RJN, Subang – Subang merupakan salah satu daerah penghasil gas bumi, ternyata cukup besar dan menjadi ikon untuk stasiun pengepulnya di Desa Cidahu, Kecamatan Pagaden Barat karena mampu memilah zat yang tidak terpakai. Padahal sumur yang berproduksi baru 63 dari 125 sumur yang ada.
“Kami terus melakukan berbagai upaya untuk peningkatan produksi karena perkembangan industry yang menggunakannya cukup luas, termasuk untuk mendukung program pemerintah menyalurkannya ke rumah warga, “kata Field Manager Pertamina EP, Armand Mel I Hukom kepada wartawan yang mengikuti Media Visit Pertamina EP, pada Jumat (26/4/2019).
Dijelaskan, gas yang menjadi andalan ini merupakan salah satu field yang berada di bawah pengelolaan Pertamina EP Asset 3, unit bisnis PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) yang merupakan kontraktor kontrak kerja sama di bawah supervisi dan koordinasi SKK Migas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ada 10 Stasiun Pengumpul (SP) dan tiga tes unit Field Subang yang tersebar di dua kabupaten, yaitu Subang dan Karawang. Semoga dengan adanya amedia visit menjadi pengetahuan tersendiri dan menjadi support kemajuan bersama,“ ungkap Armand.
Secara gamblang, lanjutnya, kalau kebutuhan migas di Indonesia sudah diatas satu juta barel perhari (BOPD) sedangkan produksinya baru mencapai 700 ribu BOPD. Untuk itu satuan kerja khusus pelaksana kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi (SKK Migas) menargetkan pada 2022 mendatang, produksi minyak nasional mencapai satu juta barel per hari (BOPD).
Sebelumnya para awak media dari Subang dan Karawang dibawa berkeliling melihat dari dekat stasiun pengepul dan produksi di Cidahu dan diberi penjelasan oleh Kepala Distriknya, Mochammad Najih Said.
Selain itu materi yang diberikan Harper Hotel Purwakarta, dari Kepala Divisi SKK Migas yang diwakili, Febrian Dama Asmara, serta PR Manager PT Pertamina EP, Hermansyah Y. Nasroen dan Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat&Penegakan Etika Pers Dewan Pers, Imam Wahyudi.
(amd/rjn)









