP secara reguler. Adapun data siap cetak (print ready record) e-KTP berjumlah sekitar 67.000 warga.

Agus menambahkan, saat ini blanko e-KTP sudah tersedia untuk pencetakan 10 ribu keping e-KTP. Namun, pencetakannya belum bisa dilakukan karena ada kendala koneksi jaringan dengan pusat. Untuk pencetakan selanjutnya, karena ada 67 ribu e-KTP yang harus dicetak.

“Kami akan ajukan lagi blankonya ke pusat, setelah blanko yang 10 ribu keping ini habis digunakan,” tuturnya.(RJN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *