Kabupaten Bekasi – Penataan besar-besaran Pasar Cikarang kini jadi sorotan publik. Di bawah kepemimpinan Plt. Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, kawasan pasar di Jalan RE Martadinata, Cikarang Utara, mulai dibenahi demi mengurai kemacetan, menata pedagang, hingga mengembalikan wajah kota.
Namun siapa sangka, pasar yang hari ini ramai diperbincangkan itu ternyata menyimpan sejarah panjang lebih dari 170 tahun dan menjadi salah satu pusat ekonomi tertua di Bekasi.
Langkah penataan yang dilakukan Pemkab Bekasi bukan sekadar memindahkan pedagang. Pemerintah ingin mengembalikan fungsi jalan yang selama ini semrawut, menciptakan kawasan yang lebih tertib dan bersih, sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) lewat tempat usaha yang lebih layak dan representatif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menariknya, Asep memilih turun langsung ke lapangan. Ia berdialog dengan para pedagang, mendengar keluhan mereka, hingga memastikan proses relokasi berjalan dengan pendekatan humanis.
Di tengah proses pembenahan itu, fakta sejarah Pasar Cikarang kembali mencuat. Sejarawan Bekasi, Endra Kusnawan, mengungkapkan bahwa Pasar Cikarang atau yang kini dikenal sebagai Pasar Lama ternyata sudah berdiri sejak tahun 1854.
“Pasar Cikarang dulunya hanya buka setiap hari Rabu,” ujar Endra saat ditemui Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, keberadaan pasar tersebut tercatat dalam Staatsblad 1854 Nomor 1 dan didirikan oleh tuan tanah Kedunggedeh di atas lahannya sendiri. Fakta sejarah itu juga tertuang dalam buku karyanya berjudul Sejarah Bekasi: Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini Edisi Ketiga.
Tak hanya menjadi pusat perdagangan, Pasar Cikarang pada masa kolonial bahkan disebut menjadi model pengembangan pasar di sejumlah wilayah lain seperti Serpong, Ciledug hingga Cililitan.
Secara geografis, posisi Pasar Cikarang memang sangat strategis. Kawasan itu berada di titik pertemuan jalur sungai dan jalur darat yang menjadi pusat mobilitas masyarakat tempo dulu.
Kali Cikarang kala itu menjadi urat nadi transportasi utama sebelum jaringan jalan berkembang menghubungkan wilayah Jatinegara hingga Tanjung Pura.
“Pertemuan antara jalur sungai dan jalan darat itulah yang memicu lahirnya pusat-pusat permukiman dan aktivitas ekonomi,” jelas Endra.
Tak heran jika kemudian Stasiun Cikarang dibangun tak jauh dari kawasan pasar. Dalam peta topografis tahun 1903, keberadaan stasiun tersebut bahkan sudah tercatat sebagai bagian penting dari denyut ekonomi Cikarang.
Memasuki era modern, wajah kawasan pasar kembali berubah. Pada 1977, Pemerintah Kabupaten Bekasi membangun Pasar Baru Cikarang dan terminal menggunakan dana Inpres, APBN, serta swadaya masyarakat.
Lokasi Pasar Baru yang berada tepat di depan Pasar Lama membuat kawasan ini berkembang menjadi pusat ekonomi raksasa. Kini area bekas terminal itu dikenal sebagai Sentra Grosir Cikarang atau SGC.
Pasar Lama, Pasar Baru, hingga SGC akhirnya tumbuh menjadi satu denyut ekonomi masyarakat Bekasi.
Meski begitu, Endra mengingatkan bahwa penataan yang dilakukan hari ini tak boleh menghilangkan jejak sejarah kawasan tersebut.
“Penataan pasar harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi, antara pasar lama dan pasar baru, antara pasar basah dan pasar kering,” tegasnya.
Kini, di tengah pembongkaran lapak dan penataan kota yang terus berjalan, Pasar Cikarang seolah kembali mengingatkan satu hal penting: bahwa setiap langkah modernisasi sejatinya juga merupakan upaya merawat sejarah panjang Kabupaten Bekasi. (*)









