RakyatJabarNews.com, Cirebon – Problem utama lingkungan di Kabupaten Cirebon tidak lain adalah sampah. Selain tidak adanya TPA baru, pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon pun mengalami penolakan TPA yang sudah berjalan dan terjadi penutupan TPA lama. Namun, ketika Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon menghadapi penanggulangan sampah, ada desa yang berinisiatif untuk mengolah sampah rumah tangga sekaligus sampah dari pasar.
Tempat pengolahan akhir sampah menjadi terobosan untuk Desa Lemahabang Kulon Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon dan menjadi contoh bagi desa-desa lainnya di Kecamatan Lemahabang. TPA yang sudah berjalan 6 bulan tersebut kini mampu secara bertahap mengelola sampah di Desanya.
Ketua kelompok pengurus sampah Aas Boim menjelaskan, diperlukan komitmen yang kuat baik dari kelompok pengurus sampah, maupun dari masyarakat dalam usaha menanggulangi permasalahan sampah yang sempat terjadi di desanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Berserakannya sampah hingga bahu jalan di akses Lemahabang Astana Japura merupakan fenomena yang terjadi di sini. Sehingga, program yang dijalani oleh Pemerintah Desa menjadi salah satu solusi dalam mengelola sampah rumah tangga, sekaligus sampah dari sasar desa,” jelasnya saat ditemui awak media, Kamis (3/5).
Dijelaskan Aas Boim, dalam sehari tidak kurang dari 10 gerobak kelompok membakar sampah. Sehingga secara bertahap, sampah dapat ditanggulangi, dan lingkungan masyarakat lebih bersih dari sampah yang berserakan.
“Kemampuan dari kelompok memang belum maksimal, karena dari setiap dusun kami baru mampu menangani 200 rumah. Alhamdulilah ini sudah berjalan selama 6 bulan ini. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan sudah mulai tumbuh,” terangnya.
Sedangkan menurut Kuwu Lemahabang Kulon Rudiana mengatakan, program penanggulangan sampah tetap menjadi prioritas agar kebersihan di desanya semakin baik.
Ditambahkan Rudiana perlu adanya kesadaran bagi masyarakat bahwa sampah merupakan masalah bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun masyarakat juga memiliki tanggung jawab.
“Kami telah menyediakan TPA khususnya bagi masyarakat yang berada desa kami, karena kemampuan pengolahannya masih terbatas,” pungkasnya.(Ymd/RJN)









