Jamaah Asysyahadatain, Thoriqoh Lokal Relevan Sepanjang Zaman dan Bentuk Karakter Manusia Unggul

  • Whatsapp

RJN, Cirebon – Thoriqoh lokal yang relevan sepanjang masa serta menjadi media pembentukan karakter manusia unggul, demikian tiga pernyataan dari narasumber pada acara Diskusi Publik yang mengangkat tema “Relevansi Tuntunan Habib Umar Bin Ismail Bin Yahya di Era Milenial” yang digelar oleh Ikatan Remaja Masjid Miftahul Huda, Ciheurang, Desa Munjul, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, pada Sabtu pagi (28/12/2019) di halaman Masjid setempat.

Dikatakan Habib Ali Ausath Bin Ismail Bin Yahya, apa yang diajarkan oleh Habib Umar Bin Ismail Bin Yahya adalah tuntunan yang terbaik di dunia jikalau kita mampu menerjemahkan dan mengamalkannya, maka akan relevan sepanjang zaman.

Bacaan Lainnya

“ Tujuan akhir dari Asysyahadatain adalah untuk tidak berfanatisme, meninggalkan kejumudan serta agar murid Habib Umar berakhlak baik sehingga menjadi Uswatun Hasanah bagi seluruh manusia,” kata Habib Ali

Melengkapi pandangan tersebut, Ust Maula Asyari mengungkapkan, bahwa apa yang diajarkan oleh Habib Umar Bin Ismail Bin Yahya merupakan media pembentukan karakter manusia unggul.

“Istiqomah melaksanakan Subuh kemudian berdzikir hingga waktu dhuha tiba misalnya, dapat membentuk karakter manusia yang tenang dan sabar,” kata Maula.

Ustad Yusuf Muhajir Ilallah menambahkan, bahwa menurutnya Jamaah Asysyahadatain adalah Thoriqoh Lokal beraliran Sunni serta bermadzhab Imam Syafi’i. Melalui syair (nadzom) yang diajarkan oleh Habib Umar, hiruk pikuk serta tantangan generasi milenial di era industri 4.0, Jamaah Asysyahadatain sangat relevan bagi generasi milenial.

“Agama tergantung pada justifikasi dialektika seseorang, ketika ada justifikasi antar kelompok maka hal ini harus di dialekkan. Jama’ah Asysyahadatain Thoriqoh lokal lebih cocok dengan keadaan yang ada di Indonesia saat ini.” Kata pria yang juga pengurus DPP Jamaah Asysyahadatain Indonesia tersebut.

Diskusi Publik tersebut sengaja digelar untuk menjawab berbagai dinamika yang dialami oleh generasi milenial pengamal Thoriqoh Jamaah Asysyahadatain yang didirikan oleh Habib Umar Bin Ismail Bin Yahya atau yang juga dikenal dengan Abah Umar, hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Panitia Pelaksana, Fadhilah.

“ Jamaah Asysyahadatain sudah ada sejak 1947 dan menjelang setengah abad semenjak wafatnya guru besar, generasi muda perlu terus menggali dan mengkaji apa – apa yang diajarkan. Terlebih, Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan selaku Ketua Jami’iyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’barah An Nahdliyah menganggap pendiri Jamaah Asysyahadatain sebagai Quthbul Aqtab terlama di tanah jawa” katanya
Mengakhiri diskusi publik.

Muhammad Arifin selaku moderator mengajak generasi milenial untuk kembali pada tuntunan yang diajarkan oleh Habib Umar Bin Ismail Bin Yahya, sebab kata Arifin untuk mencapai kecerdasan emosional yang baik, mesti dibarengi dengan kecerdasan spiritual.

“ Generasi milenial harus bisa menyeimbangkan diri dalam meningkatkan keshalihan individu maupun keshalihan sosial,” kata Arifin

(gie/rjn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *