Wacana Penutupan TPA Burangkeng, Ini 10 Fakta Menarik

  • Whatsapp
Dokumentasi TPA Burangkeng.

RJN, Bekasi – Penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Burangkeng kembali mencuat beberapa hari terakhir, setelah wacana itu juga nyaring terdengar di kalangan warga pada akhir 2018.

Kepala Desa Burangkeng, Nemin, menyetujui penutupan TPA Burangkeng dengan syarat. Ia juga membentuk Tim Penyampai Aspirasi atau Tim 17 untuk menampung serta mengawal aspirasi warga.

Bacaan Lainnya

Agar mengetahui lebih jauh mengenai TPA Burangkeng, menghimpun 10 fakta tentang TPA Burangkeng:

  1. Luas tidak pernah bertambah sejak 1997
    TPA Burangkeng resmi beroperasi pada 16 Agustus 1997 dengan lahan seluas 11,8 hektare. Luas itu tetap bertahan hingga kini, 21 tahun sejak TPA resmi beroperasi.

Perluasan TPA terbentur Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Padahal Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup berencana memperluas sekira 25 sampai 30 hektare.

Zona di sekitar TPA Burangkeng saat ini masih berstatus sebagai zona permukiman, perlu diubah menjadi zona khusus TPA agar dapat diperluas.

  1. Pengelolaan sampah masih gunakan sistem open dumping
    Sampah yang ditampung TPA Burangkeng, ditumpuk secara vertikal atau pembuangan terbuka (open dumping) sehingga gunungan sampah kian meninggi dari waktu ke waktu.

Wacana mengalihkan ke sistem sanitary landfill sudah sempat diperbincangkan oleh dinas terkait, tetapi belum terealisasi.

  1. Satu-satunya TPA di Kabupaten Bekasi
    TPA Burangkeng menampung sampah dari 23 kecamatan di Kabupaten Bekasi. Sempat ada wacana menambah jumlah TPA, lagi-lagi rencana itu belum terlihat terealisasi dalam waktu dekat.

Dinas merencanakan membangun TPA di Bojongmangu atau Cabangbungin, untuk mengurangi beban TPA Burangkeng yang sudah kelebihan muat.

  1. Tiap hari menampung sekira 750 ton sampah
    Menurut data UPTD setempat tak kurang 750 ton sampah dibawa oleh sekira 130 truk sampah setiap hari.

Truk sampah antre masuk ke TPA Burangkeng Kabupaten Bekasi. Foto : DokumentasiTruk sampah antre masuk ke TPA Burangkeng Kabupaten Bekasi. Foto : Dokumentasi

  1. Pernah ditutup selama 10 hari
    Mulai 8 Maret sampai 18 Maret 2013, TPA Burangkeng ditutup oleh warga setempat. Akibat itu, aktivitas pembuangan sampah lumpuh.

Saat itu warga menuntut perbaikan jalan, sanitasi lingkungan, tempat ibadah serta pengelolaan TPA secara modern dan profesional.

Sementara itu, pada 13 Februari 2018, beberapa oknum warga sempat menutup TPA Burangkeng selama beberapa jam. Itu membuat antrean truk mengular hingga beberapa meter.

  1. Sudah kelebihan muat
    Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup melalui Kepala Bidang Kebersihan Dody Agus mengakui bahwa TPA sudah kelebihan muat sejak tahun 2015.

Gunungan sampah saat ini sudah mencapai belasan meter. Kelebihan muat terjadi karena luas TPA tidak bertambah, sementara jumlah sampah yang ditampung terus bertambah.

  1. Berdekatan dengan TPA Sumur Batu dan TPST Bantar Gebang
    Berdasarkan perhitungan jarak Google Maps, jarak TPA Burangkeng dengan TPA Sumur Batu sejauh 2,1 kilometer.

Sedangan jarak dengan TPST Bantar Gebang hanya sejauh 3,1 kilometer.

Penegak Hukum Didesak Usut Penyelewengan Anggaran Pemeliharan TPA BurangkengTPA Burangkeng. (Dok. Radar Bekasi)

  1. Pernah terjadi kebakaran
    Peristiwa kebakaran teranyar terjadi ada 1 Oktober 2018 lantaran puntung rokok.

Pada akhir Juli 2012, TPA sempat mengalami kebakaran selama 10 hari. Menurut dugaan, kebakaran akibat gas metana yang dilepas dari sampah dan beraksi dengan panas matahari.

  1. Isu truk sampah DKI Jakarta buang muatan di Burangkeng
    Isu ini berembus di kalangan warga, pertama kali pada 2014. Mereka mengaku beberapa kali melihat truk sampah berlogo Pemprov DKI Jakarta.

Pada 2016, bahkan diisukan truk sampah dari Bogor membuang sampah di TPA itu. Akan tetapi hal itu dibantah Kepala Desa Burangkeng Nemin.

Pihaknya yakin tak ada truk sampah dari luar Bekasi yang membuang di TPA Burangkeng karena sudah ada UPTD yang mengurus dan menjaga ketat.

  1. Kompensasi jadi tuntutan utama
    Warga setempat menginginkan kompensasi bau dari TPA itu. Kepala Desa Nemin mengatakan timbul kecemburuan sosial karena warga Bantar Gebang mengambil uang kompensasi di Bank BJB yang ada di Burangkeng.

“Apa enggak cemburu warga di sini? Orang Sumur Batu, Cikiwul, ambil dana bau di Burangkeng Rp300 ribu,” jelasnya.(igi/rjn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *