RakyatJabarNews.com, Cirebon – Ade Diryanto (50), warga Desa Pilang Sari Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon tidak hentinya memanjatkan rasa syukur sambil terbaring di atas kasur Rumah Sakit Permata Cirebon. Pasalnya, dia selamat dari sambaran petir yang terjadi saat Sabtu (24/3) lalu.
Kejadiannya berawal saat pria yang sehari-hari berprofesi sebagai mekanik mobil ini tengah duduk bersama istri dan anaknya di sebuah warung dekat rumah Sabtu (24/3) sekitar pukul 13.00 WIB. Ade menemani sang anak yang lagi makan bakso.
Tak lama kemudian hujan dengan intensitas tinggi pun mengguyur Cirebon disertai angin kencang dan petir yang berdentum keras membuat warga sekitar khawatir. Tidak lama setelah hujan mengguyur, korban selesai menemani anaknya makan bakso.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tidak tahu saat posisi apa, saya tiba-tiba tersambar petir dan kata istri saya tidak sadarkan diri. Saya sendiri sudah tidak ingat setelah kejadian itu, tiba-tiba saya bangun sudah di rumah sakit,” ujarnya saat ditemui awak media di Rumah Sakit Permata Cirebon, Senin (27/3).
Seingat Ade, saat suara petir menggelegar, dia langsung mematikan handphonenya dan memasukkannya ke dalam saku celana panjang.
Namun demikian, Ade mengaku tidak tahu apakah sinyal HP yang dimasukkan ke dalam saku celananya masih hidup.
“Saya matikan saja. Ternyata matikan itu maksudnya jaringan datanya dimatikan. Nah saya hanya dimatikan seperti mengunci Android saja,” jelasnya.
Kejadian yang menimpa Ade sempat membuat warga terkejut. Bahkan, sebagian menganggap korban sudah meninggal. Istri Ade, Yayah (47) mengaku, sempat membawa suami ke dalam masjid dekat balai desa tidak jauh dari lokasi kejadian.
“Suami saya pas tersambar kemudian terpental jatuh ke tanah dan dalam posisi sujud. Saya panik dan nekat membawa suami saya ke masjid. Waktu itu percikan api sisa sambaran petir masih nyala di jalanan,” ungkap Yayah.
Saat dibawa ke dalam masjid, warga yang menolong kebingungan mengatasi korban. Yayah mengatakan, kondisi korban saat itu seperti orang sudah meninggal dunia. Namun, Yayah yakin, sang suami masih hidup sehingga dia meminta bantuan warga untuk membawa Ade ke rumah sakit.
Beruntung, beberapa jam kemudian setelah mendapatkan penanganan di UGD Rumah Sakit Permata Cirebon, tim petugas rumah sakit menyatakan sang suami masih hidup. Yayah bersama sang anak tak hentinya menangis bersyukur kalau sang suami masih diberi kesempatan hidup.
“Nangis terus tidak bisa berkata apa-apa. Hanya bersyukur dan berdoa terima kasih Allah masih diberi kesempatan hidup suami saya,” ucapnya sambil berdoa.
Hingga saat ini, Ade masih mendapat perawatan insentif dari petugas rumah sakit. Yayah mengaku belum mengetahui kapan sang suami diperbolehkan pulang. Dari hasil pemeriksaan dokter rumah sakit, luka akibat sambaran petir yang menimpa Ade cukup parah. Bagian kanan tubuh korban penuh dengan luka bakar dan rata-rata gosong.
“Dari pipi kanan yang dekat telinga ke dada lalu tangan kanan dan sampai ke kaki bagian betis seperti melepuh, tapi paling parah di bagian dada. Saya juga tidak tahu yang tersambar bagian kaki karena ponselnya juga mati total tidak ada sinyal,” ujar Yayah.
Yayah juga menyebutkan, kondisi suami sempat menggigil kedinginan setelah mendapat penanganan dari tim medis. Hingga saat ini, Yayah masih menunggu hasil dari pemeriksaan medis terhadap kondisi terbaru sang suami.
“Kalau suami sudah semakin membaik tapi saya masih penasaran hasil medis terhadap suami saya,” pungkasnya.(Juf/RJN)









