oleh

Terkait Isu yang Berkembang tentang Penyebab Banjir, Ini Penjelasan Pihak Pengelola Tol

RakyatJabarNews.com, Cirebon – Musibah banjir yang melanda banyak kawasan di Timur Cirebon, membuat banyak isu yang berkembang bagaikan bola liar di tengah genangan air. Seperti banjir yang terjadi akibat pembangunan jalan tol di Ciledug.

Informasi yang beredar di masyarakat, bencana banjir disebabkan oleh adanya jalan tol yang membentang dari Palimanan hingga Brebes. Masyarakat merasa jika sebelum adanya pembangunan jalan tol, di Kawasan Cirebon Timur tidak pernah terkena musibah banjir.

Menurut konfirmasi Ami Armando selaku Koordinator Pam Aset & Busdev yang mengelola jalan Tol Kanci-Pejagan menjelaskan, bahwa jika dilihat kondisi lapangan pada saat bencana banjir, terjadi tidak hanya di selatan jalan tol, namun posisi utara jalan tol sama tergenang banjir.

Khususnya di daerah Ciledug, Cisanggarung menjadi poros aliran air. Menurut hasil dokumentasi berbentuk audio visual pada saat banjir, di posisi utara jalan tol air menggenang.

“Pertanyaannya adalah bagaimana air dari sisi selatan jalan tol bisa mengalir ke utara, sedangkan di sisi di utara saja sudah menggenang,” ungkapnya saat ditemui awak media di kantornya, Selasa (27/2).

Armando melanjutkan, namun bukan soal terowongan jembatannya saja yang dijadikan sasaran bencan banjir, akan tetapi keberadaan tol telah membendung aliran air limpasan. Sehingga air dari wilayah selatan (Ciledug dan Pasaleman), hanya mengandalkan dari terowongan jembatan yang ada saja.

“Kalau tuntutan ini saya bingung. Karena jembatan tol sungai Cisanggarung sudah ±150 m lebih lebar dari sungainya. Yang dimaksud keinginan warga ini sepanjang apa?
Apakah air tertahan karena jembatan? Kan tidak begitu keadaannya kemarin,” terangnya.

Lanjut Armando, posisi sebelah utara tol banjirnya lebih lama dibanding selatan dan itu tandanya air mengalir.

“Mohon maaf kita akui kalau air saat itu jadi lambat mengalir karena box air posisi tol tidak banyak, dan hanya ada di beberapa posisi mengikuti saluran yang sudah ada saja. Bukan tertahan di saluran,” imbuhnya.

Bahkan Info dari atasannya soal jembatan tersebut, sudah ada kajiannya melalui balai hidrologi dan tata air. Dan badan jembatan panjangnya jauh lebih lebar dari bantaran sungai Cisanggarung.

“Sedangkan secara teknis, mungkin sudah diperhitungkan. Akan tetapi warga asumsinya sederhana. Dulu air bisa mengalir ke wilayah utara tetapi sekarang terbendung oleh adanya jalan tol. Kini pihak pengelola jalan tol harus memberikan statement secara teknis untuk mengklarifikasi aduan masyarakat,” pungkasnya.(Ymd/RJN)

Komentar

News Feed