oleh

Hukum Hoax Dalam Islam

RJN, Bekasi – Perkembangan teknologi komunikasi di era globalisasi membawa pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan dunia. Mobilitas yang tinggi, kecepatan dalam mendapatkan informasi, kemudahan berkomunikasi, pola hidup yang serba instan dan multitasking menjadi sebuah ciri kebutuhan masyarakat saat ini. Bahkan, keberadaan media cetak dan elektronik semakin tergeser dengan adanya media social.

Hoaks, berita bohong, atau fitnah tercatat dalam sejarah Islam sebagai penyebab pertama guncangan besar bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Peristiwa itu terjadi ketika terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, yang kemudian disebut sebagai al-fitnah al-kubra (fitnah besar).

Hal tersebut disampaikan oleh Ustad Muhammad Abdul Wahab, Lc., Dosen Rumah Fiqih Indonesia. Ia mengatakan, hoaks adalah suatu virus yang menyebar dengan mudah di kalangan millennial akibat bebasnya media social yang semakin berkembang. Di era modern saat ini, hoax atau berita bohong semakin santer terjadi. Persebaran informasi tidak berfaedah ini jauh lebih muda terjadi dengan kemunculan media sosial dan internet. Maka itu, tak heran masyarakat kita sekarang tidak asing lagi terhadap isu yang belum tentu kebenarannya.

Ustad Wahab mengungkapkan, dalam hadist Rasulullah SAW bersabda “Cukupkah seseorang itu dianggap berdusta ketika ia menyampaikan semua apa yang didengarnya”. Yang di maksud hadist diatas adalah ketika seseorang menerima informasi tapi tidak tabbayun dahulu kebenarannya kemudian ia sebarluaskan berita tersebut, dan ternyata berita tersebut terbilang berita bohong, maka orang itu dapat dikatakan berdusta.

Selain itu kata Ustad Wahab juga menyampaikan dalam hadist Rasulullah yang lain, berisi “Allah itu membenci tiga hal dari kalian yaitu Qilla wa Qolla, yaitu Katanya dan Menyampaikan berdasarkan Katanya”, hal tersebut dinilai informasi yang diterima tanpa dilihat dahulu kebenarannya akan tetapi percaya akan informasi yang diterima dari seseorang “Katanya”.

Seperti yang disampaikan dalam Surat Al-Hujurat (49) ayat 6:

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian”.

Untuk itu, sebagai muslim, kita harus selalu hati-hati dalam mempercayai sebuah berita. Jangan sampai secara tak sengaja ikut menyebarkan berita hoax. (red/rjn)

Komentar

News Feed