JAKARTA – Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa transformasi digital menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia, khususnya dalam memperpanjang usia hidup sehat.
Hal tersebut disampaikan dalam ajang Bravo 500 Summit 2026 yang digelar di Ballroom Hotel Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Saat ini, rata-rata usia harapan hidup masyarakat Indonesia mencapai 76 tahun. Namun, pemerintah menilai tantangan sebenarnya bukan sekadar memperpanjang usia, melainkan memastikan masyarakat tetap sehat hingga usia lanjut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Target kita bukan hanya hidup lebih lama, tapi hidup lebih sehat. Usia hidup sehat saat ini sekitar 60 tahun, dan kita dorong naik menjadi 65 tahun,” ujar Budi.
Ia menjelaskan, banyak masyarakat yang hidup hingga usia lanjut, tetapi mengalami penurunan kesehatan sejak usia 60-an akibat penyakit degeneratif seperti stroke, demensia, Parkinson, hingga gangguan mobilitas.
“Percuma hidup panjang kalau 10–15 tahun terakhir diisi dengan sakit. Yang kita kejar adalah masyarakat tetap sehat tanpa penyakit kronis hingga usia lanjut,” tegasnya.
Digitalisasi Ubah Total Layanan Kesehatan
Menkes menekankan, kemajuan teknologi digital telah mengubah wajah layanan kesehatan secara drastis. Kini, masyarakat di daerah terpencil tidak lagi kesulitan berkonsultasi dengan dokter berkat layanan telemedicine.
Selain itu, teknologi robotik dan kecerdasan buatan (AI) juga mulai digunakan dalam tindakan medis. Bahkan, dokter muda kini bisa terbantu sistem pintar yang memberikan panduan real-time saat prosedur berlangsung.
Di sisi lain, teknologi genomik memungkinkan deteksi dini berbagai penyakit berbasis DNA. Risiko obesitas, kanker, hingga penyakit kronis lainnya kini dapat diprediksi dan ditangani lebih cepat.
Indonesia Bangun “Harta Karun” Data Kesehatan
Pemerintah juga tengah membangun sistem big data kesehatan nasional melalui platform “Satu Sehat” yang mengintegrasikan seluruh data fasilitas kesehatan.
Saat ini, sistem tersebut mencakup:
- 3.200 rumah sakit
- 25.000 klinik
- 12.000 apotek
- 6.000 laboratorium
Tak hanya itu, Indonesia juga mulai mengembangkan database genomik populasi yang berpotensi menjadi salah satu yang terbesar di dunia.
“Tidak banyak negara yang punya ratusan juta data kesehatan terintegrasi. Ini adalah ‘harta karun’ untuk riset dan pengembangan layanan kesehatan,” jelasnya.
Masa Depan: Pengobatan Presisi dan Regeneratif
Dengan dukungan digitalisasi dan bioteknologi, layanan kesehatan ke depan akan mengarah pada pengobatan presisi (precision medicine), yakni terapi yang disesuaikan dengan kondisi genetik masing-masing individu.
Ilmu pengetahuan kini mulai mampu memahami struktur tubuh manusia hingga tingkat molekuler, termasuk miliaran DNA dan sel saraf di otak. Hal ini membuka peluang untuk mendeteksi sekaligus memperbaiki penyebab penyakit secara lebih akurat.
Bahkan, teknologi regeneratif mulai dikembangkan untuk memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Saat ini, organ seperti hati sudah diketahui mampu beregenerasi, dan penelitian terus dikembangkan untuk organ lainnya.
Kolaborasi Jadi PenentuMenutup paparannya, Menteri Kesehatan menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan perusahaan teknologi dalam mempercepat transformasi sistem kesehatan nasional.
“Dengan data yang kuat dan teknologi yang tepat, kita bisa memperpanjang usia hidup sehat sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (*)









