Kabupaten Cirebon Memiliki Angklung Bungko yang Sudah Berusia Ratusan Tahun

- Redaksi

Jumat, 16 Maret 2018 - 08:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RakyatJabarNews.com, Cirebon – Di Kabupaten Cirebon, tepatnya di Desa Bungko Kecamatan Kapetakan, terdapat sebuah angklung yang sudah berusia ratusan tahun, tepatnya di zaman kerajaan Hindu-Budha.

Angklung tersebut kini tersimpan di rumah pemiliknya yang merupakan keturunan dari si pembuat pertamanya, yakni Ardinah (60). Angklung tersebut dibungkus dengan kain putih, dan diberi hiasan di atasnya. Sedangkan di sisinya diberi kemenyan. Ardinah sendiri enggan untuk menyentuhnya sembarangan. Karena, akan terjadi hal yang tidak diinginkan.

Menurut Ardinah, dirinya selalu membacakan doa-doa dan sesajian setiap malam Jumat, supaya angklung tersebut tidak berbunyi, alias tenang. Jadi, jika tidak diberi sesajian, maka angklungnya akan berbunyi sendiri.

“Tiap hari Maulid juga saya selalu membersihkan angklung itu. Dan air bekas cucian yang tidak boleh terkena manusia. Jika terkena, maka manusia itu akan celaka,” jelasnya saat ditemui awak media di rumahnya di Desa Bungko, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Kamis (15/3).

Ardinah mengakui, dirinya mendapatkan angklung tersebut secara turun temurun. Sehingga, dirinya tidak mengetahui siapa pembuat pertama angklung tersebut.

Menurut Jaso selaku Ketua Angklung Bungko saat ditemui di Kantor Kuwu Desa Bungko Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Kamis (15/3) konon katanya angklung tersebut terbuat dari bambu Bali. Jadi, ada rakit dari Bali yang menyasar ke daerah Bungko. Kemudian, bambunya dijadikan angklung.

Perbedaan dari angklung Bungko dengan angklung Sunda adalah tariannya. Angklung Bungko digunakan sebagai alat musik pengiring tarian. Tarian tersebut berupa tarian perang dalam menjaga wilayah perbatasan. Sedangkan untuk angklung Sunda hanya untuk instrumen saja.

Baca Juga :  Peti Kubur Batu Berusia 6000 SM yang Ditemukan di Kabupaten Cirebon Butuh Perhatian Pemerintah

Angklung tersebut, lanjut Jaso, adalah simbol untuk mempersatukan kabupaten Cirebon khusunya Bungko, dan perbatasan Kabupaten Indramayu. Jadi, tarian yang ditampilkan memegang tarian untuk perang.

“Ada lima macam tarian yang dibawa oleh penari, yaitu Tari Panji, Tari Banteleo, Teri Ayam Alas, Tari Bebek Moyor, dan Tari Blarak Singklih,” terangnya.

Jaso melanjutkan, tarian dalam angklung Bungko ini dimainkan oleh 6 orang penari. Jika digabung dengan pemain gamelan, jumlahnya mencapai 20 orang.

Masih di tempat yang sama, menurut Kuwu Bungko Moch. Carkim, angklung tersebut biasa digunakan untuk acara Kunjung Buyut dan Sedekah Bumi. Namun, angklung yang asli tidak dimainkan, hanya digunakan sebagai simbolis saja.

Baca Juga :  Gedongan Jin, Rumah Tua yang Tetap Berdiri Kokoh Selama 200 Tahun

“Karena usianya yang sudah ratusan tahun, jadi tidak dimainkan,” ujarnya.

Angklung ini juga sudah dibawa ke mana-mana untuk pertunjukan kesenian, seperti di Jakarta, Sukabumi, Yogyakarta, dan daerah-daerah lainnya. Selain itu, juga pernah dibawa ke Keraton Kasepuhan Kota Cirebon untuk pertunjukan seni di sana.

Dia menyayangkan dengan pemerintah Kabupaten Cirebon yang selalu tidak berupaya melestarikan kesenian angklung Bungko. Padahal, pemerintah Kota Cirebon melalui Keraton Kasepuhan sudah menunjukkan kepeduliannya dengan menampilkan kesenian tersebut.

“Saya harap pemerintah Kabupaten Cirebon bisa memperhatikan kesenian asli Bungko ini,” pungkasnya.(Juf/RJN)

Follow WhatsApp Channel rakyatjabarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ramadhan 1447 H: Rektor Institut Agama Islam Nusantara Ajak Umat Raih Predikat Taqwa
Mekanik Cikarang Juara Nasional Kontes Mitsubishi Fuso 2025, Persiapan Hanya 1 Bulan
Ekosistem PNM Ciptakan Pemberdayaan Lintas Generasi, dari UMKM hingga Lapangan Kerja
Jasa Marga Gelar Tinjauan Keselamatan Terpadu di Tol Palikanci, Begini Hasilnya!
Dari Bekasi untuk Dunia: ProHijab Academy Siap Go Internasional!
Tragedi Gunung Kuda! Jasamarga Kerahkan Derek Raksasa Angkat Truk- truk Terkubur
Gunung Kuda Kembali Bergemuruh, Tim SAR Nyaris Jadi Korban Longsor Susulan
Longsor Maut, Tambang Ditutup!
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 17:39 WIB

Ramadhan 1447 H: Rektor Institut Agama Islam Nusantara Ajak Umat Raih Predikat Taqwa

Sabtu, 14 Februari 2026 - 17:14 WIB

Mekanik Cikarang Juara Nasional Kontes Mitsubishi Fuso 2025, Persiapan Hanya 1 Bulan

Kamis, 12 Februari 2026 - 07:37 WIB

Ekosistem PNM Ciptakan Pemberdayaan Lintas Generasi, dari UMKM hingga Lapangan Kerja

Senin, 15 September 2025 - 16:00 WIB

Jasa Marga Gelar Tinjauan Keselamatan Terpadu di Tol Palikanci, Begini Hasilnya!

Minggu, 7 September 2025 - 21:20 WIB

Dari Bekasi untuk Dunia: ProHijab Academy Siap Go Internasional!

Berita Terbaru

Sekda Kota Bekasi Junaedi bersama jajaran melepas Tim Terpadu Penyelenggaraan Kurban 2026 sekaligus menunjukkan alat pemeriksaan kesehatan hewan kurban pada apel pagi di Plaza Pemerintah Kota Bekasi, Senin (11/5/2026).

Pemerintahan

SPMB 2026 Kota Bekasi, Pemkot Pastikan Semua Anak Bisa Sekolah

Senin, 11 Mei 2026 - 21:59 WIB