Harga Anjlok, Petani Cengkeh di Kuningan Mengeluh

  • Whatsapp

RJN, Kuningan – Beberapa petani cengkeh yang ada di wilayah Kabupaten Kuningan nampaknya tidak begitu semringah. Sebab, harga komoditas cengkeh saat ini tengah anjlok yaitu di bawah Rp100.000/kg untuk cengkeh kering.

Padahal harga tertinggi cengkeh kering bisa mencapai hingga Rp150.000/kg bahkan Rp200.000/kg. Kondisi itu jelas merugikan sebagian besar kalangan petani cengkeh.

Bacaan Lainnya

Harga yang terbilang cukup rendah, banyak membuat petani cengkeh urung menjual langsung cengkeh yang telah dikeringkan. Tak sedikit pula petani yang menimbun cengkeh keringnya, agar dapat dijual ketika harga cengkeh kembali tinggi.

“Kalau sekarang sih rata-rata harganya kisaran Rp80 ribu sampai paling tinggi paling Rp90 ribu/kg, tergantung kualitas cengkehnya. Itu untuk cengkeh kering, kalau cengkeh basah lebih murah lagi,” kata salah seorang petani cengkeh Desa Haurkuning Kecamatan Nusaherang Kabupaten Kuningan, Dodo kepada awak media, Jumat (28/6/2019).

Menurutnya, jika musim cengkeh tiba, perekonomian masyarakat desa dapat terbantu dengan pendapatan tambahan dari penjualan cengkeh. Bahkan, warga yang tak memiliki kebuh cengkeh saja bisa meraup untung dari hasil memungut cengkeh yang berjatuhan.

“Kalau harga cengkeh murah, para petani dipastikan mengalami penurunan pendapatan. Saat ini kemampuan tengkulak hanya berani membeli dengan harga Rp70 ribuan,” sebutnya.

Dia menyebut, tahun ini hampir semua pohon cengkeh berbuah lebat. Ada sebanyak 15 pohon cengkeh yang ditanam di dataran tinggi daerah Haurkuning. “Alhamdulillah, tahun ini bisa panen cengkeh cukup banyak. Karena pernah dari 15 pohon, ada sekitar 6 pohon gak berbuah, ini juga kan musiman ya,” katanya.

Dia menambahkan, setiap panen cengkeh basah setiap pohon dapat menghasilkan tiga hingga empat karung. Jika pohon berukuran besar, itu bisa dapat lima sampai enam karung.

“Kadang saya gak petik sendiri cengkehnya, saya jual langsung saat pohon cengkeh berbuah. Jadi tengkulak yang metik saat cengkeh siap panen, istilahnya jual tangkal (jual pohon),” tutupnya. 

(dri/rjn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *