Petani Mangga Majalengka Minim Perhatian Dari Pemerintah

  • Whatsapp
Petani buah Mangga Gedong Gincu Majalengka mengeluhkan minimnya perhatian Pemerintah Daerah (Pemda).

RakyatJabarNews.com. Majalengka – Petani buah Mangga Gedong Gincu Majalengka mengeluhkan minimnya perhatian Pemerintah Daerah (Pemda). Baik itu berupa bimbingan penanaman, produksi, pemasaran hingga mengatasi masalah penyakit Uter-uter (ulat) yang hinggap di ranting pohon.

” Penyakit tersebut hingga kini belum ada obatnya. Bahkan, Dinas Pertanian setempat tidak memiliki solusinya. Petugas hanya menyarankan memotong dahan ranting. Dengan begitu, produksi Mangga jadi menurun, keluh Tari, petani asal Desa Sidamukti, Kecamatan/Kabupaten Majalengka, Senin (10/7/2017).

Bacaan Lainnya

Tari mengaku, untuk tahun ini tidak ada bantuan bibit maupun pupuk. Padahal, Pemda mau menjadikan buah Gedong Gincu sebagai ikon Majalengka, tapi anehnya petaninya kurang diperhatikan. Dia mengusulkan agar diadakan pertemuan minimal tiga bulan sekali dari pemerintah daerah dengan para petani mangga.

” Kami menanam dari mulai pelok (biji mangga) atau bibit yang dibeli dari Rajagaluh, hingga ditanam itu selama tiga tahun menjadi buah dilakukan secara sendiri-sendiri. Kami butuh bantuan tenaga ahli agar hasil tanamannya maksimal,” papar Tari.

Menurut dia, pembeda antara mangga Gedong dengan Gedong Gincu terlihat ketika matang di pohonnya. ” Mangga Gedong Gincu itu matang di pohon, sementara Mangga Gedong biasa tidak,” ucapnya.

Jika dipaksakan matang dengan obat, rasanya berbeda dan cepat membusuk, sedangkan mangga yang matang normal itu rasanya manis.

” Gedong Gincu Indramayu dan Majalengka berbeda. Mangga Indramayu kecil tapi merah. Berbeda dengan Mangga Gedong Gincu Majalengka, besar dan agak kuning di bagian atasnya,” jelas Tari.

Suplayer sekaligus bagian pemasaran Mangga Gedong Gincu, Toko Sari Buah (SB) Desa Sidamukti, Aldi mengatakan menjual Mangga ke Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi, Bandung, Tasik, Ciamis, Timur Tengah hingga ke Arab Saudi.

” Pemasaran hingga keluar negeri hasil relasi dan kerja keras kami. Pemda tidak menyediakan ruang maupun target pasar yang harus dipenuhi,” ungkap Aldi.

Setiap hari, dia menjual Mangga Gedong Gincu  20 hingga 30 ton. Sisanya 40 ton dijual ke swalayan dan supermarket. Harganya dibandrol Rp40 ribu per kg.(red/rjn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *