Petani Tebu Dilarang Menjual Gula Secara Mandiri

oleh -
banner 120x600

RakyatJabarNews.com, Cirebon – Kebingungan menerpa kalangan petani Tebu di Jawa Barat, khususnya Petani tebu di Wilayah Cirebon dikarenakan hasil giling tebu belum terjual. Padahal, petani sudah memasuki masa tanam dan masa pemupukan.

Saat ditemui di Kantor Koprasi Tebu, May Azhar salah seorang petani tebu Sindanglaut mengatakan sudah musim penghujan namun para petani tebu belum bisa menerima hasil giling tebu. Hal tersebut dikarenakan belum ada investor yang mau membeli hasil gula petani.

“Kami mengalami kesulitan dalam bertani tebu, Karena tidak adanya investor yang membeli gula petani,” jelasnya.

Ditambahkan Azhar, kondisi ini memaksa para petani tebu untuk mengajukan permohonan penjualan secara mandiri agar hasil tebu bisa diuangkan. Pihaknya juga sudah mengajukan kepada pihak Pabrik Gula Sindanglaut, namun keinginan petani untuk menjual gula secara mandiri tidak diizinkan oleh DPD APTRI Jawa Barat.

“Kami sudah berusaha meminta izin pada pihak Pabrik Gula Sindanglaut agar bisa dijual secara mandiri, namun tidak diizinkan oleh DPD APTRI Jawa Barat,” tuturnya.

Masih menurut Azhar, sekarang para petani tebu berada di ujung tanduk. Karena, selain tidak punya uang akibat hasil panen tebu belum terjual dan masih menumpuk di gudang pabrik gula, ditambah lagi sampai hari ini pupuk pun tidak ada. Selain, masa depan para petani tebu sangat menghawatirkan.

“Pertanian tebu petani sekarang dalam posisi serba sulit. Stok pupuk tidak ada dan hasil panen pun gula masih menumpuk di Gudang PG Sindanglaut,” jelasnya.

Hal serupa disampaikan Ade, salah seorang petani tebu yang menggarap lahan seluas 7 hektar di wilayah Greged yang tidak bisa membeli pupuk untuk lahan garapan tebu akibat macetnya gula miliknya di gudang.

“Saya juga lagi menunggu hasil penjualan gula. Sekarang ini lahan garapan tidak bisa dipupuk karena di gudang koprasi tidak ada. Mau beli keluar juga tidak ada uangnya, untuk beli pupuk apalagi untuk biaya tebar upah pekerja,” pungkasnya.(Juf/RJN)

Comment