Inilah Komentar Raja-Raja/Sultan saat Welcome Dinner di Gua Sunyaragi

oleh -
<em>Sultan Palembang, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin saat ditemui awak media ketika acara Welcome Dinner di Gua Sunyaragi.</em>

RakyatJabarNews.com, Cirebon – Acara Welcome Dinner sebagai penyambutan para peserta dan tamu undangan yang terdiri dari Keraton se-Indonesia dan peninjau yang berjumlah kurang lebih sekitar 300 orang, dan juga sebagai pembukaan rangkaian Festival Keraton Nusantara (FKN) ke XI yang bertempat di Gua Sunyaragi berlangsung meriah hari Jumat malam (15/9).

Terdapat banyak meja serta kursi yang dipersiapkan untuk para tamu. Sajian hidangan khas Cirebon yang tersedia pun sangat ditunggu-tunggu oleh para tamu untuk menyicipinya.

Raja-raja/sultan dari berbagai Nusantara sangat mengapresiasi acara akbar ini. Sebagai keraton tuan rumah penyelenggara FKN ke XI ini, Sultan Sepuh XVI PRA Arief Natadiningrat mengatakan bahwa semoga Indonesia tetap utuh, sejahtera, dan pariwisata di Cirebon menjadi maju.

“Jadi, keraton-keraton sebagai sejarah peninggalan bangsa memberikan kontribusi persatuan dan kesatuan dan ekonomi kesejahteraan,” ungkapnya saat ditemui awak media.

Dia menjelaskan, kalau masalah kebudayaan yang diamanatkan bangsa kita ini, konstitusi bangsa ada hak kebudayaannya. Ada juga undang-undang cagar budaya, dan pemajuan kebudayaan. Karena kebudayaan itu sangat penting.

“Tentunya harus diikuti program-program kebudayaan. Namun kini masih di bawah dari APBN,” tandasnya.

Sementara itu di meja lain, Sultan Bima, Sultan Muhammad Putra Feryyandi sangat senang karena bisa bersilaturahmi dengan raja-raja/sultan se-Nusantara.

“Alhamdulillah kesan saya pertama ke Cirebon ramai. Pertama masuk ramah semua masyarakatnya. Dari situ bisa berkembang budaya di Cirebon. Lambat laun akan dialirkan ke penerus kita,” pungkasnya.

Sultan Palembang, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin saat ditemui awak media ketika acara Welcome Dinner di Gua Sunyaragi.

Sultan Palembang, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin juga tak kalah senangnya dengan acara ini. Bahkan dia berpendapat bahwa sebenarnya Indonesia ini bukan dijajah, melainkan tanah kerajaan-kerajaanlah yang dijajah. Karena dulu Indonesia masih berbentuk kerajaan dan jumlahnya banyak.

“Setelah Indonesia merdeka, kerajaan-kerajaan atau kesultanan ini menyerahkan kekuasaannya. Kemudian melebur menjadi NKRI. Dan harus mewujudkan pada pancasila ketiga,” pungkasnya. (Juf/RJN)

Comment