Sultan Sepuh XIV: Demokrasi Ini Sudah Keluar Jalur Karena Ada Indikasi

- Redaksi

Sabtu, 23 Maret 2019 - 17:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat  mengungkapkan kepada awak media usai kegiatan Doa Bersama yang dilaksanakan di Bangsal Dalem Agung Nyimas Pakungwati Keraton Kesepuhan, Kota Cirebon.

i

Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat mengungkapkan kepada awak media usai kegiatan Doa Bersama yang dilaksanakan di Bangsal Dalem Agung Nyimas Pakungwati Keraton Kesepuhan, Kota Cirebon.

RJN, Cirebon – Demokrasi saat ini sudah keluar dari jalur. Karena, ada indikasi bahwa demokrasi yang sekarang sudah merusak sendi -sendi persatuan, tatanan beragama, sopan santun, serta menghalalkan segala cara untuk tercapainya suatu tujuan.

Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat mengungkapkan kepada awak media usai kegiatan Doa Bersama yang dilaksanakan di Bangsal Dalem Agung Nyimas Pakungwati Keraton Kesepuhan, Kota Cirebon, pada Sabtu (23/3/2019).

“Sekarang sudah banyak yang menjelek-jelekkan orang, etnis, suku, dan agama. Ini yang tidak benar dan harus dihindari,” jelasnya.

Hal tersebut, lanjut Sultan, dikarenakan banyaknya perbedaan yang terjadi. Padahal, perbedaan tidak perlu dipermasalahkan. Karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang lahir dari banyaknya perbedaan. Hal itu sudah tertera dalam lambang negara Indonesia Burung Garuda Pancasila dengan semboyannya Bhinneka Tunggal Ika.

“Oleh karena itu, kita prihatin kalau ada yang mempermasalahkan perbedaan dan toleransi. Kita tidak bisa diseragamkan, harus sama, dan menuruti keinginan suatu kelompok tertentu. Tapi kita ingin bagaimana agar perbedaan ini tetap bersatu,” jelasnya.

Baca Juga :  Setelah Tidak Menjadi Ketua DPD, Sukaryadi Fokus ke Dapil 3

Di Cirebon sendiri sejak zaman Sunan Gunung Jati, lanjutnya, sudah multi etnis, agama, dan bangsa. Bahkan Budaya Cirebon sendiri terbentuk dari berbagai budaya, yang bisa terlihat dari ragam hias, arsitektur, warna, batik, dan lainnya.

Baca Juga :  Wali Kota Bekasi Hadiri Pemusnahan Sitaan Miras di Polres Metro Bekasi Kota

“Itu menandakan bahwa kita ini dulunya multi etnis, agama, dan bangsa. Dulu saja sudah dalam keadaan damai, kenapa sekarang tidak bisa?” tuturnya.

Untuk itu, dirinya sudah mengingatkan baik melalui media massa, media sosial, ataupun bertemu dengan tokoh-tokoh politik, bahwa demokrasi di Indonesia sudah mulai keluar jalur. Sehingga, harus bisa dikembalikan ke jalurnya yang benar. “Sebab jika kebablasan, maka akan rusak,” pungkasnya.(pri/rjn)

Follow WhatsApp Channel rakyatjabarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Balita 2 Tahun Tewas di Bekasi, Paman Kandung Jadi Terduga Pelaku, Polisi Selidiki Dugaan Gangguan Jiwa
500 Personel Gabungan Amankan Eksekusi Rumah di Medan Satria Bekasi, Situasi Berjalan Kondusif
Masjid Baitul Makmur Cibitung Gelar Kurban 15 Hewan, Warga RW 016 Gotong Royong
Bapenda Kabupaten Bekasi Tegaskan Nilai Rp1 Juta per Meter Bukan Ketentuan Wajib dalam Perhitungan BPHTB
Revisi DPT BPD Muktiwari Disepakati, Ditarget Rampung 30 April
DPT Desa Muktiwari Diprotes Warga, Panitia BPD Buka Suara
PHD Bekasi Dorong Pelayanan Jemaah Haji Mandiri Lebih Optimal dan Merata
Plt Bupati Bekasi Ajak Mahasiswa Kolaborasi Bangun Daerah, DPRD Siap Kawal Aspirasi

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:36 WIB

500 Personel Gabungan Amankan Eksekusi Rumah di Medan Satria Bekasi, Situasi Berjalan Kondusif

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:23 WIB

Masjid Baitul Makmur Cibitung Gelar Kurban 15 Hewan, Warga RW 016 Gotong Royong

Senin, 25 Mei 2026 - 10:20 WIB

Bapenda Kabupaten Bekasi Tegaskan Nilai Rp1 Juta per Meter Bukan Ketentuan Wajib dalam Perhitungan BPHTB

Sabtu, 25 April 2026 - 13:22 WIB

Revisi DPT BPD Muktiwari Disepakati, Ditarget Rampung 30 April

Jumat, 24 April 2026 - 14:00 WIB

DPT Desa Muktiwari Diprotes Warga, Panitia BPD Buka Suara

Berita Terbaru