oleh

Taman Nasional GC Miliki Potensi SDA dan Ekosistem Terbanyak

RJN, Kuningan – Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan ekosistem yang cukup banyak. Bahkan potensi wisata alam di kawasan lereng Gunung Ciremai itu dikelola swadaya oleh masyarakat setempat. Sedikitnya, ada sekitar 64 lokasi wisata alam yang masuk dalam kawasan TNGC. Tentunya, manajemen dalam pengelolaan wisata alam ini terus dapat ditingkatkan. Kepala Balai TNGC Kuningan, Kuswandono menyampaikan, kunjungan ke wisata alam Gunung Ciremai mengalami tren peningkatan terutama pada akhir pekan dan libur panjang. Tentunya, ini menjadi tantangan bagi pengelola untuk membuat manajemen wisata alam yang mumpuni demi kenyamanan pengunjung, pengelola, dan semua pihak terkait. “Nah, salah satu manajemen pengelolaan wisata alam yang mumpuni tersebut yakni adanya jaminan keselamatan pengunjung. Hal ini bisa dilakukan dengan pelatihan dan pendidikan pencarian dan pertolongan atau Search And Rescue (SAR) bagi pengelola dan pengunjung,” terangnya, Kamis (26/9). Dia menilai, bahwa wisata alam Gunung Ciremai memang membutuhkan sentuhan pendidikan SAR bagi pengelola, pengunjung, dan pihak terkait. Salah satu upaya yakni melakukan diskusi bersama Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Cirebon dan East Eiger Adventure. Sementara East Eiger Adventure, Galih Donikara mengatakan, dalam waktu dekat tepatnya bulan November depan akan mengadakan pendidikan dan pelatihan SAR di Gunung Ciremai. Sebab pendidikan lingkungan, termasuk SAR didalamnya sangat penting bagi pegiat alam bebas. “Kami berencana menggelar kegiatan Diklat SAR di kawasan Gunung Ciremai melibatkan Basarnas Cirebon, pesertanya para pelajar dan mahasiswa pecinta alam dan komunitas lain. Mudah-mudahan ini bisa bisa terlaksana dan berjalan lanca,” imbuhnya. Basarnas Cirebon, Iwan R menilai, bahwa Basarna memiliki kewajiban untuk membentuk dan membina potensi SAR di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. “Tujuannya agar memudahkan operasi SAR saat terjadi bencana dan kecelakaan,” ujarnya. Dalam diskusi itu, tercetus usulan bahwa kegiatan pelatihan SAR dapat rutin diadakan di Stasiun Penelitian Bintangot. Kedepan juga tempatnnya bisa ditambah dengan lokasi lain, untuk pelatihan teori maupun praktiknya. (dri/rjn)

Komentar

News Feed