RakyatJabarNews.com, Cirebon – Program terobosan yang dilakukan oleh Puskesmas Sedong dengan masyarakat tanggap tuber colosis “Mata TB” merupakan salah satu program inovasi guna mengejar Indonesia bebas Tuber Colosis (TBC) pada tahun 2050.
Acara sosialisasi melibatkan Pemerintah Kecamatan Sedong, para Kepala Desa dan dilaksanakan di kantor balai Desa Putat yang dianggap strategis berdada di tengah tengah wilayah kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon.
Ditemui seusai acara sosialisasi, Kepala Puskesmas Sedong, dr. Rexy mengatakan tujuan dari acara sosialisasi adalah menggugah kesadaran masyarakat agar peka terhadap lingkungan, sehingga penderita TBC bisa mendapatkan pelayanan pengobatan TBC secara paripurna.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sasaran kami adalah masyarakat tanggap terhadap pengidap TBC dan segera melaporkan pada Kader posyandu, Bidan Desa sehingga kami dari Puskesmas bisa memberi layanan mulai dari test lab dahak sampai dengan pengobatan secara paripurna,” jelasnya, Selasa (8/5).
Masih menurut Rexy program Mata TB juga melibatkan dokter internship yang ditugaskan oleh Kementrian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon yang berjumlah 7 orang dokter. Mereka membantu program inovasi Mata TB di setiap peloksok Desa yang ada di Kecamatan Sedong, dan dibantu oleh para Bidan Desa serta para kader posyandu dan PKK.
“Dalam Mata TB kami juga dibantu dokter internship yang terjun langsung ke tengah masyarakat di setiap Desa yang dibantu oleh Bidan Desa dan kader PKK,” terangnya.
Sedangkan menurut salah seorang Dokter internship, dr. Nurul mengatakan jika salah satu tugas dari para dokter intership yaitu terjun ke lapangan, di mana membantu program dari puskesmas dirinya ditugaskan.
“Mata TB merupakan salah satu tugas kami mendekati masyarakat dengan cara edukasi pada masyarakat dengan metode jemput bola,” tuturnya.
Selain itu, program Mata TB merupakan bagian dari tugas dengan cara jemput bola ke setiap Desa agar masyarakat lebih terbuka. Karena penyakit TBC masih di tengah masyarakat masih dianggap tabu dan memalukan bahkan penyakit TBC ini dianggap kutukan sehingga malu untuk berobat.
“Alasan kami menjemput bola dari masyarakat karena TBC ini masih dianggap penyakit kutukan di tengah masyarakat, sehingga program Mata TB ini juga guna menghilangkan stigma minder atau malu untuk berobat TBC,” jelasnya.
Ditambahkan salah seorang petugas programer puskesmas Sedong, Omah mengatakan jika data yang berhasil dikumpulkan jumlah penderita TBC dari tahun ketahun terdapat peningkatan.
“Tercatat pada tahun 2016 sejumlah 19 penderita dan pada tahun 2017 tercatat 42 penderita TBC sedangkan pada tahun 2018 ini mulai Bulan Januari sampai Mei terdata 11 orang,” pungkasnya.(Ymd/RJN)









