oleh

Kerugian Akibat Bencana di Majalengka Periode Januari-September Capai Rp2,9 Triliun

RJN, Majalengka – Kerugian yang diakibatkan bencana yang terjadi pada periode Januari-September 2019 di Kabupaten Majalengka mencapai Rp1,5 triliun. Sedangkan kerusakan materi dikalkulasi mencapai Rp1,4 triliun dengan total peristiwa sebanyak 247 kali bencana.

Bangunan yang rusak akibat bencana mencapai 565 unit, terdiri dari kerusakan berat 36 unit dan kerusakan sedang 17 serta kerusakan ringan 212 unit. Data tersebut terungkap dari realase Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. Sabtu (5/10).

Dampak dari semua musibah yang terjadi pada periode itu menimpa 990 kepala keluarga dengan 2918 jiwa yang mengalami dampak dari musibah tersebut. Bahkan tercatat ada 4 orang meninggal dunia, luka-luka 10 orang, mengungsi 226 orang dan menderita 2.638 orang.

Rincian musibah dan dampak dari peristiwa itu terdiri dari gempa bumi 1 kejadian, kebakaran rumah 21 kejadian,  kebakaran hutan dan lahan 56 kejadian, tanah longsor 67 kejadian Kemudian, pergerakan tanah 16 titik, erosi sungai 12 kejadian, banjir 11 kejadian, sambaran petir 12 kejadian. Selanjutnya, pohon tumbang 16, orang hanyut 4, kekeringan 10 dan bencana lainnya 10.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka Agus Permana membenarkan rentetatan peristiwa yang terjadi di Kabupaten Majalengka selama 9 bulan terakhir di tahun 2019 ini. “Jika dihitung kerugiannya tembus di angka Rp1,5 triliun dan kerugian materi Rp1,4 triliun, “ucapnnya.

Dia juga memberikan beberapa langkah  menghadapi ancaman bencana bagi warga yang tinggal di Majalengka. Pihaknya mengimbau warga untuk mengambil langkah pencegahan dengan menjaga kelestarian lingkungan, yakni dengan tidak membuang sampah sembarangan dan rajin membersihkan saluran drainase.

“Kalau menghadapi upaya ancaman gempa bumi, kami minta warga selalu bersiap siaga dengan tidak meletakkan barang-barang berat di bagian atas rumah,” katanya.

Sebelum membangun rumah juga, kata dia,  warga diimbau untuk mempertimbangkan bangunan yang tahan gempa dan melakukan pemeriksaan berkala mengenai kekuatan dan kualitas bangunan. “Kalau menghadapi ancaman tanah longsor warga diimbau untuk tidak mendirikan bangunan di sempadan sungai atau di lereng yang curam. Warga juga perlu memperhatikan peringatan dini potensi pergerakan tanah,”paparnya.

Terakhir, menghadapi ancaman kebakaran, pihaknya mengimbau warga untuk menggunakan listrik secara bijak serta menggunakan alat-alat Standar Nasional Indonesia (SNI). Sedangkan langkah pencegahan terhadap ancaman bencana cuaca ekstrem yang diakibatkan oleh anomali cuaca, seperti angin puting beliung, pohon tumbang, sambaran petir dan lain-lain dengan memangkas pohon yang telah rapuh dan terlalu lebat yang berisiko tumbang dan mewaspadai jika curah hujan mulai meninggi.

(red/rjn)

Komentar

News Feed