oleh

Jelang Pelantikan Presiden, Polres Kuningan Simulasi Pengamanan

Jelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, personel Sat Shabara Polres Kuningan menggelar simulasi pengamanan. Latihan ini dilakukan, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan saat terjadinya aksi unjuk rasa.

“Ini latihan Dalmas untuk mengamankan saudara-saudara kita yang menyampaikan pendapat di muka umum. Penyampaian pendapat di muka umum itu sah berdasarkan undang-undang nomor 9 tahun 1998,” kata Kasat Sabhara Polres Kuningan, AKP Umbara saat ditemui di sela-sela simulasi, Rabu (16/10).

Menurutnya, tugas polisi dalam pengamanan unjuk rasa itu agar dapat berjalan secara aman dan tertib. Pengamanan ini sesuai SOP dengan Perkap nomor 16 tahun 2006 tentang pengendalian massa.

“Kepolisian ini bukan musuh, justru mereka (pendemo) kita jaga jangan sampai berbuat anarkis, kalau itu terjadi mungkin ada yang kena lempar atau amit-amit lah mungkin ada yang mencederai anggota kita ataupun membakar objek yang kita amankan, nanti besok-besok bisa ditangkap oleh polisi, kan kasihan juga kepada para pengunjuk rasa. Makanya polisi memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada para pengunjuk rasa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan,” ungkapnya.

Dia menyebut, bahwa latihan ini pun sebagai antisipasi menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih pada 20 Oktober nanti. Mudah-mudahan di Kabupaten Kuningan tetap kondusif dan tidak terjadi hal-hal yang merugikan masyarakat umum.

“Bagaimanapun juga kita tetap persiapan yang terbaik dalam kondisi terburuk apapun, kita siap menangani. Kita juga latihan seperti ini tidak hanya menjelang itu (Pelantikan Presiden), kita latihan seperti ini rutin untuk mengingatkan kembali, karena latihan seperti ini sudah diberikan saat pendidikan, hanya kebetulan dilakukan sekarang dan momen juga seperti itu,” terangnya.

Ditanya apakah akan ada gelombang aksi massa pada 20 Oktober nanti, Ia hanya menyampaikan, apapun nanti yang akan terjadi semoga di Kuningan tetap kondusif.

“Mungkin yang lebih tahu bagian intelejen ya, tapi kalau menurut saya Insyaallah di Kuningan ini baik-baik saja. Masyarakat Kuningan juga baik-baik semua, walaupun nanti sekecil apapun yang namanya unjuk rasa apa itu 10 orang atau 20 orang ya wajib kita amankan dengan sebaik-baiknya,” sebutnya.

Dia berharap, bahwa dalam aksi unjuk rasa tidak boleh ada setetes darah pun yang mengalir akibat tindakan anarkis. Oleh sebab itu, kepolisian terus mengamankan pergerakan unjuk rasa agar berjalan aman dan kondusif.

“Latihan kali ini hanya satu peleton sekitar 30 orang, namun kami bisa menyiapkan dua peleton. Akan tetapi untuk tingkat pengamanan setingkat Polres itu akan diturunkan satu kompi sekitar 100 personel,” ucapnya.

Dia menjelaskan, dalam pengamankan aksi unjuk rasa tidak boleh mempergunakan senjata api. Karena itu, petugas hanya dibekali tameng, tongkat, helm, APAR, dan body protect pelindung kaki dan tangan hingga gas air mata jika kondisinya sudah anarkis.

“Jadi Dalmas Lanjut ini akan disiapkan jika situasi sudah mulai menuju tindakan anarkis, kalau Dalmas Awal itu hanya membentangkan spanduk atau memberikan peringatan agar tidak melakukan tindakan anarkis. Sehingga kita siapkan Dalmas Lanjut, tapi kalau situasi belum chaos (rusuh) maka hanya Dalmas Awal yang akan didepan mengamankan aksi unjuk rasa,” pungkasnya.

(dri/rjn)

Komentar

News Feed