oleh

Petani di Majalengka tak Tertarik Beralih dari Padi ke Kedelai

RJN, Majalengka – Kemarau panjang, membuat para petani di Kabupaten Majalengka yang mayoritas menanam padi mengalami gagal panen karena kekurangan air.

Padahal, jika para petani menanam kedelai untuk masa tanam kedua sebagai tumpang sari petani ridak akan terlalu merugi. Karena kedelai hampir sama dengan jagung tidak terlalu membutuhkan banyak air.

Hal tersebut dikatakan penangkar benih kedelai asal desa Cibodas Majalengka Omo Sutarman, Jumat (19/7/2019). “Kedelai sebenarnya bisa menjadi solusi kedelai untuk masa tanam kedua setelah padi,” ujarnya.

Menurut Omo, analisa usaha petani di Majalengka masih minim. Sehingga petani kurang berinovasi dalam varietas tanaman yang perlu disesuaikan dengan prakiraan cuaca yang ada. Imbasnya, petani kerap merugi.

Padahal lanjut dia, lahan yang ada di Majalengka untuk tumpang sari dan monokultur ada sekitar 5.000 hektare.

Jika ditanami dengan kedelai membutuhkan 200 ton benih, dengan proyeksi panen dapat menghasilkan 2,5 ton per hektare untuk kedelai konsumsi.

(kii/rjn)


Komentar

News Feed