Bertanam Holtikultura Jenis Mangga, Upaya Mencegah Urbanisasi

  • Whatsapp

RakyatJabarNews.com, Cirebon – Ratusan warga di Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, atau berada di sekitar 11 kilometer arah Selatan Pintu Tol Palikanci, tepatnya di perbukitan Garawuan, menekuni usaha Holtikultura jenis mangga. Mereka berupaya mandiri di kampung halaman serta mengurangi arus urbanisasi ke Jakarta dan kota-kota besar di Pulau Jawa.

Dadang Darmawan (25), Lulusan S1 Ekonomi dari Universitas Swadaya Gunung Jati adalah salah satu yang terjun untuk menekuni usaha dalam bidang Pertanian Mangga. Sosok ulet pemuda ini ternyata tidak sendiri karena ada ratusan pemuda Desa Belawa dari berbagai latar tingkat pendidikan dengan tidak segan segan menjadi petani mangga baik lahan sendiri atau milik Keluarga.

Bacaan Lainnya

Saat ditemui pada areal perkebunan yang tengah digarapnya, Dadang menuturkan pada awalnya mungkin masyarakat tidak percaya jika lulusan sarjana mau menjadi petani. Namun jika dilihat potensi ekonomi pada bidang usaha pertanian mangga di Belawa, sangat menjanjikan dan sudah turun temurun dilakukan oleh orang tuanya bahkan para tetangga hampir semuanya menjadi petani mangga. Sehingga dengan modal seadanya menggarap 7 Hektar area pertanian mangga dengan hasil produksi mangga 100 ton tiap tahunnya.

“Saya memilih menjadi petani dari pada kerja di Jakarta dan memang diakui pada awalnya baik keluarga atau teman-teman tidak percaya ada sarjana menjadi petani tapi saya bertekad untuk menggarap area Pertanian di beberapa tempat dengan luas sekitar 7 hektaran dan Alhamdulillah setiap kali musim panen Raya hasil produksi nya lebih lebih dari 100 Ton dan belum lagi ditambah off season tambahannya sekitar 40 Ton produksinya,” jelasnya.

Dadang menambahkan, usaha ini menjadi solusi mencegah urbanisasi karena usaha pertanian mangga juga menyerap tenaga kerja yang upahnya hampir sama jika bekerja di Jakarta sebagai buruh atau kerja di pabrik di wilayah Jabodetabek sehingga potensi Ekonomi di Desa bisa di kembangkan.

“Menggali potensi di Desa sendiri sebetulnya salah satu solusi agar SDM tidak keluar atau mencegah Urbanisasi karena menjadi petani pun jika ulet dan pantang menyerah bisa menghasilkan sesuai dengan keringat kita yang keluar karena setiap petani yang mengarap pasti menyerap tenaga kerja minimal lima orang Pemuda dan upahnya pun hampir sama dengan buruh di Jakarta baik kuli ataupun buruh Pabrik di Kota Jabodetabek,” paparnya.

Sedangkan menurut Nurdita (34) yang hanya tamat SD yang menjadi pekerja pada Uus Rusad (35), mengatakan sangat banyak para pemuda sekarang menekuni usaha Holtikultura mangga baik lahan milik pribadi maupun sewa pada masyarakat setempat. Bahkan sekarang banyak yang menyewa lahan hingga tetangga Desa misalkan di wilayah Greged dan Sedong sehingga untuk mendapatkan penghasilan tidak harus jauh ke Kota.

“Banyak yang sekarang menjadi petani mangga bahkan ada beberapa petani sampai menyewa lahan keluar Desa seperti di Kecamatan Sedong dan Kecamatan Greged sehingga banyak dibutuhkan tenaga kerja lokal,” jelasnya.

Sedangkan menurut Adi (39) mengatakan bahwa pada awalnya dahulu sempat Kerja di Kota Jakarta. Namun setelah melihat peluang usaha pertanian mangga yang sangat menguntungkan, maka dirinya bertekad untuk menekuni pertanian mangga di lahan milik keluarga dan terkadang juga mengolah lahan warga lain dengan sistem bagi hasil.

“Saya dulunya sering bolak-balik ke Jakarta sebagai buruh pabrik maupun bangunan. Tapi sudah hampir 4 tahun ini Alhamdulillah penghasilan dari Pertanian Mangga bisa mencukupi kebutuhan Keluarga,” tuturnya.

Ditambahkan Tuyi, sekarang dirinya tidak perlu lagi kerja ke Jakarta karena dengan menekuni usaha Pertanian Mangga dari Luas satu Hektar saja bisa mencapai 15 Ton Pertahun ditambah yang off season dapat menghasilkan 4 Ton.

“Buat apa ke Jakarta, kalau pun ke sana sekarang buat rekreasi bersama Keluarga saja, menjadi petani dan mengolah lahan jika tekun bertani mangga penghasilan cukup untuk Keluarga dan bisa menabung untuk masa depan menyekolahkan anak-anak,” terangnya.

Sedangkan menurut Ketua Kelompok Tani Mangga Sari Desa Belawa Dadan Hendarman (43) Lulusan Diploma 3 Dari Universitas Semarang mengatakan, bahwa sekarang banyak masyarakat khususnya kaum muda yang alih profesi menjadi petani mangga yang tergabung di kelompoknya dengan mengolah lahan Desa yang tidak produktif di tanah Oro-oro (Lahan Titisara) seluas 6 Hektar yang sekarang diolah menjadi lahan pertanian khusus untuk mangga Gedong, yang pada awalnya mendapatkan bantuan penyuluhan, bibit pohon mangga jenis gedong serta Selang dari mata air untuk dialirkan sebagai alat pengairan dari Balitbangda Kabupaten Cirebon pada tahun 2013 dengan mengumpulkan 20 orang petani dan sekarang Anggota kelompok tani sudah 100 l-an lebih petani.

“Kami dari kelompok tani mangga Sari yang awalnya beranggotakan 20 orang sekarang berkembang beranggotakan 100 lebih petani ditambah lagi kaum Muda yang beralih menjadi petani mangga yang lumayan cukup sukses,” jelasnya.

Ditambahkan Dadan yang sekarang menjadi PR bersama yaitu bagaimana caranya mencari market yang stabil karena untuk hasil produksi mangga dari lahan yang ada di Desa Belawa seluas 150 hektar dengan produksi lebih dari 1500 ton pada saat panen raya dan ditambah lagi pada saat petani menerapkan sistem teknik off season bisa mencapai 500 sampai 700 Ton sehingga jika dihitung total nya lebih dari 2.000 ton tapi harga menjadi anjlok dari Rp. 12.000 per kilogramnya bisa turun ke angka Rp. 3.000 sehingga untuk mendongkrak para petani menggincukan mangga di pohon yang nilai jualnya dikisaran Rp. 45.000 sampai Rp. 15.000 perkilogramnya. Tentu ini Potensi Ekonomi Desa yang harus dimaksimalkan agar kesejahteraan bisa di rasakan para petani mangga.

“Ini merupakan potensi ekonomi Desa yang harus dimaksimalkan karena ada yang menjadi PR bersama pada sisi market yang stabil agar harga mangga tidak terlalu jauh anjloknya harga pada saat panen raya,” pungkasnya.(Juf/RJN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *