HDI dan Sekolah SPI Melawan Badai Krisis Ekonomi dengan Web Series Inspirational

  • Whatsapp

RJN, Jakarta – Kehadiran pandemi COVID-19 telah menghantam keras dunia usaha di Indonesia. Situasi bisnis saat ini dianalogikan seperti kapal-kapal di laut yang mengalami guncangan karena dihempas badai. Tidak pandang bulu ukuran kapalnya dan jenisnya semua terdampak. Sekarang pertanyaannya bagaimana bertahan atau lebih baik lagi untuk keluar dari badai ini? Semua harus dimulai dengan mengembalikan daya juang masyarakat.

Beragam cara bisa ditempuh untuk ini, salah satu yang dilakukan oleh High Desert International (HDI), perusahaan social network marketing penyedia produk-produk kesehatan berbasis hasil perlebahan dan madu yang efektif bagi kehidupan modern yang dinamis adalah dengan mendukung produksi web-series berjudul Keluarga SIP (Sehat Itu Penting) yang digarap oleh Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Batu Malang. Tujuan diproduksinya web-series ini adalah untuk menginspirasi masyarakat agar bisa bangkit kembali dari keterpurukan ekonomi tanpa merasa digurui atau diceramahi. Serial Keluarga SIP telah tayang sebanyak 8 episode sejak 20 Mei 2020 silam ini dapat disaksikan di kanal youtube Keluarga SIP, rencananya akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Episode 8 sendiri baru dirilis pada 23 September 2020 lalu dan episode selanjutnya direncanakan akan tayang di pertengahan Oktober ini.

Ditemui saat wawancara virtual yang berlangsung di HDI Hive Menteng (14/09), CEO dan Chairman HDI Brandon Chia menegaskan komitmen HDI untuk mendampingi masyarakat Indonesia sepanjang masa krisis dan pemulihan pasca pandemi COVID-19 ini. “Justru di tengah krisis seperti ini, masyarakat tidak boleh kehilangan daya juangnya, tidak boleh berhenti berkreasi, berinovasi, dan berprestasi, karena itu semua yang akan membuat kita bertahan dan keluar dengan selamat dari krisis ini. Pada prinsipnya, daya juang akan membuat kita berani menghadapi tantangan dan memanfaatkan kesulitan menjadi sebuah lompatan demi kemajuan,”ujar Brandon Chia.

COVID-19 telah memorak-porandakan sendi-sendi kehidupan, merobohkan tiang-tiang penyangga ekonomi keluarga dan menghadirkan frustasi di berbagai kalangan masyarakat. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada 2020 mencapai 8,1% hingga 9,2% dan angka pengangguran diperkirakan naik 4 hingga 5,5 juta orang. Lebih lanjut, pada 2021, TPT diperkirakan mencapai kisaran 7,7% hingga 9,1%. Jumlah pengangguran juga diprediksi meningkat hingga mencapai 10,7 juta sampai 12,7 juta orang. Sejumlah masyarakat telah kehilangan tujuan dan motivasi, saat karir atau usahanya terhambat COVID-19 dan kebingungan bagaimana memulai kembali.

“Bisnis HDI sendiri sebenarnya menawarkan jalan keluar bagi yang mau berusaha. Apalagi di masa sekarang ini, bisnis kami mengalami apa yang disebut double momentum. Di satu sisi, masyarakat membutuhkan produk-produk HDI yang berasal dari madu dan hasil perlebahan untuk membantu membangun daya tahan tubuh dan imunitasnya. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan usaha yang efektif dan efisien mengatasi krisis finansial. Modal untuk sukses hanya satu hal, daya juang! Jadi yang pertama harus dibangkitkan di momen krisis ini adalah daya juang,” papar Brandon Chia.

Bicara soal daya juang, salah satu yang paling layak bicara soal ini adalah siswa-siswi dan alumni Sekolah Selamat Pagi Indonesia di Batu, Malang, Jawa Timur, sebuah SMA gratis yang khusus dibangun untuk siswa-siswi dari latar belakang kurang beruntung. Seluruh siswanya berasal dari keluarga sangat miskin atau yatim piatu, mulai dari anak para tukang, preman, pembantu, hingga anak jalanan dan anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Anak-anak ini awalnya memiliki kepercayaan diri sangat rendah, ban traumatis. Dengan bersekolah di SPI, anak-anak ini dibimbing untuk menyembuhkan luka batinnya dan dilatih menjadi entrepreneur agar setelah lulus mereka bisa memutus rantai kemiskinan di keluarga mereka.

