KABUPATEN BEKASI – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi Syapri Doni Sirait membantah tudingan dirinya mengusir dan menghina seorang wartawan berinisial M atau Simare saat melakukan konfirmasi di ruang kerjanya.
Doni menilai informasi yang beredar di media sosial tidak menggambarkan kejadian secara utuh. Menurutnya, dirinya tetap menerima kedatangan wartawan dan memberikan ruang untuk melakukan wawancara.
Klarifikasi itu disampaikan Doni saat memberikan penjelasan terkait peristiwa yang terjadi pada Selasa (6/10/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Doni mengatakan, awalnya sekretaris pribadinya menyampaikan adanya dua orang yang hendak melakukan konfirmasi. Ia kemudian mempersilakan keduanya masuk ke ruang kerja.
“Jadi diawali sekretaris pribadi saya menyampaikan ada yang mau konfirmasi. Saya perkenankan untuk hadir mereka dua. Dua orang tidak kenal, satu orang kenal, termasuk Mare,” kata Doni.
Menurut Doni, persoalan muncul ketika wawancara berlangsung. Ia mengakui secara personal tidak bersedia diwawancarai oleh M. Namun, sikap tersebut disebutnya tidak berkaitan dengan profesi jurnalistik.
Ia menegaskan tetap menerima wartawan dan memberikan kesempatan untuk mendapatkan informasi.
“Kalau saya tidak menerima wartawan, saya pikir salah. Namun ternyata mereka sengaja mem-framing saya dengan berita tidak benar. Padahal sebelumnya saya telah menerima dua orang wartawan tersebut untuk wawancara di ruangan kerja,” ujarnya.
Doni juga menyebut proses wawancara sempat mengalami kendala karena salah satu orang yang hadir beberapa kali memotong penjelasannya.
“Saya diwawancarai oleh dua wartawan. Saat wawancara berlangsung ada salah satu orang selalu memotong penjelasan saya,” katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat proses penyampaian informasi menjadi kurang efektif. Doni kemudian memilih melanjutkan komunikasi dengan wartawan lainnya.
Selain persoalan wawancara, Doni menyinggung komunikasi wartawan tersebut dengan anggota keluarganya. Ia mempertanyakan alasan urusan yang berkaitan dengan pekerjaannya turut dikomunikasikan kepada keluarganya.
“Kalau urusan pekerjaan saya, menurut saya tidak etis menghubungi kakak saya. Kenapa? Karena tidak ada hubungannya pekerjaan saya dengan keluarga,” ujarnya.
Doni mengatakan dirinya juga mempertimbangkan kondisi orang tuanya yang telah lanjut usia. Karena itu, ia berharap urusan pekerjaan tidak dikaitkan dengan keluarga.
“Saya berpikir menjaga kesehatan orang tua saya. Saya bertanya, mengaku wartawan, kenapa mengait-ngaitkan dengan keluarga saya,” katanya.
Doni menegaskan hubungan antara wartawan dan pejabat sebagai narasumber harus tetap berjalan secara profesional. Menurutnya, pertanyaan atau persoalan terkait pekerjaan sebaiknya disampaikan langsung kepada pihak yang memiliki kewenangan.
Terkait tudingan penghinaan terhadap wartawan, Doni membantahnya. Ia mengatakan persoalan yang terjadi merupakan persoalan personal dan tidak bisa disamakan dengan sikapnya terhadap profesi jurnalistik.
“Saya tidak menghina profesi wartawan. Secara personal saya memang tidak mau diwawancarai oleh saudara M. Itu bukan berarti saya menolak wartawan. Buktinya, saya tetap menerima mereka dan wawancara tetap berlangsung sampai selesai,” tegasnya.
Doni juga meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan kejadian hanya berdasarkan potongan video maupun narasi yang beredar di media sosial.
Menurutnya, kronologi secara lengkap perlu dilihat agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi kesalahpahaman.
“Saya berharap semua masyarakat bersikap profesional, demikian juga wartawan. Mari bersikap profesional dan jangan ada tendensi,” kata Doni.
Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik. Doni juga menegaskan DLH Kabupaten Bekasi tetap terbuka terhadap konfirmasi wartawan selama dilakukan secara profesional dan sesuai dengan konteks pemberitaan.
(*)





















