Jawa Barat – Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin, menyampaikan salam perpisahan di depan ribuan kader Nahdlatul Ulama (NU) pada peringatan Harlah NU ke-102 di Indramayu, Rabu (12/2/2025).
Dalam pidatonya, Bey mengungkapkan rasa hormatnya atas peran NU sebagai penjaga moderasi beragama dan menyatakan masa jabatannya akan berakhir pada 20 Februari 2025.
Bey Machmudin mengungkapkan, kehadirannya di acara Harlah NU ke-102 bukan hanya sebagai bentuk apresiasi, tetapi juga sebagai momen pamitan setelah 17 bulan memimpin Jawa Barat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Izinkan saya pamit karena masa tugas saya akan berakhir pada 20 Februari 2025. Bagi saya, ini bukan sekadar perjalanan birokrasi, melainkan sebuah kehormatan besar mengabdi di tanah Pasundan selama 17 bulan,” ujarnya di Aula Asrama Haji, Kabupaten Indramayu, disambut tepuk tangan ribuan hadirin.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan NU selama masa jabatannya menjadi bagian penting dalam membangun tatanan sosial inklusif di Jawa Barat.
“NU selalu hadir mendampingi umat, menjaga nilai luhur, dan menjadi penuntun kehidupan,” kata Bey.
Bey juga mengatakan peran NU selama 102 tahun, menjasi organisasi yang mengedepankan akhlakul karimah dan moderasi beragama. Menurutnya, NU telah menjadi pilar utama dalam menciptakan masyarakat mandiri melalui dakwah di pesantren hingga kota besar.
“Perannya tampak jelas dalam membangun tatanan sosial yang inklusif dan adil. Peran inilah yang menjadikan NU pilar penting dalam membangun masyarakat berdaya dan mandiri,” jelasnya.
Acara Harlah NU ke-102 di Jawa Barat diisi dengan istigosah, tausiyah, penampilan musik gambus, serta penyerahan santunan kepada 102 tukang becak sebagai bentuk kepedulian sosial. Bey turut hadir dalam seluruh rangkaian kegiatan, menyapa kader NU dari berbagai wilayah Jabar.
Bey menyatakan, masa jabatannya selama 17 bulan di Jawa Barat adalah pengalaman yang membentuknya secara personal maupun profesional.
Bey Machmudin ditunjuk sebagai Pj Gubernur Jabar pada September 2023, menggantikan posisi Ridwan Kamil. Selama kepemimpinannya, Bey fokus pada program pemerataan pembangunan dan penguatan kolaborasi dengan organisasi masyarakat, termasuk NU.
NU, yang didirikan pada 31 Januari 1926, dikenal sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan jaringan pesantren dan kader di seluruh pelosok negeri. Kehadirannya kerap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengadvokasi isu toleransi dan kesejahteraan sosial. (*)
Penulis : Aldi Salman









