Perajin Batik di Cirebon Harapkan Pelajar Jadi Pembatik

- Redaksi

Rabu, 2 Oktober 2019 - 19:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RJN, Cirebon – Industri batik di Cirebon tidak akan berjalan mulus jika perajinnya setiap tahun, satu demi satu menghilang. Entah karena sudah renta atau meninggal, ditambah sulitnya regenerasi dalam keluarga pembatik karena anak-anak perajin batik enggan menekuni profesi orang tuanya.

Hal inilah yang menyebabkan pemenuhan kebutuhan batik di wilayah III Cirebon (Cirebon, Kuningan, Indramayu, Majalengka) bahkan nasional terkadang mengalami kendala. Padahal, jika industri batik berjalan baik, dapat mendongkrak roda perekonomian daerah hingga mengurangi angka pengangguran.

Baca Juga :  BLUD UPTD PALD Bersama Bank BJB Launching Kemudahan Pembayaran Melalui Virtual Account

Oleh karenanya, dalam pemecahan rekor MURI membatik terbanyak 2.800 pelajar sekolah SD dan SMP di Kabupaten Cirebon, salah seorang perajin batik Trusmi, Ibnu Riyanto menginginkan, dari seluruh peserta itu paling tidak 10% di antaranya jika lulus nanti menjadi perajin batik Cirebon.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bayangkan dari 2.800 pelajar, 10 persen saja yang tertarik menjadi perajin maka ada 280 perajin sekaligus pengusaha batik baru di Cirebon,” katanya, Rabu (2/10/2019).

Baca Juga :  Kecelakaan Maut di Subang, 11 Orang Meninggal Dunia

Menurutnya, pelajar merupakan bibit potensial untuk mencetak perajin batik asalkan edukasi, sosialisasi, bahkan vokasi dapat berjalan secara kontinyu. “Pelajar adalah masa depan,” imbuhnya.

Ibnu menyatakan, berbicara batik tidak hanya menjadi perajin yang identik dengan ketekunan, kesabaran, dan berbagai proses membuat batik yang rumit. Di sisi lain, lulusan sekolah baik menengah atau perguruan tinggi dapat menjadi pengusaha atau pecinta batik.

Baca Juga :  Harga Master Piece Karaoke Family sangat Bersahabat dengan Pelajar

“Menjadi perajin batik memang sulit, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan yang tinggi. Kalau itu sulit, pelajar bisa menjadi wiraswasta, agen penjualan, atau pecinta batik,” tuturnya.

Ibnu menambahkan, industri batik dapat menyerap banyak tenaga kerja. Hal ini menjadi salah satu soluai bagi permasalahan penyerapan angkatan kerja di daerah. “Dalam prosesnya, satu kain batik membutuhkan 15 orang pekerja, jadi kalau ada 280 perajin batik baru, maka dapat menyerap ribuan pekerja,” pungkasnya.

(uan/rjn)

Follow WhatsApp Channel rakyatjabarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Balita 2 Tahun Tewas di Bekasi, Paman Kandung Jadi Terduga Pelaku, Polisi Selidiki Dugaan Gangguan Jiwa
500 Personel Gabungan Amankan Eksekusi Rumah di Medan Satria Bekasi, Situasi Berjalan Kondusif
Disdamkarmat Kabupaten Bekasi Turunkan Kekuatan Penuh Hadapi Kebakaran Gudang Limbah
Pasien Dirawat di Rumah Sakit, Tim Adminduk Cikarang Pusat Jemput Bola Rekam E-KTP ke Ruang Perawatan
Pemkab Bekasi Bidik Pajak Air Tanah, Ribuan Perusahaan Siap Diawasi
Sapi Kurban Presiden 1,2 Ton Tiba di Jatiasih, Warga Sambut Haru
Masjid Baitul Makmur Cibitung Gelar Kurban 15 Hewan, Warga RW 016 Gotong Royong
Keren! Warga Tambun Sulap Minyak Jelantah Jadi Dana Posyandu dan Kegiatan Sosial
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:36 WIB

500 Personel Gabungan Amankan Eksekusi Rumah di Medan Satria Bekasi, Situasi Berjalan Kondusif

Minggu, 31 Mei 2026 - 23:00 WIB

Disdamkarmat Kabupaten Bekasi Turunkan Kekuatan Penuh Hadapi Kebakaran Gudang Limbah

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:12 WIB

Pasien Dirawat di Rumah Sakit, Tim Adminduk Cikarang Pusat Jemput Bola Rekam E-KTP ke Ruang Perawatan

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:05 WIB

Pemkab Bekasi Bidik Pajak Air Tanah, Ribuan Perusahaan Siap Diawasi

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:59 WIB

Sapi Kurban Presiden 1,2 Ton Tiba di Jatiasih, Warga Sambut Haru

Berita Terbaru