oleh

Roma vs Juve, ATM vs Real Madrid: Beradaptasi Dalam Kesulitan

RJN, Olahraga – Dini hari yang menyenangkan ketika kamu diajari makna kehidupan dari dua pertandingan sepak bola; Roma vs Juventus dan Real Madrid vs Atletico.

Rasanya seperti membaca puisi. Tentang sebuah peristiwa perubahan yang dialami manusia. Tentang kesedihan-kesedihan yang terus memayungi. Tentang kepahlawanan yang muncul dari pengorbanan. Laga Roma vs Juventus dan Real Madrid vs Atletico Madrid mengajari kamu cara memahami perubahan dan beradaptasi dengan kesulitan.

Komentaror laga Roma vs Juventus memberi sebuah gambaran sesaat sebelum Cristiano Ronaldo menendang penalti. Komentator berkata kalau Juventus seperti turun tanding dengan keyakinan penuh kalau mereka akan menjadi winter champions. Mereka tidak terlalu dominan di babak pertama. Namun, pemain Roma tidak pernah bisa sampai menemukan jaring gawang Si Nyonya Tua.

Keyakinan itu juga terasa dari final Supercopa. Zinedine Zidane sudah sembilan kali masuk final dan tidak pernah kalah. Zidane memang lahir untuk sesuatu yang grande. Dia bukan pelatih dengan kekayaan taktik. Namun, di tangan Zidane, Real Madrid hampir selalu bisa menerjemahkan petunjuk mempertebal mental.

Pengalaman, mental, dan keyakinan membuat Real Madrid sangat sulit dikalahkan di momen-momen penting. Real Madrid akan bermain buruk sepanjang babak knockout. Namun, di laga puncak, mereka selalu dominan. Tiga gelar Liga Champions tiga kali berturut-turut memberi gambaran paling jernih.

Real Madrid bukannya tidak pernah terjebak dalam kesulitan. Bukan hanya Juventus yang punya mantra lo spirito Juve, Real Madrid juga memilikinya. Salah satu final Liga Champions harus diselesaikan dengan babak tambahan. Dari posisi tertinggal 0-1 hingga menit 89, Real Madrid berhasil menyamakan kedudukan di detik terakhir lalu meledak di babak tambahan.

Lawannya sama seperti final Supercopa, Atletico Madrid. Keyakinan untuk tidak kalah itu masih tidak goyah juga dari diri Real Madrid. Federico Valverde, jebolan akademi Penarol itu tahu betul apa yang dibutuhkan untuk menang perang. Dia mengorbankan dirinya demi menjaga keperawaan gawang Real Madrid. Tekelnya di detik akhir menggagalkan sprint berbahaya Alvaro Morata.

Valverde dihadiahi kartu merah, Real Madrid bermain dengan 10 orang. Namun, final itu mengganjarnya dengan status man of the match. Tekel dari belakang itu mendapat apresiasi dari Diego Simeone, pelatih Atletico.

Dia akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Valverde. Pun Zidane, mengapresiasi pengorbanan Valverde. Padahal, kita tahu yang Valverde lakukan tidak profesional.

Namun, itulah bentuk kepahlawanan. Tidak mungkin putih bersih di mata orang lain. Tetapi bermakna sangat dalam bagi fans Real Madrid. Mengajarimu bahwa akan ada dua sisi mata uang di kehidupan ini. Mengajarimu bahwa final tidak melulu ditentukan oleh kecanggihan taktik, melainkan kekuatan tekad.

Juara sebuah turnamen tidak melulu ditentukan oleh betapa canggihnya sebuah taktik yang dipakai. Terkadang, keyakinan diri itu yang menjadi perbedaan. Saya yakin, ungkapan win ugly itu sepenuhnya diciptakan khusus untuk Juventus. Setelah unggul 2-0 dari Roma, mereka kehilangan kontrol laga. Namun, mereka tak pernah kehilangan kontrol akan kemenangan, seperti Real Madrid.

Roma sendiri tengah dalam periode mendung. Setelah membuka 2020 dengan kekalahan dari Torino, il Lupi menjamu Juventus di tempat yang sama, Stadio Olimpico. Di mata saya, Roma sama seperti Juventus. Mereka turun dengan keyakinan kalau mendung itu bisa digiring pergi. Anak-anak muda mereka bermain dengan keyakinan.

Namun, seperti selarik elegi, perubahan itu dilewati dengan cara paling pahit. Kesalahan di tengah detail kecil sebuah laga membuat mereka tertinggal 2-0. Namun, tidak ada rasa putus asa dari cara mereka menendang bola kemudian. Adalah Nicolo Zaniolo yang untuk kesekian kali meyakinkan saya kalau pemain muda Roma itu ditakdirkan untuk hal-hal besar.

Zaniolo, bagi saya, adalah seorang pembeda. Di tengah sekumpulan pemain Roma yang lambat, dia menginjeksikan kecepatan dan keteguhan untuk terus mencoba. Sebuah momen menggambarkan itu semua.

Menerima bola di depan kotak penalti sendiri, dia berkelit dari dua pemain Juventus. Zanilo melakukan penetrasi secara vertikal. Sebuah garis lurus seperti terbuka untuk dirinya sendiri. Detik demi detik itu kembali mengingatkan saya akan kecerdasan Daniel Fonseca, si pencari ruang. Dia memberi warna berbeda.

Namun, satu momen magis itu juga yang membuat Zaniolo akan meninggalkan Roma dalam waktu yang lama. Satu momen sebelum masuk kotak penalti Juventus, badan Zanilo ditabrak oleh Matthijs De Ligt. Dia jatuh dengan lutut kanan membentur tanah. Setelah laga, setelah pemeriksaan, Zaniolo menderita cedera ACL. Salah satu cedera paling menyebalkan di sepak bola.

Cengiz Under masuk menggantikan Zaniolo. Namun, momen of magic yang ditawarkan Zaniolo tidak pernah terlihat lagi. Roma dipaksa beradaptasi dengan perubahan. Dipaksa untuk sadar kalau mendung itu belum akan bergeser.

Real Madrid kehilangan pemain dengan kebanggaan di dada. Roma kehilangan pemain dengan kesedihan yang terasa.

Roma menipiskan jarak menjadi 2-1. Namun, pada akhirnya, keyakinan Juventus tak goyah. Mereka bermain buruk untuk kesekian kali, tetapi tak tumbang juga pada akhirnya.

Roma mencoba memahami perubahan yang terjadi. Mereka bermain semakin lambat, meskipun ini bukan keputusan yang salah. Juventus bertahan cukup dalam setelah Merih Demiral cedera dan kemungkinan absen dalam waktu yang lama. Juventus, hingga akhir, memang tak pernah melepaskan laga.

Real Madrid dan Juventus menegaskan makna klub besar. Mereka tak selalu indah di atas lapangan. Namun, mereka punya sesuatu untuk mengakhiri laga dengan ucapan syukur. Sementara itu, Roma dan Atletico memberi gambaran betapa butuh kerja sangat keras untuk menggeser mendung yang memayungi.

Dini hari yang menyenangkan ketika kamu diajari makna kehidupan dari dua pertandingan sepak bola.

(ziz/rjn)

Komentar

News Feed