Mirza Adityaswara: Inflasi Tinggi Bisa Menghambat Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang

oleh -
banner 120x600

RakyatJabarNews.com, Jakarta – Mengutip dari pernyataan Presiden RI Joko Widodo, bahwa dalam dua tahun terakhir, laju Inflasi secara nasional berada dalam kisaran 3%. Hal ini berarti Indonesia sudah memasuki era inflasi rendah. Hal tersebut diungkapkan olehnya saat memimpin rapat koordinasi pengendalian inflasi bulan Juli 2017.

Inflasi sendiri menjadi penyakit ekonomi apabila tidak dijaga pada level yang rendah dan stabil. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan dalam Pelatihan Wartawan Daerah Bank Indonesia 2017 yang berlangsung di Grand Sahid Jaya Hotel Jl. Jenderal Sudirman Kav. 86, Karet Tengsin, Jakarta Pusat hari Senin(20/11), bahwa yang harus diperhatikan adalah menjaga stabilitas nilai rupiah.

“Hal itu tercermin dari dua hal, yaitu inflasi stabil, dan nilai rupiah stabil,” jelasnya.

Mirza menambahkan, jika banyak devisa yang masuk ke Indonesia, nilai rupiah juga akan stabil. Namun kenyataannya, apa yang mempengaruhi inflasi adalah devisa yang sering keluar masuk Indonesia. Menurutnya, hal tersebut banyak terjadi di beberapa sektor.

“Inflasi adalah pergerakan harga bukan tentang satu harga, tapi dari berbagai ratusan jenis produk sehingga penting untuk ketersediaan suplai barang tersebut dengan jumlah yang cukup. Untuk itulah Bank Indonesia mau tidak mau harus berbicara sektor riil,” jelasnya.

Lanjut Mirza, inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Dengan tingginya inflasi, maka bisa menurunkan daya beli masyarakat dan kesenjangan pendapatan yang melebar. Selain itu, inflasi yang tinggi juga bisa menghambat investasi produktif, keinginan menyambung, serta menyebabkan pelaku ekonomi lebih terdorong melakukan investasi jangka pendek.

“Kalau sudah begini, inflasi yang tinggi bisa menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” jelasnya.

Menurut Mirza, pihaknya memiliki tim pengendali inflasi daerah yang berbicara tentang ketersediaan barang. Tim tersebut mengkaji tentang terkaitnya harga yang sering berpengaruh terhadap pergerakan inflasi, seperti harga bahan pangan dan administrasi produk.

“Dengan adanya pengendalian terhadap inflasi, hingga akhir tahun nanti diperkirakan akan mendapatkan angka 3,0%-3,5% inflasi,” pungkasnya.(Juf/RJN)

Comment