Dudi Bahrudin: Alasan PPn itu Bohong!

  • Whatsapp
Foto: Dudi Bahrudin tengah menunjuk tumpukan karung gula di
Foto: Dudi Bahrudin tengah menunjuk tumpukan karung gula yang tak terbeli di gudang pabrik PT PG Rajawali 2 PG Tersana Baru, Babakan, Cirebon

RakyatJabarNews.com, Babakan – Sejak ditemukannya tumpukan gula di gudang yang terletak di Jl. Benteng, Cirebon, Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) menggelar aksi demo pada hari Selasa, 8 Agustus 2017 yang lalu.

Hal tersebut dilaksanakan karena selama musim giling dan tebang di tahun 2017, yang dimulai tanggal 1 Juni hingga sekarang, gula petani yang sudah ditebang sama sekali tidak laku, tidak ada pembeli, dan tidak pernah dibeli, baik oleh pedagang gula maupun Bulog. Semuanya menumpuk di gudang pabrik PT PG Rajawali 2 PG Tersana Baru, Babakan, Cirebon. Sehingga petani tebu dalam keadaan mati suri dan tidak bisa melakukan kegiatannya.

Bacaan Lainnya

“Perihal pedagang gula tidak membeli gula kepada kita alasannya PPn. Padahal PPn tersebut sudah berjalan lama. Pedagang gula tidak pernah mempermasalahkan PPn. Yang lebih heran lagi, gula petani yang baru satu pabrik gula di Babakan, jumlahnya 8800 ton 329 kuintal dan 78 kilo, dari periode 2 sampai 8, tidak ada yang membeli,” ungkap Dudi Bahrudin, ketua DPD APTRI Jawa Barat saat jumpa pers hari Senin(14/8).

Foto: Tumpukan berton-ton gula yang menggunung akibat tidak ada pedagang gula yang mau membeli

“Yang mengherankan DPP APTRI,” lanjut Dudi, “kenapa gula di Jawa Barat tidak ada yang membeli? Tapi gula di pasaran tidak kekurangan. Dari mana gula tersebut?”

Dudi mulai mempertanyakan program pemerintah, tentang kapan memulai repitalisasi pabrik gula, yang bisa memberikan kesejahteraan petani gula. “Untuk itu, mudah-mudahan kabar ini terdengar hingga Presiden Pak Jokowi, tolong selamatkan kami para petani Jawa Barat yang hidup, bekerja, dan beraktivitas dengan karya kami (produksi gula, red) selama setahun, dengan hasil panennya ada yang mau membeli,” harapnya.

Dengan keadaan seperti ini, Dudi menegaskan jika program swasembada gula 2020 tidak akan tercapai.

“Saya meminta kepada pemerintah untuk kalau memang ada gagasan, ada HET (Harga Eceran Tertinggi, red) dengan harga Rp 12.500, pedagang gula kok tidak mau membeli gula, dengan alasan PPn itu bohong. Apakah pedagang gula dimanjakan dengan gula rafinasi? Dan saya minta satgas pangan turun ke Jawa Barat untuk memeriksa seluruh pedagang gula,” tegasnya. (Juf/RJN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *