Petani Tebu Mengalihfungsikan Lahan Pertanian Akibat Di-Blacklist

oleh -

RakyatJabarNews.com, Cirebon – Bertani tebu sudah tidak menguntungkan, para petani di Desa Cipejeuh Kulon mengganti tanaman tebu dengan tanaman pangan seperti ubi talas, pepaya jenis California dan pohon mangga. Pengalih fungsian lahan tebu ini tentu merupakan solusi bagi para pemilik lahan yang digarap sendiri ataupun lahan yang disewa bandar tebu.

Lahan seluas 6 hektar di desa setempat merupakan lahan perorangan yang pada tahun sebelumnya merupakan areal pertanian tebu di wilayah Sindanglaut. ekses yang dialami para petani tebu pada saat hasil giling berupa gula tidak laku dijual Kepada investor dan menumpuknya di Gudang Pabrik Gula Sindanglaut Kabupaten Cirebon.

Seorang pemilik lahan yang bernama Jaga (55) atau yang biasa disapa Bang Jaga, pada areal eks lahan tebu yang dialih fungsikan menjadi lahan pertanian pangan di Desa Cipejeuh Kulon Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon, mengatakan alih fungsi ini menjadi solusi dari berlarut-larutnya kemelut gula yang di-blacklist dan pertanian pangan dengan menanam ubi talas jenis wangen lebih menguntungkan dari pada menanam tebu secara ekonomi. Karena, selama ini tebu hanya menguntungkan untuk para bandar dan cukong tebu saja.

“Kami sekarang tidak mau menanam tebu lagi di lahan milik kami, karena selain hanya menguntungkan para bandar dan cukong tebu saja, bahkan koperasi tebu yang dianggap bonafid terlena oleh kredit perbankan. Dan yang diuntungkan segelelintir orang saja. Pada saat situasi seperti sekarang, yang dirugikan itu petani tebu, sedangkan mereka (badar dan viking tebu, red) masih bisa membeli mobil mewah baru. Tentu ini menjadi ironi karena berbeda nasibnya dengan petani tebunya sendiri. Untuk mencari pupuk pun susah karena tidak ada satu karung pun pupuk di gudang koperasi tebu, karena hasil gula petani di-blacklist tidak boleh keluar dari gudang. Sehingga, kami sekarang menanam tanaman pangan berupa talas wangen yang lebih menguntungkan. Karena dari lahan 3.000 meter persegi, dengan menaman 3.000 bibit, maka hasil dari satu rumpun menghasilkan satu kilogram dengan harga termurah Rp 3.000 per kilogramnya itu bisa menghasilkan Rp 9 juta dan masa tanam pun bisa 2 kali dalam setahun. Dan kami tidak sendiri lahan sebelah milik Nano juga sekarang ditanam pohon mangga dan yang lain menaman pohon pepaya California,” jelasnya panjang lebar saat ditemui awak media, Sabtu (2/12).

Masih menurut Bang Jaga, kesulitan para petani sekarang tidak terlepas dari kredit macet yang terjadi pada tahun 2013 lalu pada saat rapat di Hotel Jamrud yang dihadiri oleh Menteri Perdagangan. Pada saat itu, terungkap jika kelompok petani tebu memiliki kredit ke Bank BNI sebesar Rp 360 milyar dan dirinya yakin sampai sekarang tidak mungkin sudah lunas. Sehingga, hasil gula para petani digudangkan dan investor pun enggan membeli. Sehingga sampai sekarang pupuk untuk tebu pun kosong di gudang.

“Jika masih jadi petani tebu, kita tidak bisa memupuk tebu. Dan jika kita mengambil hak pupuk petani pangan, maka akan menimbulkan gejolak di kalangan petani pangan karena petani pangan tidak boleh telat dalam masa pemupukan. Sepertinya ketiadaan stok pupuk ini mungkin karena masih adanya hutang ke Bank BNI sebesar Rp 360 milyar yang saya ketahui pada saat rapat pertanian di Hotel Jamrud pada tahun 2013 yang dihadiri juga oleh Menteri Perdagangan pada saat itu. Dan tidak mungkin kelompok tani tebu tersebut membayar lunas ke pihak Bank sehingga sekarang petani kecil yang dirugikan, sementara yang enak itu para bandar dan cukong tebunya saja,” terangnya.

Sedangkan menurut Ketua Kelompok Tani dari Desa Belawa, Dadan Hendarman menilai jika pengalih fungsian lahan tebu ke pertanian pangan lainnya merupakan terobosan yang bagus. Nih, untuk lahan pertanian tebu di Desa Belawa belum bisa seperti di Desa Cipejeuh Kulon karena lahan tebu yang ada merupakan tanah Desa (titisara dan bengkok, red) yang selama ini disewakan oleh para perangkat desa kepada bandar tebu warga setempat.

“Alih fungsi lahan tebu ke lahan pertanian pangan di Desa kami belum ada, karena lahan pertanian tebu merupakan tanah Desa yang disewakan atau dilelang setiap tahunnya kepada para bandar tebu yang merupakan warga setempat,” jelasnya.

Ditambahkan Dadan, ke depan ada kemungkinan jika lahan pertanian tebu berubah ke pertanian mangga karena dari Dinas Pertanian pihaknya mendapatkan bantuan bibit pohon mangga sebanyak 400 tangkai yang ditanam di lahan milik desa seluas 4 Hektar.

“Tapi tidak menutup kemungkinan di desa kami juga ada pengalih fungsian lahan karena dari Dinas Pertanian kami mendapatkan bantuan berupa 400 bibit pohon mangga yang di tanam di lahan milik desa,” pungkasnya.(Juf/RJN)

Berita Rekomendasi

Comment