Aliansi BEM dari Berbagai Kampus Gelar Audiensi dengan Kemendikdasmen, Bahas Hasil Evaluasi Kebijakan Pendidikan Periode 2019-2024

- Redaksi

Rabu, 1 Januari 2025 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandung – Aliansi Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma), yang terdiri dari Badan EksekutifM ahasiswa (BEM) dari berbagai universitas seperti BEM KM UNNES, BEM KM UGM, BEM KEMA UNPAD, BEM PM UDAYANA, dan EM UB, telah menyusun kajian kolaboratif dan policy brief berjudul Rapor Merah Nadiem Makarim: Evaluasi Kebijakan Pendidikan

2019-2024. Kajian ini berisi hasil evaluasi mereka terhadap kebijakan pendidikan selama periode tersebut dan membahas isu-isu strategis dalam pendidikan nasional.

Berdasarkan rilis yang diterima Rakyat Jabar, kajian tersebut telah diberikan kepadaK ementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Aliansi BEM tersebut juga berkesempatan melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat di Komplek Kemendikbudristek Gedung A, Jakarta pada Senin, 23 Desember 2024.

Sejumlah poin penting dibahas dalam audiensi tersebut. Itu meliputi soal serapan anggaran pendidikan, guru honorer dan PPPK, zonasi dan kualitas pendidikan, beban administrasi guru dan dosen, kejanggalan alokasi dana program Indonesia Pintar, hingga pendidikan di daerah tertinggal.

Baca Juga :  Peringati Isra Mi'raj, Wagub Gelorakan Spirit Pancasila

Terkait serapan anggaran pendidikan, Aliansi BEM menyoroti dari total anggaran pendidikan sebesar Rp133,3 triliun, hanya Rp80 triliun yang terealisasi sehingga menciptakan ketimpangan yang signifikan, terutama di daerah tertinggal. Selain itu, keterlambatan penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) disebut turut memperburuk situasi.

“Meskipun konstitusi mengalokasikan 20% untuk pendidikan, gaji guru dan dosen tidak termasuk, meskipun Mahkamah Konstitusi menyatakan sebaliknya. Dengan sekitar 3 juta guru di Indonesia, persentase dari anggaran 20% menjadi sangat penting. Hanya sekitar 50% dari alokasi 20% yang mencapai dana alokasi khusus, dan kementerian yang kekurangan anggaran sering kali mengambil dana dari pendidikan. Keterlambatan pencairan BOS terjadi karena pemerintah daerah seharusnya memenuhi alokasi 20%, tetapi dana dari pusat sering digunakan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD),” tulis Aliansi BEM dalam keterangannya.

Aliansi BEM turut menyinggung soal guru honorer yang menghadapi tantangan besar terkait kesejahteraan dan tidak meratanya distribusi. Meskipun ada peningkatan gaji sebesar Rp500.000, jumlah itu dianggap masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Pengangkatan guru honorer menjadi ASN-PPPK juga menimbulkan masalah baru, seperti kekurangan tenaga pengajar di sekolah swasta yang kehilangan banyak guru akibat kebijakan ini.

Baca Juga :  Tak Perlu Hubungi CS Lagi! MyXL Hadirkan Fitur Cek Tiket Aduan Biar Semua Laporan Bisa Dipantau Langsung

Mereka menyebut perhatian perlu diberikan kepada guru honorer yang belum terlayani, terutama terkait alokasi anggaran 50% untuk guru. Banyak PPPK yang bekerja di sektor swasta, dan jika mereka diangkat menjadi ASN, sektor swasta akan kekurangan tenaga pengajar. Oleh karena itu, mereka menekankan perlunya skema penugasan atau distribusi yang lebih baik, terutama di daerah yang hanya memiliki guru swasta.

Masalah lain yang coba diingatkan Aliansi BEM adalah kebijakan zonasi masih menghadapi berbagai kendala dalam pelaksanaannya. Mereka menyebut ketimpangan sarana dan prasarana antar sekolah menyulitkan pencapaian tujuan pemerataan kualitas pendidikan. Hasil survei PISA, papar mereka, menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia berada di peringkat rendah yang menandakan perlunya perbaikan dalam metode pengajaran.

