Seminar UI, Rekontruksi Model Dakwah Wali Songo di Era Digital

  • Whatsapp

RakyatJabarNews.com, Cirebon – Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (UI Peduli) menggelar seminar “Rekontruksi Model Dakwah Wali Songo di Era Digital” di Madrasah Aliyah Nahdatul Ulama, Pondok Pesantren Buntet, Senin (23/7).

Seminar yang dihadiri oleh H. R. Mohamad Zidni Ilman, S.Fil, M.Pd sebagai salah satu narasumber, H. Ade Mohamad Naisul Umam, Lc yang merupakan Kepala Sekolah MANU, para santri dari Pondok Pesantren Buntet Cirebon, serta Dewan Guru MANU Pondok Pesantren Buntet Cirebon itu berlangsung meriah.

Bacaan Lainnya

Ketua Pengmas UI, Dr. Naupal menerangkan pemilihan Pondok Pesantren Buntet Cirebon sebagai tempat seminar dalam rangka mengingat sejarah tentang penyebaran Islam di Indonesia.

“Pesantren Buntet merupakan salah satu pesantren yang menyebarkan ajaran Islam di Cirebon. Wilayah ini merupakan basis awal Sunan Gunung Jati menyebar paham Islam di daerah pesisir Jawa Barat,” jelasnya.

Dalam acara tersebut, Dr. Naupal menyinggung tentang maraknya dakwah di dunia maya. Ia prihatin banyak dakwah di dunia maya justru mengarah kepada ujaran kebencian. Hal itu bisa terlihat dari dakwah baik di media sosial seperti YouTube maupun laman laman dakwah.

“Banyak pesan dakwah justru mencibir atau menimbulkan permusuhan hanya karena perbedaan ideologi politik atau perbedaan mazhab. Akhirnya tidak sedikit orang-orang yang disebut sebagai pendakwah ternama itu akhirnya menggunakan istilah kafir kepada kelompok lain atau membid`ahkan kelompok yang tidak sealiran,” tuturnya.

Naupal berharap, masyarakat yang berdakwah bisa meniru para Wali Songo. Ia beralasan para Wali Songo mampu mendekatkan Islam dengan budaya sehingga tidak ada konflik antara budaya dengan agama Islam. Para Wali Songo bahkan mampu menjadikan budaya sebagai media dakwah, seperti yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dan Wali Songo lainnya.

“Selain mampu menyinergikan budaya dan ajaran Islam, para Wali Songo mampu berdakwah tanpa menghasut atau menggunakan kekerasan. Para Wali Songo mampu menunjukan wajah islam yang rahmatan lil alamin, sehingga para penduduk lokal memeluk Islam dengan suka rela dan tanpa adanya paksaan, apalagi kekerasan,” ujarnya.

Menurut Naupal, para pendakwah harus bisa membawa metode dakwah Wali Songo di dunia maya. Dengan demikian dakwah dakwah yang bersifat menyebar kebencian bisa ditekan. “Masyarakat pun bisa terhindar dari pandangan radikal dan upaya untuk memecah bangsa lewat agama,” pungkasnya.(Ymd/RJN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *