Prof. Dhani juga menekankan bahwa manusia sebagai makhluk beragama tidak lepas dari kapasitas akalnya.
“Dalam agama, akal memiliki posisi sentral. Tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal. Karena itu, nilai-nilai keagamaan hanya dapat dihayati oleh mereka yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang kuat,” katanya.
Ia menambahkan, BMBPSDM terus berupaya meningkatkan kapasitas SDM Kemenag agar mampu menjaga visi dan misi tersebut. Salah satu cirinya adalah terwujudnya manusia unggul—mereka yang mampu mengoptimalkan potensi akal dan nurani.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu juga mengurai empat aspek kecerdasan manusia yang harus dikembangkan: kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Dalam perspektif Islam, manusia dibekali kemampuan berpikir, hati yang peka, empati sosial, dan keimanan.
“Empat aspek ini harus terus diberdayakan agar manusia bisa hidup damai, menjaga harmoni sosial, dan merawat bumi sebagai rumah bersama,” tegasnya.
Tak hanya soal relasi antarmanusia, Prof. Dhani juga menyoroti pentingnya menjaga hubungan antara manusia dan lingkungan.
“Bumi adalah satu-satunya tempat tinggal manusia. Menjaga kelestariannya bukan hanya ajaran agama, tetapi juga wujud kecerdasan manusia,” tuturnya.
Di akhir arahannya, ia menegaskan bahwa pendekatan ekoteologi menjadi sangat penting untuk menjembatani nilai-nilai keagamaan dengan urgensi pelestarian lingkungan dan keberlanjutan hidup.
“Ini bukan hanya tentang doktrin agama. Ini tentang masa depan manusia, peradaban, dan bumi yang kian terancam oleh perubahan iklim, polusi, dan ulah manusia sendiri,” pungkasnya.
Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama antara BMBPSDM Kementerian Agama melalui Balai Litbang Agama Semarang dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhadi Hasan, Direktur Diktis Ditjen Pendidikan Islam Prof. Sahiron, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Prof. Moch. Nur Irwan, Sekretaris Prodi Magister Interdisciplinary Islamic Studies Dr. Subi Nur Isnaini, serta moderator Dr. Nina Mariani Noor. (*)
Halaman : 1 2