Julianto Eka Putra, sang pendiri Sekolah SPI, atau biasa dipanggil dengan panggilan akrab Ko Jul, adalah seorang top leader di HDI. Memulai bisnis HDI sejak tahun 1994, Julianto menjadi saksi bagaimana bisnis ini bertahan, di saat masyarakat dihantam berbagai krisis mulai dari tahun 1998, 2008 dan kini. Berkat kepeloporannya mendirikan Sekolah SPI serta keberhasilannya mentransformasi kehidupan anak-anak kurang beruntung menjadi pribadi yang produktif, Julianto dan Sekolah SPI dianugerahi penghargaan Kick Andy Hero 2018.

Siswa-siswi SPI dilatih menekuni berbagai divisi kewirausahaan, antara lain kuliner atau produksi makanan, tour and travel, taman hiburan anak, pemasaran, keuangan, peternakan, perkebunan, manajemen pertunjukan, penyiaran, merchandise, event organizer bahkan hingga production house bernama Butterfly Pictures yang telah memproduksi sebuah film layar lebar berjudul Anak Garuda yang beredar secara nasional pada Januari 2020 silam.

Berbicara saat diwawancarai secara virtual, Julianto Eka Putra juga meyakini bahwa Sekolah SPI harus berkontribusi bagi masyarakat dalam mengatasi krisis ekonomi ini. “Awalnya kami hanya berusaha mengisi waktu yang produktif di dalam asrama dan area Sekolah SPI selama masa karantina total. Namun, dari berbagai sesi virtual conference yang kami adakan dengan berbagai pihak, tiba-tiba kami sadar bahwa kita tengah berada di ambang resesi ekonomi dan sudah banyak anggota masyarakat yang frustasi dengan situasi saat ini. Untuk itulah, kami memantapkan tujuan dalam memproduksi web-series ini, yaitu untuk membangkitkan daya juang masyarakat,” ungkap Julianto Eka Putra.

Mengisi kevakuman saat karantina total ini, Butterfly Pictures menggandeng siswa-siswi SPI yang tinggal bersama di asrama untuk memproduksi web-series berjudul Keluarga SIP yang bisa ditonton di YouTube. Web-series ini mengisahkan sebuah rumah kos-kosan Griya SIP yang dihuni keluarga pemilik kos-kosan (Pak Suhar, Uma Risna, dan anak-anak mereka Bobby, Najwa, Asya), serta 8 anak-anak kos (Mike, Jordhy, Ien, Wayan, Sity, Sheren, Olfa, Yohana), yang hidup saling menyayangi dan membantu satu sama lain. Web-series Keluarga SIP mengambil latar belakang situasi keterpurukan pasca pandemi COVID-19. Mengisahkan berbagai masalah akibat krisis ekonomi yang dihadapi para pemainnya, serta beragam cara menghadapi dan menyelesaikannya. Melalui cerita dan adegan yang diangkat, web-series ini berusaha membantu menemukan perspektif positif dari segala yang terjadi, sehingga kehilangan harapan tidak bisa jadi pilihan.

Produksi web-series Keluarga SIP didukung penuh HDI karena Keluarga SIP dan HDI memiliki idealisme dan semangat yang sama. Komitmen untuk mendampingi masyarakat Indonesia selama menghadapi krisis ekonomi pasca COVID-19, bukan sekadar misi baru HDI, melainkan turunan dari misi utama yang diusung HDI sejak berdiri, yaitu selalu mendukung dan memberikan kesempatan bagi jutaan individu untuk memperjuangkan hidup yang lebih baik. Episode demi episode Keluarga SIP yang inspiratif diharap mampu mengembalikan semangat dan daya juang masyarakat yang hidupnya telah terhempas karena COVID-19.

“Jika Anda merasa kehilangan semangat dan membutuhkan motivasi serta inspirasi, silakan mampir ke kanal Youtube Keluarga SIP dan menyaksikan web-series produksi Sekolah SPI dan HDI ini. Dalam setiap kisah yang dihadirkan di cerita ini, Anda akan menemukan berbagai permasalahan dan perspektif positif terhadap masalah itu, sehingga Anda bisa menemukan solusi yang Anda butuhkan, membuat Anda menjadi tidak patah semangat dan tetap optimis menghadapi krisis saat ini. Moral ceritanya adalah agar kita ingat bahwa dalam hidup selalu ada kejatuhan dan kegagalan, namun itu hanya cara pandang saja. Jika kita memandangnya sebagai pembelajaran, maka kita akan lebih kuat dan lebih tangguh. Jalan cerita inspiratif Keluarga SIP bukan hanya untuk Anda, tetapi juga untuk orang-orang di sekitar Anda. Selamat menyaksikan web-series ini, dan jangan lupa untuk likeshare dan subscribe agar orang-orang sekeliling Anda juga dapat mendapatkan pelajaran bermanfaat dari kisah-kisah Keluarga SIP,” pungkas Brandon Chia menutup wawancaranya pada hari itu.

(rls/rjn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *