Reshuffle Kabinet Prabowo Hampir 7 Kali, Heru Subagia Soroti Kompromi Kekuasaan

- Redaksi

Jumat, 2 Oktober 2026 - 14:48 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🎯 Promosikan Bisnis Anda di rakyatjabarnews.com
Hubungi Kami !

Keterangan Foto: Presiden Prabowo Subianto memimpin prosesi pelantikan sejumlah pejabat negara di Istana Negara. Perombakan kabinet kembali menjadi sorotan terkait efektivitas pergantian pejabat dan dinamika politik pemerintahan. (Dok. RMOLJABAR)

i

Keterangan Foto: Presiden Prabowo Subianto memimpin prosesi pelantikan sejumlah pejabat negara di Istana Negara. Perombakan kabinet kembali menjadi sorotan terkait efektivitas pergantian pejabat dan dinamika politik pemerintahan. (Dok. RMOLJABAR)

JAKARTA – Frekuensi perombakan kabinet di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan pengamat politik Heru Subagia. Dalam opininya, Heru mempertanyakan efektivitas reshuffle yang berulang kali dilakukan dalam kurun waktu kurang dari dua tahun pemerintahan.

Menurut Heru, perombakan kabinet semestinya menjadi momentum untuk memperbaiki kinerja pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Namun, ia menilai pergantian pejabat yang berulang justru berpotensi dipersepsikan masyarakat sebagai rotasi jabatan dan upaya mengakomodasi kepentingan politik.

Heru menyoroti reshuffle kabinet yang kembali dilakukan Prabowo pada Kamis (1/10/2026). Ia menilai pergantian sejumlah pejabat tersebut belum tentu menghadirkan perubahan substantif dalam tata kelola pemerintahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejak dilantik pada 20 Oktober 2024, pemerintahan Prabowo telah berjalan hampir dua tahun. Dalam periode tersebut, perombakan kabinet berulang kali dilakukan dengan melibatkan sejumlah posisi strategis, mulai dari menteri, wakil menteri, hingga pimpinan lembaga negara.

Dalam opininya, Heru menyebut frekuensi reshuffle yang mendekati tujuh kali menjadi pertanyaan tersendiri mengenai arah dan konsistensi pemerintahan.

Baca Juga :  Mantan Orang Dekat William Soeryadjaya Minta Perlindungan ke Prabowo soal Utang Rp20 Miliar

Soroti Rotasi Pejabat

Heru menilai sejumlah pergantian jabatan justru memperlihatkan adanya perputaran posisi di antara tokoh-tokoh yang sebelumnya telah menduduki jabatan strategis.

Ia mencontohkan pergantian posisi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) dan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam). Menurutnya, pola tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana reshuffle benar-benar ditujukan untuk memperbaiki kinerja pemerintahan.

Heru juga menyoroti penempatan sejumlah tokoh yang memiliki latar belakang politik pada posisi strategis pemerintahan. Ia menilai keputusan semacam itu tidak dapat dilepaskan dari dinamika koalisi dan kebutuhan menjaga dukungan politik.

Selain itu, ia menyinggung penunjukan kembali Luky Alfirman ke jabatan Wakil Menteri Keuangan setelah sebelumnya diberhentikan dari posisi Direktur Jenderal Anggaran oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Bagi Heru, rangkaian pergantian tersebut menjadi bahan untuk mempertanyakan konsistensi kebijakan penataan birokrasi dan pertimbangan di balik penempatan pejabat.

Baca Juga :  Robot AI hingga Kendaraan Medis Jadi Sorotan EDRR 2026 di Jakarta

Pertanyakan Dampak bagi Masyarakat

Heru berpandangan bahwa keberhasilan reshuffle tidak semestinya hanya diukur dari jumlah pejabat yang diganti atau posisi yang dirotasi. Hal yang lebih penting, menurut dia, adalah dampaknya terhadap pelaksanaan program pemerintah dan kesejahteraan masyarakat.

Ia juga menyinggung angka kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo yang disebut berada pada kisaran 51,1 hingga 79,3 persen berdasarkan sejumlah survei pada periode Juli–September 2026.

Namun, rentang angka tersebut perlu dibaca berdasarkan hasil masing-masing lembaga survei, metode penelitian, jumlah responden, serta waktu pengambilan data. Angka dari survei yang berbeda tidak dapat dibandingkan secara langsung tanpa memperhatikan metodologinya.

Menurut Heru, evaluasi terhadap kinerja pemerintahan perlu berfokus pada hasil kebijakan yang dirasakan masyarakat, bukan semata-mata pada perubahan susunan kabinet.

Dinamika Politik dan Kompromi Kekuasaan

Lebih jauh, Heru menilai reshuffle kabinet juga berkaitan dengan upaya menjaga keseimbangan dukungan politik di lingkungan pemerintahan.

Ia mempertanyakan apakah perombakan tersebut benar-benar menjadi langkah penyegaran birokrasi atau justru lebih banyak berfungsi sebagai sarana mengakomodasi kepentingan politik.

Baca Juga :  Inovasi Keren dari Bekasi! Gerigi Denish Ubah Cara Anak Sekolah Jaga Gigi Sehat

Dalam pandangannya, penempatan kembali sejumlah tokoh pada jabatan strategis menunjukkan bahwa pertimbangan politik masih menjadi faktor penting dalam penyusunan pemerintahan.

Heru pun mengaitkan dinamika tersebut dengan hubungan politik antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Ia menilai pergantian jabatan tidak serta-merta menghilangkan pengaruh tokoh-tokoh yang sebelumnya memiliki posisi penting dalam pemerintahan.

Meski demikian, penilaian mengenai motif politik di balik keputusan reshuffle tersebut merupakan pandangan Heru dan perlu dibedakan dari alasan resmi pemerintah dalam menetapkan pejabat.

Pada akhirnya, Heru menekankan bahwa perombakan kabinet perlu diikuti peningkatan kinerja yang terukur. Tanpa perubahan nyata dalam pelaksanaan kebijakan, reshuffle berulang berisiko menimbulkan pertanyaan publik mengenai efektivitas penataan pemerintahan.

Heru Subagia merupakan penggagas Parlemen Bayangan Indonesia Pasti dan alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sumber: Opini Heru Subagia, RMOLJABAR.

Follow WhatsApp Channel rakyatjabarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rocky Gerung Jadi Wantimpres Prabowo, Heru Subagia Soroti Independensi dan Efektivitas
Ahmad Hudori: Kepemimpinan Jenderal Suyudi Jadi Momentum Reformasi Polri
500 Pemuda Berkumpul di Jakarta, GPPN Dorong Kolaborasi dan Jaga Kebinekaan
GIFA-METEC Indonesia 2026 Berakhir, 6.000 Pelaku Industri Intip Teknologi Masa Depan
XLSMART Borong 4 Penghargaan Nasional, dari Bisnis hingga Pemberdayaan Perempuan
XLSMART Rekrut 850 Talenta Muda, Target Tembus 1.000 Orang hingga Akhir 2026
Tak Perlu Turun dari Kasur, Vasaka Hotel Jakarta Punya Cara Baru Nikmati Sarapan
Perdana di Automechanika Jakarta, Schaeffler Buka Gebrakan Baru di Pasar Motor Indonesia

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:41 WIB

Rocky Gerung Jadi Wantimpres Prabowo, Heru Subagia Soroti Independensi dan Efektivitas

Jumat, 2 Oktober 2026 - 14:48 WIB

Reshuffle Kabinet Prabowo Hampir 7 Kali, Heru Subagia Soroti Kompromi Kekuasaan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Ahmad Hudori: Kepemimpinan Jenderal Suyudi Jadi Momentum Reformasi Polri

Rabu, 30 September 2026 - 20:14 WIB

500 Pemuda Berkumpul di Jakarta, GPPN Dorong Kolaborasi dan Jaga Kebinekaan

Selasa, 29 September 2026 - 12:40 WIB

GIFA-METEC Indonesia 2026 Berakhir, 6.000 Pelaku Industri Intip Teknologi Masa Depan

Berita Terbaru