RJN, Cirebon – Jika memperhatikan berbagai petilasan yang tersebat di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Cirebon, maka bentuknya hampir seragam, yakni menyerupai makam. Di mana di situ terdapat bata-bata yang ditumpuk, lengkap dengan nisannya. Padahal, itu hanya petilasan saja dan tidak ada jenazah seseorang yang dimakamkan di situ.
Petilasan yang berbentuk makam tersebut rupanya bukan tanpa alasan. Menurut kuncen situs keramat Sindang Pancuran, Maksudi (62), petilasan-petilasan yang berbentuk makam tersebut merupakan ciri khas. Karena, jika dibuat seperti makam, maka siapapun akan takut untuk membongkarnya.
Maksudi menceritakan, biasanya yang dikuburkan di dalam petilasan tersebut adalah benda-benda yang berhubungan dengan tokoh-tokoh terkenal dan memiliki pengaruh pada masa lalu, seperti senjata, tombak, keris, harta benda, bahkan bagian tubuh seperti rambut, seperti yang ada di Petilasan Syekh Magelung Sakti di Kota Cirebon.
“Jika dibuat seperti gundukan saja, maka akan mudah dibongkar kembali. Apalagi yang dikuburkan di situ adalah benda-benda berharga. Tapi jika dibentuk seperti makam, maka siapapun akan takut,” jelasnya saat ditemui di situs keramat Sindang Pancuran, Desa Sidang Laut Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon, Sabtu (27/4/2019).
Selain itu, lanjutnya, bentuk petilasan yang seperti makam juga digunakan untuk mengelabui orang Belanda. Karena, Belanda biasanya mengincar benda-benda berharga milik tokoh-tokoh yang mempunyai pengaruh. Jika berbentuk makam, maka akan mudah mengatakan bahwa di situ hanya dimakamkan jenazah seseorang, bukan harta benda.
Selain dikuburkan berbagai macam benda, petilasan juga berfungsi sebagai tempat bertapa atau semedi orang-orang zaman dulu. Sehingga, tempatnya dikeramatkan karena mengandung energi positif dari orang yang pernah melakukan pertapaan tersebut. Makanya tidak heran jika banyak orang yang datang untuk berziarah ke petilasan-petilasannya saja.
Di situs keramat Sindang Pancuran sendiri, lanjutnya, terdapat 17 petilasan dari para tokoh yang berperan besar dalam pengelolaan Dukuh Awi, sebuah dukuh atau pesantren yang didirikan oleh Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Sapu Jagat atau Pangeran Cakra Buana, sebagai tempat bermusyawarah dan mengajarkan agama Islam.
“Ada petilasan Pangeran Sapu Jagat, Syekh Nurjaman, Pangeran Sela Ganda, Pangeran Sela Rasa, Pangeran Sela Suara, Syekh Syaridin, Syekh Subakir, Syekh Lemahabang, Nyi mas Pakungwati, Nyi Endang Geulis, dan lain-lain,” jelasnya.
Di situ juga, lanjutnya, dikuburkan berbagai macam peralatan perang dari Kerajaan Pajajaran. Peralatan perang tersebut tadinya digunakan oleh Pangeran Walangsungsang dan prajuritnya ketika hendak berperang melawan Amuk Marugul, yang tak lain adalah kakak dari ibunya. Peralatan perang tersebut pun dikuburkan sebelum Pangeran Walangsungsang pindah ke Keraton Pakungwati di Cirebon.
“Peralatan perang ini juga akhirnya dibuat petilasan yang menyerupai makam. Biar tidak ada orang yang berani membongkarnya,” pungkasnya.
Sekarang, area situs keramat Sindang Pancuran berubah menjadi kawasan pemakaman. Sehingga, petilasan yang berbentuk makam tersebut tercampur dengan makam asli. Di sini juga terdapat beberapa makam asli dari murid-murid yang belajar di Dukuh Awi.
(pri/rjn)










