Ia menuturkan, hal tersebut sama halnya dengan Masjid Al-Jabbar yang baru saja direamikan. Selain sebagai tempat beribadah, juga memiliki fungsi edukasi Islam, wisata, dan sosial budaya.
“Masjid Al-Jabbar ini didesain bukan hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga dakwah, pendidikan, ekonomi bahkan ini bisa menjadi destinasi wisata baru di Kota Bandung,” ucapnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyampaikan, perjalanan panjang telah ditempuh dalam membangun Masjid Raya Al-Jabbar ini yang melibatkan banyak pihak terutama masyarakat Jawa Barat sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Membangun masjid ini perlu banyak dukungan dan keterlibatan semua pihak, karena kita bukan superman tapi superteam. Bukan kerja saya, tapi kerja ribuan orang,” ucapnya.
Dirinya menjelaskan, keterlibatan seluruh pihak dalam pembangunan Masjid Raya Al-Jabbar, ditandai dengan terdapatnya desain motif batik dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat, meskipun lokasinya di Kota Bandung, Ridwan Kamil menegaskan, Masjid Raya Al-Jabbar adalah milik seluruh masyarakat.
“Artinya, semua warga di Jawa Barat harus ada rasa memiliki. Ada ragam hias motif batik di pintu-pintu yang jumlahnya ada 27, sehingga ada kebanggaan. Masjid Raya Al-Jabbar dihimpun dari semangat ke-Jawa Baratan.” katanya. (*)
Halaman : 1 2









