KABUPATEN BEKASI – Kementerian Sosial memperkuat pembinaan karakter dan kedisiplinan siswa Sekolah Rakyat dengan melibatkan lebih dari 1.500 mahasiswa Universitas Pertahanan (Unhan).
Para mahasiswa tersebut akan diterjunkan ke 182 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia selama dua pekan mulai Jumat (9/10/2026). Mereka akan mendampingi siswa yang menjalani pendidikan dengan sistem berasrama.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan, keterlibatan mahasiswa Unhan menjadi bagian dari upaya memperkuat pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pendampingan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan belajar, tetapi juga membantu siswa membangun kebiasaan hidup disiplin dan mandiri selama berada di lingkungan asrama.
Siswa akan dibimbing untuk terbiasa merawat diri, menjaga barang pribadi, merapikan tempat tidur, mengikuti jadwal kegiatan, hingga menjalankan rutinitas harian secara teratur.
“Mahasiswa Unhan selama dua minggu untuk membantu penguatan kedisiplinan daripada anak-anak siswa Sekolah Rakyat,” ujar Gus Ipul dalam kegiatan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Kabupaten Bekasi.
Program tersebut juga melanjutkan pola pendampingan yang sebelumnya dilakukan oleh kadet akademi militer. Para kadet telah memberikan pendampingan kepada siswa Sekolah Rakyat selama satu pekan.
Menurut Gus Ipul, pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Pembentukan karakter, kemandirian, kedisiplinan, serta kepercayaan diri menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Hal itu dinilai penting karena siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan kondisi sosial dan ekonomi yang beragam, terutama keluarga yang masuk kelompok kurang mampu.
Gus Ipul juga mengingatkan agar kondisi keluarga tidak menjadi alasan bagi siswa untuk merasa minder.
Pesan tersebut disampaikan saat seorang siswa Sekolah Rakyat, Aditya Yusuf Mircaus, diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.
Aditya merupakan anak kelima dari lima bersaudara dan berasal dari Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Ia sebelumnya menempuh pendidikan di tingkat SMP sebelum bergabung dengan Sekolah Rakyat.
Dalam dialog tersebut, Aditya menceritakan bahwa ayahnya pernah bekerja sebagai pemasok dan pengantar barang untuk pabrik. Sang ayah meninggal dunia pada 31 Maret 2026 dalam usia 62 tahun.
Sementara itu, ibu Aditya merupakan ibu rumah tangga.
Mendengar cerita tersebut, Gus Ipul meminta Aditya tetap percaya diri dan tidak malu dengan kondisi keluarganya.
“Tidak boleh minder, tidak boleh merasa takut untuk bisa memperkenalkan keluarganya. Tidak usah malu dengan keadaan ibu,” ujarnya.
(*)





















