oleh

Hotman Pane Ngaku Sebagai Juru Bicara Walikota

RakyatJabarNews.com – Jelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada tahun 2018 mendatang, saat ini telah bermunculan sejumlah pihak yang mengklaim sebagai pendukung calon Walikota Bekasi periode 2012-2022.

Bahkan tak tanggung-tanggung, pihak yang mengklaim sebagai pendukung tersebut, tanpa rasa malu juga berani mengaku sebagai juru bicara (Jubir) calon Wali Kota Bekasi Petahana, Rahmat Effendi.

“Mau dibilang jubir atau apapun namanya tidak apa-apa, yang penting saya lihat Pepen telah banyak berbuat untuk kebaikan kebhinekaan,” tulis Hotman Pane dalam pesan WhatApps group Forum KBB.

Meski pengakuan tersebut terbilang ‘lebay’, namun hal itu tidak menjadi soal bagi Hotman sebagai seorang pengusaha Bajaj yang tengah akrab dengan Rahmat Effendi. Beberapa komentar miring yang menanggapi pernyataan tersebut tidak ditanggapi Hotman. “Salam 2 periode,” katanya.

Menanggapi pengakuan Hotman Pane sebagai juru bicara (jubir), Walikota Bekasi, Rahmat Effendi menyayangkan pernyataan tersebut.

Ditegaskan Rahmat bahwa, juru bicara di dalam kepemimpinannya saat ini sudah ditugskan kepada Humas Setda Kota Bekasi. “Gak ada (jubir,red). Kalau di pemerintahan sudah ada humas yang menanganinya,” tegas Pepen sapaan Rahmat Effendi di Kantor Pemkot Bekasi, Senin (8/5) kemarin.

Saat ini kata Rahmat juru bicara yang telah ditunjuk adalah Noval dan Muarakat. Kedua orang tersebut telah resmi ditugaskan untuk menjawab sejumlah persoalan-persoalan. Sebagai juru bicara juga harus memiliki Surat Keputusan (SK).

“Kalau buat kepentingan pilkada, nanti ada penugasan,” tambah Pepen.

Menurut Pepen, jika ada pihak yang mengaku sebagai jubir, sejatinya pernyataan tersebut dapat diaktualisasikan sehingga mempunyai manfaat bagi kepentingan masyarakat Kota Bekasi.

Sementara, apabila kedekatan seseorang dengan Walikota Bekasi demi kepentingan pribadi atau untuk memuluskan bisnisnya semata, maka hal itu tidak akan ditolerir.

“Kalau Hotman kan hanya simpati saja. Tapi, kalau pengakuannya itu punya dampak, ya jangan,” tandasnya.

Sementara itu, Pemerhati Kebijakan dan Pelayanan Publik Bekasi, Didit Susilo menilai pengakuan pihak sebagai juru bicara (jubir) Wali Kota Bekasi, dinilai kurang etis.

Bahkan menurut Didit, pengakuan tersebut malah dapat berdampak kurang baik bagi Wali Kota Bekasi saat ini. Apalagi pihak yang mengklaim tersebut memiliki latar belakang sebagai pengusaha atau ketua sebuah organisasi ‘plat merah’.

“Kalau yang mengklaim itu latar belakangnya seorang pengusaha atau ketua oraganisasi binaan pemerintah cukup riskan bagi walikota Bekasi Petahana. Seharusnya, pihak yang mengklaim tersebut harus lebih cerdas lagi dalam memposisikan dirinya sebagai pendukung salah satu calon Walikota Bekasi. gak perlu berkoar-koar,” ujarnya.

Berbuat dan memberi masukan yang positif, lanjut Didit, merupakan langkah yang baik bagi proses pencalonan Walikota Bekasi petahana.

“Saya rasa terlalu dini untuk mempromosikan diri sebagai juru bicara saat ini. lebih baik berbuat kepada masyarakat saja atau memberikan masukan positif sehingga visi dan misi calon yang didukungnya itu bisa dirasakan seluruh warga Kota Bekasi,” pungkasnya.(Juf/RJN)


Komentar

News Feed