Lebih lanjut, beban administrasi yang terlalu berat bagi guru dan dosen menjadi salah satu keluhan utama Aliansi BEM dalam audiensi ini. Mereka merasa bahwa waktu yang seharusnya digunakan untuk mengajar siswa dan mahasiswa banyak terbuang untuk menyelesaikan tugas administratif. Bahkan, ada dugaan bahwa beberapa dosen memanfaatkan mahasiswa untuk kepentingan pribadi, seperti dalam publikasi jurnal.

Baca Juga :  Bye Kartu SIM, Bundling eSIM XLSMART Bikin Internet Meledak !

“Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tentang adanya moral hazard di kalangan akademisi. Akibatnya, dosen dianggap setara dengan tenaga kependidikan lainnya, meskipun ASN tidak diperlakukan sama dengan tenaga kependidikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan dosen jika orientasi mereka hanya berfokus pada uang dengan iming-iming nilai,” jelas Aliansi BEM.

Kemudian, mereka menyampaikan kejanggalan terkait alokasi dana program Indonesia Pintar. Contohnya, di Probolinggo, Jawa Timur, tidak ada informasi mengenai alokasi anggaran yang dilakukan tanpa persetujuan. Sementara itu, mereka menyebut di Banten, 24 sekolah dasar negeri mengalami pemotongan anggaran sebesar 40% untuk kepentingan oknum tertentu. Hal ini, kata mereka, menunjukkan bahwa pelaksanaannya tidak sesuai dengan peraturan presiden yang mengatur. (*)

Penulis : Hatta Muarabagja

Editor : Jupri

Sumber Berita: rakyatjabarnews.com

Follow WhatsApp Channel rakyatjabarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membanggakan! Dosen IAI Nusantara Bekasi Lolos Program Bergengsi Lemhannas RI, Siap Cetak Generasi Berkarakter
Kota Bekasi Borong Empat Medali di Kejurnas BMX Freestyle 2026
Pemkab Bekasi Buka Beasiswa S1 untuk 100 Putra-Putri Berprestasi, Pendaftaran Dimulai 27 Juli
Hari Anak Nasional 2026, Kemendikdasmen Kampanyekan Pembatasan Gawai di Sekolah
Maxim Gelar Turnamen Badminton di Bandung
Bekasi Cetak Sejarah, Satu-Satunya Kota di Jabar dengan Rata-Rata Lama Sekolah di Atas 12 Tahun
Soroti Daya Tampung SMPN 7 Cibitung, Kadisdik Bekasi Pastikan Sekolah Baru Dibangun
Hari Pertama MPLS di Bekasi Jadi Sorotan, Kadisdik Tegas: Tak Ada Tempat untuk Perpeloncoan!

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:08 WIB

Membanggakan! Dosen IAI Nusantara Bekasi Lolos Program Bergengsi Lemhannas RI, Siap Cetak Generasi Berkarakter

Senin, 27 Juli 2026 - 14:38 WIB

Kota Bekasi Borong Empat Medali di Kejurnas BMX Freestyle 2026

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:51 WIB

Pemkab Bekasi Buka Beasiswa S1 untuk 100 Putra-Putri Berprestasi, Pendaftaran Dimulai 27 Juli

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:39 WIB

Hari Anak Nasional 2026, Kemendikdasmen Kampanyekan Pembatasan Gawai di Sekolah

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:21 WIB

Maxim Gelar Turnamen Badminton di Bandung

Berita Terbaru

XLSMART bersama BBPVP Bekasi membekali 300 talenta muda melalui program Future Ready untuk meningkatkan kompetensi, kesiapan kerja, dan membuka peluang karier di era digital.

Bekasi

300 Talenta Muda Bekasi Siap Masuk Industri Digital

Kamis, 30 Jul 2026 - 11:09 WIB